Jumat, 18 Juni 2010

plebitis

plebitis
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Rumah sakit merupakan suatu tempat dimana orang yang sakit dirawat dan ditempatkan dalam ruangan yang berdekatan atau antara satu tempat tidur dengan tempat tidur lainnya. Di tempat ini pasien mendapatkan terapi dan perawatan untuk dapat sembuh, dimana enam puluh persen pasien yang di rawat di Rumah Sakit menggunakan infus. Penggunaan infus terjadi disemua lingkungan keperawatan Kesehatan seperti perawatan akut, perawatan emergensi, perawatan ambulatory dan perawatan kesehatan dirumah, (Schffer, At.All, 1996).
Infus adalah salah satu cara atau bagian dari pengobatan untuk memasukkan obat atau vitamin kedalam tubuh pasien. Infeksi dapat menjadi komplikasi utama dari terpi intra vena ( IV ) terletak pada system infus atau tempat menusukkan vena (darmawan, 2008). Plebitis merupakan inflamasi vena yang disebabkan baik dari iritasi kimia maupun mekanik yang sering disebabkan oleh komplikasi dari terapi intravena. Plebitis dikarakteristikan dengan adanya dua atau lebih tanda nyeri, kemerahan, bengkak, indurasi, dan teraba mengeras di bagian vena yang terpasang kateter intravena, (La rocca, 1998). Plebitis dapat menyebabkan thrombus yang selanjutnya menjadi tromboplebitis, perjalanan penyakit ini biasanya jinak, tapi walaupun demikian jika thrombus terlepas kemudian diangkut dalam aliran darah dan masuk kejantung maka dapat menimbulkan gumpalan darah seperti katup bola yang bisa menyumbat atrioventrikular secara mendadak dan menimbulkan kematian, (Sylvia, 1995).
Jumlah kejadian plebitis menurut Distribusi Penyakit Sistem Sirkulasi Darah Pasien Rawat Inap, Indonesia Tahun 2006 berjumlah 744 orang (17,11%), (Depkes, RI, 2006)
Kejadian plebitis di ruang rawat penyakit dalam di RSCM Jakarta. Sebanyak 109 pasien yang mendapat cairan intravena. Ditemukan 11 kasus flebitis, dengan rata-rata kejadian 2 hari setelah pemasangan, area pemasangan di vena metacarpal, dan jenis cairan yang digunakan adalah kombinasi antara Ringer Laktat dan Dekstrosa 5%, (Pujasari, 2002).
Angka kejadian plebitis di RSU Mokopido Tolitoli pada tahun 2006 mencapai 42,4%, (Fitria, 2007). Penelitian lain yang dilakukan di RS DR. Sarjito Yogyakarta ditemukan 27,19% kasus plebitis pasca pemasangan infuse, (Baticola, 2002). Penelitian Widianto (2002) menemukan kasus plebitis sebanyak 18,8% di RSUD Purwokerto. Dan di instalasi rawat inap RSUD Dr. Soeradji Tirtonegoro klaten tahun 2002 diemukan kejadian plebitis sebanyak 26,5% kasus, (Saryati, 2002).
Secara sederhana plebitis berarti peradangan vena. Flebitis berat hampir selalu diikuti bekuan darah, atau trombus pada vena yang sakit. Banyak faktor telah dianggap terlibat dalam patogenesis flebitis, antara lain: faktor-faktor kimia seperti obat atau cairan yang iritan, faktor-faktor mekanis seperti bahan, ukuran kateter, lokasi dan lama kanulasi serta agen infeksius. Faktor pasien yang dapat mempengaruhi angka flebitis mencakup, usia, jenis kelamin dan kondisi dasar (yakni. diabetes melitus, infeksi, luka bakar). Suatu penyebab yang sering luput perhatian adalah adanya mikropartikel dalam larutan infus dan ini bisa dieliminasi dengan penggunaan filter. (Darmawan,2008).
Teknik sterilisasi di Rumah sakit sangat berpengaruh dengan tingkat kejadian phlebitis misalnya kurang sterilnya pada saat melakukan tindakan keperawatan pada pasien yang sedang dirawat, misalnya pada saat pemasangan infus. Apabila ada saat
melakukan pemasangan infuse alat-alat yang akan digunakan tidak menggunakan teknik sterilisasi akan mengakibatkan phlebitis seperti pembengkakan, kemerahan, nyeri disepanjang vena. Hal ini sangat merugikan bagi pasien karena infus yang seharusnya dilepas setelah 72 jam kini harus dilepas sebelum waktunya karena disebabkan oleh alat-alat bantu yang digunakan untuk memasang infus tidak menggunakan teknik sterilisasi, (Klikharry, 2006). Hasil penelitian Pasaribu, (2006), di Rumah Sakit Haji Medan menyimpulkan bahwa yang paling dominan menimbulkan kejadian phlebitis adalah sikap perawat yang kurang baik pada saat melaksanakan pemasangan infus (OR=2.771).
Pemberian obat melalui wadah cairan intravena merupakan cara memberikan obat dengan menambahkan atau memasukan obat ke dalam wadah cairan intravena yang bertujuan untuk meminimalkan efek samping dan mempertahankan kadar terapeutik dalam darah, (Mulh, 2006). Dalam penyuntikan obat atau pemberian infus IV, dan pengambilan sampel darah) merupakan jalan masuk kuman yang potensial kedalam tubuh, pH dan osmololaritas cairan infuse yang ekstrim selalu diikuti resiko phlebitis tinggi, (darmawan, 2008). Infeksi phlebitis dapat terjadi melalui cairan intravena dan jarum suntik yang digunakan atau di pakai berulang-ulang dan banyaknya suntikan yang tidak penting misalnya penyuntikan antibiotika, (Simonsen, 1999). Menurut Binvko, 2003. Semakin jauh jarak pemassangan terapi intravena maka risiko untuk terjadi plebitis akan semakin meningkat. Faktor lain yang akan meningkatkan risiko terjadinya phlebitis adalah cairan dengan osmolalitas tinggi dan pemakaian balutan konvensional.
Berdasarkan data yang di peroleh di sub bagian rekam medik RSUD.M.Yunus Bengkulu angka kejadian phlebitis pada tahun 2008 berjumlah 116 dan pada tahun 2009 orang terkena phlebitis berjumlah 122 orang terdiri dari ruang melati berjumlah 49 orang, seruni berjumlah 31 orang, kemuning berjumlah 9 orang, VIP berjumlah 8 orang, ICU berjumlah 5 orang, ICCU berjumlah 2 orang, IGD berjumlah 12 orang, mawar berjumlah 6 orang dan jumlah terbesar angka kejadian phlebitis terdapat di ruangan melati.
Berdasarkan survey awal dari tanggal 26–29 november yang penulis lakukan diruangan melati RSUD.M Yunus Bengkulu.ditemukan dari 25 pasien yang telah dipasang infus terdapat 13 pasien (52%) yang sudah menampakan adanya tanda-tanda plebitis seperti peradangan disekitar tusukan jarum infus, kemerahan dan nyeri di sepanjang vena.
Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik dan berkeinginan untuk melakukan peneliti dengan judul hubungan tehnik pemasangan infuse dan cara pemberian obat dengan kejadian phlebitis di RSUD M. Yunus Bengkulu.

B. Rumusan masalah
Berdasarkan uraian di atas masalah penelitian adalah tingginya angka kejadian plebitis di ruang melati RSUD.M.Yunus Bengkulu, sedangkan rumusan masalah adalah “Bagaimanakah hubungan tehnik pemasangan infus dan cara pemberian obat dengan kejadian phlebitis di RSUD.M.Yunus Bengkulu,”

C. Tujuan
1.Tujuan Umum
Untuk mengetahui adakah hubungan tehnik pemasangan infuse dan cara pemberian obat dengan kejadian phlebitis.
2.Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran tehnik pemasangan infuse pada pasien dengan pemasangan infus di RSUD.M.Yunus Bengkulu.
b. Untuk mengetahui gambaran cara pemberian obat pada pasien dengan pemasan gan infus di RSUD.M.Yunus Bengkulu.
c. Untuk mengetahui gambaran kejadian phlebitis di RSUD.M.Yunus Bengkulu.
d. Untuk mengetahui hubungan antara tehnik pemasangan infuse dengan kejadian plebitis pada pasien pemasangan infuse di RSUD.M.Yunus Bengkulu.
e. Untuk mengetahui hubungan antara cara pemberian obat dengan kejadian plebitis pada pasien pemasangan infus di RSUD.M.Yunus Bengkulu.

D. Manfaat Penelitian
1. Untuk RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai hubungan tehnik pemasangan infuse dan cara pemberian obat dengan kejadian phlebitis dan sehingga bahan penelitian dapat menurunkan angka terjadinya phlebitis di RSUD.M.Yunus Bengkulu.
2. Untuk Akademis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah yang dapat bermanfaat dalam materi pembelajaran dan sebagai sumber pustaka yang berhubungan dengan plebitis
3. Untuk Peneliti Lain
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai data dasar untuk penelitian serupa yang berhubungan dengan plebitis dan diharapkan akan dikembangkan lebih lanjut.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar Therapi IntraVena (infuse)
1. Pengertian
Therapi Intra vena adalah salah satu cara atau bagian dari pengobatan
Untuk memasukan obat atau vitamin kedalam tubuh pasien, (Darmawan,2008).
2. Tujuan Utama Terapi Intravena
a. Mengembalikan dan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh
b. Memberikan obat-obatan dan kemoterapi
c. Transfusi darah dan produk darah
d. Memberikan nutrisi parenteral dan suplemen nutrisi
3. Keuntungan dan Kerugian Terapi Intravena
a. Keuntungan:
1) Efek terapeutik segera dapat tercapai karena penghantaran obat ke tempat target berlangsung cepat.
2) Absorbsi total memungkinkan dosis obat lebih tepat dan terapi lebih dapat diandalkan
3) Kecepatan pemberian dapat dikontrol sehingga efek terapeutik dapat dipertahankan maupun dimodifikasi
4) Rasa sakit dan iritasi obat-obat tertentu jika diberikan intramuskular atau subkutan dapat dihindari
5) Sesuai untuk obat yang tidak dapat diabsorbsi dengan rute lain karena molekul yang besar, iritasi atau ketidakstabilan dalam traktus gastrointestinalis
b. Kerugian
1) Tidak bisa dilakukan “drug Recall” dan mengubah aksi obat tersebut sehingga resiko toksisitas dan sensitivitas tinggi
2) Kontrol pemberian yang tidak baik bisa menyebabkan “speeed Shock”
3) Komplikasi tambahan dapat timbul, yaitu:
a) Kontaminasi mikroba melalui titik akses ke sirkulasi dalam periode tertentu
b) Iritasi Vaskular, misalnya phlebitis kimia
c) Inkompabilitas obat dan interaksi dari berbagai obat tambahan
4. Prosedur Pemasangan Therapi Intravena
Prosedur pemasangan therapy intravena menurut Depkes RI (2005)
a. Kriteria persiapan
1) Cuci tangan
2) Standar infus
3) Caiaran yang akan diberikan
4) Infus set
5) Kapas
6) Alkohol 70%
7) Kasa steril
8) Gunting
9) Plester
10) Pengalas
11) Bengkok satu buah.
b. Kriteria pelaksanaan
1) cuci tangan
2) pasien diberi penjelasan
3) posisi pasien supine (terlentang)
4) siapkan area yang akan dipasang
5) memeriksa ulang cairan yang akan diberikan
6) keluarkan udara dari selang infus
7) menentukan vena yang akan ditusuk
8) pasang pengalas
9) desinfeksi area yang akan ditusuk dengan diameter 5-10 cm
10) menusuk jarum infuse / albocath pada vena yang telah ditentukan
11) melakukan fiksasi
12) menutup bagian yang akan ditusuk dengan kasa steril
13) menghitung jumlah cairan sesuai dengan kebutuhan
14) memperhatikanreaksi pasien
15) catat waktu pemasangan, jenis cairan dan jumlah tetesan
16) pasen dirapikan
17) alat-alat dibereskan
18) cuci tangan
5. Ukuran Jarum Therapi Intrvena (Infuse)
Menurut Potter (1999) ukuran jarum infuse yang biasa digunakan adalah :
1) Ukuran 16
Guna: Dewasa, Bedah Mayor, Trauma, Apabila sejumlah besar cairan perlu diinfuskan
Pertimbangan Perawat: Sakit pada insersi, Butuh vena besar
2) Ukuran 18
Guna: Anak dan dewasa, Untuk darah, komponen darah, dan infus kental lainnya
Pertimbangan Perawat: Sakit pada insersi, Butuh vena besar
3) Ukuran 20
Guna: Anak dan dewasa, Sesuai untuk kebanyakan cairan infus, darah, komponen darah, dan infus kental lainnya
Pertimbangan Perawat: umum dipakai
4) Ukuran 22
Guna: Bayi, anak, dan dewasa (terutama usia lanjut), Cocok untuk sebagian besar cairan infus
Pertimbangan Perawat: Lebih mudah untuk insersi ke vena yang kecil, tipis dan rapuh, Kecepatan tetesan harus dipertahankan lambat, Sulit insersi melalui kulit yang keras
5) Ukuran 24, 26
Guna: Nenonatus, bayi, anak dewasa (terutama usia lanjut), Sesuai untuk sebagian besar cairan infus, tetapi kecepatan tetesan lebih lambat
Pertimbangan Perawat: Untuk vena yang sangat kecil, Sulit insersi melalui kulit keras
6. Hal-hal yang perlu diperhatikan ( kewaspadaan)
a. Ganti lokasi tusukan setiap 48-72 jam dan gunakan set infus baru
b. Ganti kasa steril penutup luka setiap 24-48 jam dan evaluasi tanda infeksi
c. Observasi tanda / reaksi alergi terhadap infus atau komplikasi lain
d. Jika infus tidak diperlukan lagi, buka fiksasi pada lokasi penusukan
e. Kencangkan klem infus sehingga tidak mengalir
f. Tekan lokasi penusukan menggunakan kasa steril, lalu cabut jarum infus perlahan, periksa ujung kateter terhadap adanya embolus
g. Bersihkan lokasi penusukan dengan anti septik. Bekas-bekas plester dibersihkan memakai kapas alkohol atau bensin (jika perlu).
h. Gunakan alat alat-alat yang steril saat pemasangan, dan gunakan tehnik sterilisasi dalam pemasangan infus.
i. Hindarkan memasang infus pada daerah-daerah yang infeksi, vena yang telah rusak, vena pada daerah fleksi dan vena yang tidak stabil.
j. Mengatur ketepatan aliran dan regulasi infus adalah tanggung jawab perawat. Masalah yang dapat muncul apabila perawat tidak memperhatikan regulasi infus adalah hipervolemia dan hipovolemia. Untuk mengatur tetesan infus, perawat harus mengetahui volume cairan yang akan dimasukkan dan waktu yang dibutuhkan untuk menghabiskan cairan infus. Penghitungan cairan yang sering digunakan adalah penghitungan millimeter perjam (ml/h) dan penghitungan tetes permenit. Perhitungan Tetesan Infus dapat dibagi menjadi 2 yaitu makro dan mikro.
1. Tetesan Makro : 1cc = 15 tetes
Rumus :
Jumlah cairan yang dimasukkan (cc)
Tetesan/menit =
Lamanya infus (jam) x 4

2. Tetesan Mikro : 1cc = 60 tetes
Rumus :
Jumlah cairan yang dimasukkan (cc)
Tetesan/menit =
Lamanya infus (jam)

7. Komplikasi
a. Hematoma
Yakni darah mengempul dalam jaringan tubuh akibat pecahnya pembuluh darah arteri vena atau kapiler, terjadi akibat penekanan yang kurang tepat saat memasukan jarum atau tusukan berulang pada pembuluh darah.
b.Infiltrasi
Yakni masuknya cairan therapy intravena kedalam jaringan sekitar (bukan pembuluh darah), terjadi akibat ujung jarum therapi intravena melawan darah.
c. Tromboplebitis
Tromboflebitis menggambarkan adanya bekuan ditambah peradangan dalam vena yang disebabkan mikropartikel yang terbentuk bila partikel obat tidak larut sempurna selama pencampuran, cairan yang mempunyai pH dan omolaritas tinggi, mikrobakterial yang disebabka pemasangan dan alat alat yang tidak steril dan pemilihan jenis infus juga merupakan penyebab tromboplebitis. Karakteristik tromboflebitis adalah adanya nyeri yang terlokalisasi, kemerahan, rasa hangat, dan pembengkakan di sekitar area insersi atau sepanjang vena, imobilisasi ekstremitas karena adanya rasa tidak nyaman dan pembengkakan, kecepatan aliran yang tersendat, demam, malaise, dan leukositosis.
d. Emboli udara
Yakni masuknya udara kedalam sirkulasim darah,terjadi akibat masuknya udara yang ada dalam cairan therapi intravena kedalam pembuluh darah.(sehat grup,2007)

B. Cara Pemberian Obat
1. Pengertian
Pemberian obat yang aman dan akurat merupakan salah satu tugas terpenting pegrawat. Obat adalah alat utama terapi yang digunakan dokter untuk mengobati klien yang memiliki masalah kesehatan. ( Potter, 2005).
Pemberian obat melalui wadah cairan intravena merupakan cara pemberian obat dengan menambahkan atau memasukkan obat kedalam wadah cairan intra vena yang bertujuan untuk meminimalkan efek samping dan mempertahankan terapeutik dalam darah, (Hidayat, 2006)
2. Syarat pemberian obat
Menurut Potter dan Perry, (2006) ada 6 persyaratan atau hal yang perlu diperhatikan sebelum pemberian obat yaitu dengan prinsip 6 benar :
a. Tepat Obat
Sebelum mempersiapkan obat ketempatnya harus memperhatikan kebenaran obat sebanyak 3 kali yaitu ketika memindahkan obat dari tempat penyimpanan obat, saat obat diprogramkan, dan saat mengembalikan ketempat penyimpanan.
b. Tepat Dosis
Untuk menghindari kesalahan pemberian obat, maka penentuan dosis harusdiperhatikan dengan menggunakan alat standar seperti obat cair harus dilengkapi alat tetes, gelas ukur, spuit atau sendok khusus, alat untuk membelah tablet dan lain-lain sehingga perhitungan obat benar untuk diberikan kepada pasien.
c. Tepat pasien
Obat yang akan diberikan hendaknya benar pada pasien yang diprogramkan dengan cara mengidentifikasi kebenaran obat dengan mencocokkan nama, nomor register, alamat dan program pengobatan pada pasien.
d. Tepat cara pemberian obat
Dalam pemberian obat harus diperhatikan cara pemberian obat secara teliti dan hendaknya benar dalam cara pemberiannya, hal ini untuk menghindari kesalahan yang akan berakibat fatal. Cara pemberian obat harus benar apakah obat harus diberikan secara iv, sc, im, oral, sublingual, atau tropical.
e. Tepat waktu
Pemberian obat harus benar-benar sesuai dengan waktu yang di programkan , karena berhubungan dengan kerja obat yang dapat menimbulkan efek terapi dari obat.
f. Tepat pendokumentasian.
Setelah obat itu diberikan, harus didokumentasikan, dosis, rute, waktu dan oleh siapa obat itu diberikan. Bila pasien menolak meminum obatnya, atau obat itu tidak dapat diminum, harus dicatat alasannya dan dilaporkan.
3. Pengertian injeksi
Injeksi adalah sediaan streil berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lender injeksi. Injeksi dibuat dengan melarutkan, mengemulsikan atau mensuspensikan sejumlah obat ke dalam sejumlah pelarut dan disisipkan dalam wadah takaran tunggal atau ganda. (Informasi obat, 2009)
4. Persiapan pemberian obat melalui intravena (IV)
a. Persiapan alat
1) Spuit dan jarum steril dalam tempatnya
2) Obat-obatan yang diperlukan
3) Nirbekken / bengkok
4) Kapas alcohol dalam tempatnya
5) Perlak dan alasnya
b. Persiapan pasien
pasien diberi penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan
5. Prosedur kerja pemberian obat melaui iv
1) Cuci tangan
2) Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
3) Periksa identitas pasien dan ambil obat kemudian masukkan kedalam sepuit
4) Cari tempat penyuntikan obat pada bagian karet pada selang infuse.
5) Lakukan dis infeksi dengan kapas alcohol dan stop aliran infus
6) Lakukan penyuntikan dengan memasukkan jarum spuit hingga menembus bagian tengah dan masukan obat perlahan – lahan keselang intra vena
7) Setelah selesai tarik spuit
8) Periksa kecepatan infuse dan observasi kecepatan obat
9) Cuci tanggan
10) Catat obat yang telah dibetrikan dan dosisnya, (Depkes RI, 2005)
6. Obat – obatan yang bisa di berikan melalui IV.
Jenis obat – obatan yang bisa di berikan melalui antara lain seperti: Golongan anti biotic ( Ampicicilin, amoxcicilin, clorampenicol, dll) ,anti diuretic (furosemid, lasix dll) anti histamin atau setingkatnya,
(Adrenalin, dexamethasone ,dypenhydramin). Karena kadar puncak obat dalam darah perlu segera dicapai, sehingga diberikan melalui injeksi bolus (suntikan langsung ke pembuluh balik/vena). Peningkatan cepat konsentrasi obat dalam darah tercapai. Misalnya pada orang yang mengalami hipoglikemia berat dan mengancam nyawa, pada penderita diabetes mellitus. Alasan ini juga sering digunakan untuk pemberian antibiotika melalui infus/suntikan, namun perlu diingat bahwa banyak antibiotika memiliki bioavalaibilitas oral yang baik, dan mampu mencapai kadar adekuat dalam darah untuk membunuh bakteri.
Dalam pemberian antibiotik melalui IV perlu diperhatikan dalam pencampuran serbuk antibiotik tersebut, hal ini untuk menghindari terjadinya komplikasi seperti tromboplebitis karena kepekatan dan tidak tercampurnya obat secara baik. Biasanya untuk mencampur serbuk antibiotik / obat-oabat yang lain yang diberikan secara IV adala cairan aquades dengan perbandingan 4cc larutan aquades berbanding 1 vial antibiotik atau 6cc larutan aquades berbanding 1 vial serbuk antibiotic. (Informasi Obat,2009)
C. Konsep Plebitis
1. Pengertian
Phlebitis merupakan inflamasi vena yang disebabkan baik oleh iritasi kimia maupun mekanik yang sering disebabkan oleh komplikasi dari terapi intravena, Plebitis dikarateristikkan dengan adanya dua atau lebih tanda nyeri, kemerahan, kemerahan, bengkak, indurasi dan terba mengeras di bagian vena yang terpasang kateter intra vena (La Rocca, 1998 ). Plebitis dapat menyebabkan trombus yang selanjutnya menjadi thromboplebitis, perjalanan penyakit ini biasanya jinak, tapi walaupun demikian jika thrombus terlepas dan kemudian diangkut kealiran darah dan masuk jantung maka dapat menimbulkan seperti katup bola yang menyumbat atrioventikular secara mendadak dan menimbulkan kematian (Slyvia, 1995). Hal ini menjadiakan phlebitis sebagai salah satu pemasalahan yang penting untuk dibahas di samping plebitis juga sering ditemukan dalam proses keperawatan ( Jarumi Yati, 2009 ).
2. Penyebab Plebitis
a. Plebitis Kimia
1) pH dan osmolaritas cairan infus yang ekstrem selalu diikuti risiko flebitis tinggi. pH larutan dekstrosa berkisar antara 3 – 5, di mana keasaman diperlukan untuk mencegah karamelisasi dekstrosa selama proses sterilisasi autoklaf, jadi larutan yang mengandung glukosa, asam amino dan lipid yang digunakan dalam nutrisi parenteral bersifat lebih flebitogenik dibandingkan normal saline. Obat suntik yang bisa menyebabkan peradangan vena yang hebat, antara lain kalium klorida, vancomycin, amphotrecin B, cephalosporins, diazepam, midazolam dan banyak obat khemoterapi. Larutan infus dengan osmolaritas > 900 mOsm/L harus diberikan melalui vena sentral.
2) Mikropartikel yang terbentuk bila partikel obat tidak larut sempurna selama pencampuran juga merupakan faktor kontribusi terhadap flebitis. Jadi , kalau diberikan obat intravena masalah bisa diatasi dengan penggunaan filter 1 sampai 5 µm
3) Penempatan kanula pada vena proksimal (kubiti atau lengan bawah) sangat dianjurkan untuk larutan infus dengan osmolaritas > 500 mOsm/L Misalnya Dextrose 5%, NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-Lactate, Dextrose 5%+NaCl 0,9%, produk darah (darah), dan albumin. Hindarkan vena pada punggung tangan jika mungkin, terutama pada pasien usia lanjut, karena akan mengganggu kemandirian lansia.
4) Kateter yang terbuat dari silikon dan poliuretan kurang bersifat iritasi dibanding politetrafluoroetilen (teflon) karena permukaan lebih halus, lebih thermoplastik dan lentur. Risiko tertinggi untuk flebitis dimiliki kateter yang terbuat dari polivinil klorida atau polietilen.
b. Plebitis Mekanis
Flebitis mekanis dikaitkan dengan penempatan kanula. Kanula yang dimasukkan ada daerah lekukan sering menghasilkan flebitis mekanis. Ukuran kanula harus dipilih sesuai dengan ukuran vena dan difiksasi dengan baik.
c. Plebitis Bakterial
Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap flebitis bakteri meliputi:
1) Teknik pencucian tangan yang buruk
2) Kegagalan memeriksa peralatan yang rusak. Pembungkus yang bocor atau robek mengundang bakteri.
3) Teknik aseptik tidak baik
4) Teknik pemasangan kanula yang buruk
5) Kanula dipasang terlalu lama
6) Tempat suntik jarang diinspeksi visual
3. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala phlebitis adalah
a. Nyeri yang terlokalisasi.
b. Pembengkakan.
c. kulit kemerahan timbul dengan cepat di atas vena
d. pada saat diraba terasa hangat
e. panas tubuh cukup tinggi (medicaster,2009)
4. Pencegahan dan mengatasi phlebitis ( Darmawan,2009 )
a. Mencegah flebitis bacterial.
Pedoman ini menekankan kebersihan tangan, teknik aseptik, perawatan daerah infus serta antisepsis kulit. Walaupun lebih disukai sediaan chlorhexidine-2%, tinctura yodium , iodofor atau alkohol 70% juga bisa digunakan.
b. Selalu waspada dan jangan meremehkan teknik aseptik.
Stopcock sekalipun (yang digunakan untuk penyuntikan obat atau pemberian infus IV, dan pengambilan sampel darah) merupakan jalan masuk kuman yang potensial ke dalam tubuh. Pencemaran stopcock lazim dijumpai dan terjadi kira-kira 45 – 50% dalam serangkaian besar kajian.
c. Rotasi kanula
May dkk(2005) melaporkan di mana mengganti tempat (rotasi) kanula ke lengan kontralateral setiap hari pada 15 pasien menyebabkan bebas flebitis. Namun, dalam uji kontrol acak yang dipublikasi baru-baru ini oleh Webster dkk disimpulkan bahwa kateter bisa dibiarkan aman di tempatnya lebih dari 72 jam JIKA tidak ada kontraindikasi. The Centers for Disease Control and Prevention menganjurkan penggantian kateter setiap 72-96 jam untuk membatasi potensi infeksi, namun rekomendasi ini tidak didasarkan atas bukti yang cukup.
d. Aseptic dressing
Dianjurkan aseptic dressing untuk mencegah flebitis. Kasa setril diganti setiap 24 jam.


e. Laju pemberian
Para ahli umumnya sepakat bahwa makin lambat infus larutan hipertonik diberikan makin rendah risiko flebitis. Namun, ada paradigma berbeda untuk pemberian infus obat injeksi dengan osmolaritas tinggi. Osmolaritas boleh mencapai 1000 mOsm/L jika durasi hanya beberapa jam.Durasi sebaiknya kurang dari tiga jam untuk mengurangi waktu kontak campuran yang iritatif dengan dinding vena. Ini membutuhkan kecepatan pemberian tinggi (150 – 330 mL/jam). Vena perifer yang paling besar dan kateter yang sekecil dan sependek mungkin dianjurkan untuk mencapai laju infus yang diinginkan, dengan filter 0.45mm. Kanula harus diangkat bila terlihat tanda dini nyeri atau kemerahan. Infus relatif cepat ini lebih relevan dalam pemberian infus jaga sebagai jalan masuk obat, bukan terapi cairan maintenance atau nutrisi parenteral.
f. Titrable acidity
Titratable acidity dari suatu larutan infus tidak pernah dipertimbangkan dalam kejadian flebitis. Titratable acidity mengukur jumlah alkali yang dibutuhkan untuk menetralkan pH larutan infus. Potensi flebitis dari larutan infus tidak bisa ditaksir hanya berdasarkan pH atau titrable acidity sendiri. Bahkan pada pH 4.0, larutan glukosa 10% jarang menyebabkan perubahan karena titrable acidity nya sangat rendah (0.16 mEq/L).Dengan demikian makin rendah titrable acidity larutan infus makin rendah risiko flebitisnya.
g. Heparin dan hidrokortison
Heparin sodium, bila ditambahkan ke cairan infus sampai kadar akhir 1 unit/mL, mengurangi masalah dan menambah waktu pasang kateter. Risiko flebitis yang berhubungan dengan pemberian cairan tertentu (misal, kalium klorida, lidocaine, dan antimikrobial) juga dapat dikurangi dengan pemberian aditif IV tertentu, seperti hidrokortison. Pada uji klinis dengan pasien penyakit koroner, hidrokortison secara bermakna mengurangi kekerapan flebitis pada vena yg diinfus lidokain, kalium klorida atau antimikrobial . Pada dua uji acak lain, heparin sendiri atau dikombinasi dengan hidrokortison telah mengurangi kekerapan flebitis, tetapi penggunaan heparin pada larutan yang mengandung lipid dapat disertai dengan pembentukan endapan kalsium.
h. In-line filter
In-line filter dapat mengurangi kekerapan flebitis tetapi tidak ada data yang mendukung efektivitasnya dalam mencegah infeksi yang terkait dengan alat intravaskular dan sistem infus
5. Masalah Kejadian Plebitis
a. Akibat phlebitis bagi penderita
Dampak yang terjadi dari infeksi tindakan pemasangan infus (plebitis) bagi pasien merupakan masalah yang serius namun tidak sampai menyebabkan kematian, tetapi banyak dampak yang nyata yaitu tingginya biaya perawatan diakibatkan lamanya perawatan di rumah sakit.

b. Akibat phlebitis bagi masyarakat
Bertambah panjangnya masa rawat penderita , penderita pulang masih menjadi pembawa kuman selama beberapa bulan,daan dapat menularkan kuman pada keluarga maupun masyarakat sekitarnya.

D. Hubungan antara pemasangan terapi intra vena dan pemberian obat dengan kejadian phlebitis.
Plebitis merupakan inflamasi vena yang disebabkan baik oleh iritasi kimia maupun mekanik yang sering disebabkan oleh komplikasi dari terapi intravena. Plebitis dikarakteristikkan dengan adanya dua atau lebih tanda nyeri, kemerahan, bengkak, indurasi dan teraba mengeras di bagian vena yang terpasang kateter intravena (La Rocca, 1998).
Dampak yang terjadi dari infeksi tindakan pemasangan infus (plebitis) merupakan masalah yang serius namun tidak sampai menyebabkan kematian, tetapi banyak dampak yang nyata yaitu tingginya biaya perawatan diakibatkan lamanya perawatan di rumah sakit. Terjadinya angka kejadian plebitis sangat dipengaruhi oleh ketepatan dalam pelaksanaan pemasangan infus. Penelitian Jarumiyati (2009), menunjukkan bahwa ada hubungan antara lama pemasangan kateter intravena dengan kejadian plebitis pada pasien dewasa rawat inap di bangsal menur dan bakung RSUD Wonosari, ini dibuktikan dengan nilai korelasinya 0,007. Begitu juga dengan penelitian Pasaribu, (2006), di Rumah Sakit Haji Medan menyimpulkan bahwa yang paling dominan menimbulkan kejadian phlebitis adalah sikap perawat yang kurang baik pada saat melaksanakan pemasangan infus (OR=2.771).
Selain itu cara pemberian obat melalui iv yang tidak baik atau tidak sesuai SOP juga sangat mempengaruhi angka kejadian plebitis. Hal ini dapat disebabkan oleh tehnik aseptik yang tidak baik saat menyuntikkan obat. Selain itu mikropartikel yang terbentuk bila partikel obat tidak larut sempurna selama pencampuran juga merupakan faktor kontribusi terhadap flebitis.

E. Kerangka Konsep
Berdasarkan uraian diatas yang telah kemukakan sebelumnya maka untuk mengembangkan kerangka pemikiran dalam penelitian ini dimana sebagai variabel dependen adalah kejadian phlebitis dan variabel independen adalah cara pemasangan therapy intravena dan cara penberian obat.di Gambarkan sebagai berikut

F. Hipotesis
Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah
Ha : Ada hubungan antara cara pemasangan therapy intravena dengan kejadian phlebitis di RSUD.M.yunus Bengkulu.
Ha : Ada hubungan antara cara penberian obat dengan kejadian phlebitis di RSUD.M.Yunus Bengkulu.
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian secara deskriktif analitik dengan menggunakan desain kohort yang merupakan rencana penelitian epidemiologis analitis noneksperimental yang didasarkan pada pengamatan sekelompok penduduk tertentu dalam satu jangka waktu tertentu, (Budiarto, Eko. 2003).
Bagan 3.1 Desain penelitian









B. Definisi Operasinal
Tabel 3.1 definisi operasonal
NO Variabel Definisi opersional Alat ukur Cara ukur Hasil ukur Skala ukur
1
a Independen
Cara pemasangan terapi intra vena.
Cara kerja perawat dalam pemasangan infuse.
Check list
Observasi 0. Tidak baik jika nilai <75%
1. Baik jika nilai >75%

Ordinal
b
Cara pemberian obat. Cara pemberian obat dengan cara menambahkan atau memasukkan kedalam wadah cairan intra vena. Check list Observasi 0. Tidak baik jika score < 75%
1. Baik jika score > 75%
Ordinal
2
Dependen
Phlebitis
Infeksi vena baik yang disebabkan oleh iritasi kimia maupun mekanik yang disebabkan oleh komplikasi dari terapi intra vena
Check list
Observasi
0. Phlebitis, jika ditemukan salah satu tanda klinis, seperti bengkak, nyeri, merah, di daerah tempat pemasangan infus, setelah pamasangan infus 1-3 hari.
1. Tidak phlebitis jika tidak ditemukan tanda klinis seperti bengkak, nyeri, merah, di daerah tempat pemasangan infus, setelah pamasangan infus 1-3 hari
Nominal

C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah sebagian dari keseluruhan subjek penelitian yang akan diteliti, (Notoatmojo, 2002). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang di pasang infus di ruang rawat inap melati C2, RSUD. Dr, M. Yunus Bengkulu.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi.(Notoatmojo, 2002). Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian pasien yang di pasang infus yang dihitung dengan rumus.
Z1-α . p . q
n =
(d)2

1,962.0,18.0,82
n=
0,0952

0,56
n=
0,009

n= 62 Responden


Keterangan:
n : Jumlah sampel
Z1-α : Nilai standar normal untuk ,
d : Penyimpangan / resisi = 0,095
q : 1-p
p : Proporsi = 18% di dapat dari angka kejadian plebitis di RSUD purwokerto

D. Tempat Penelitian
Tempat penelitian ini dilakukan di Ruang Melati C2, RSUD, Dr. M. Yunus, Bengkulu.


E. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukukan pada bulan November sampai bulan juli sedangkan pengumpulan data dilakukan pada bulan juni sampai bulan juli 2010

F. Etika Penelitian
Dalam melakukan penelitian, peneliti memandang perlu adanya rekomendasi dari pihak institusi dengan mengajukan permohonan izin kepada instansi tempat penelitian dalam hal ini diajukan kepada Kepala Rumah Sakit atupun Kepala Ruangan yang bersangkutan. Setelah mendapat persetujuan barulah dilakukannya penelitian dengan menekankan masalah etika penelitian meliputi :
1. Informed consent
Lembar persetujuan yang akan diberikan responden yang akan diteliti dan memenuhi kriteria inklusi dan disertai judul penelitian dan manfaat penelitian dan manfaat penalitian.
2. Anonymity (Tanpa Nama)
Untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak mencantumkan nama responden, tetapi lembar tersebut diberikan kode.
3. Confidential (Kerahasiaan)
Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti dan hanya kelompok data tertentu yang dilaporkan hasil penelitian.

G. Pengumpulan, Pengolahan, dan Analisis Data
1. Pengumpulan data
Dalam penelitian ini jenis data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh dengan cara mengobservasi untuk melihat cara pemasangan terapi intravena dan cara pemberian obat dan kejadian plebitis di Ruang Melati C2. RSUD.M.Yunus Bengkulu. Dan data sekunder untuk melihat data tentang kejadian plebitis di ruang Melati C2. RSUD.M.Yunus Bengkulu.



2. Pengolahan data.
Data yang dikumpulkan selanjutnya di olah dengan beberapa tahap yaitu:
a. Pengeditan Data (Editing).
Langkah ini dilakukan peneliti untuk memeriksa kembali kelengkapan data yang diperlukan untuk mencapai tujuan penenelitian dilakukan pengelompokan dan penyusunan data. Pemeriksaan terhadap kelengkapan dan kejelasan jawaban ceklist dan penyesuaian data yang diperoleh dengan kebutuhan penelitian hal ini dilakukan di lapangan sehingga apabila terdapat data yang meragukan ataupun salah maka akan dilakukan tinjauan ulang ke responden.
b. Pengkodean Data (Coding)
Data yang telah didapatkan akan diberi kode sesuai dengan sub variabel yang diteliti agar lebih mudah dalam pengecekan kembali jika terdapat kesalahan.
c. Memberikan Skore (Scoring )
Setelah dilakukan koding data, maka dilakukan pemberian skore pada masing-masing sub variabel dan setelah semua data telah diberi skore data tersebut dijumlahkan.
d. Memproses Data (processing)
Setelah data dikumpukan kemudian diproses dengan computer untuk dianalisis.
e. Pembersihan Data (Cleaning)
Pembersihan data dilakukan untuk mengoreksi jika ada kesalahan dalam memasukan data yaitu dengan melihat distribusi frekuensi dari variabel-variabel yang diteliti.
3. Analisa Data.
Dalam penelitian ini digunakan analisa data univariat dan analisa bivariat.
a. Analisa Univariat.
Analisa univariat adalah seluruh variabel yang akan digunakan dalam analisa ditampilkan dalam distribusi frekuensi, Analisa univariat untuk melihat distribusi frekuensi dari masing-masing variabel dependen dan independen dengan menggunakan rumus sebagai berikut:





Keterangan: P : Jumlah persentase yang dicari
F : Jumlah frekuensi untuk setiap kategori
N : Jumlah populasi
(Arikunto, 1998)
b. Analisa Bivariat.
Analisa bivariat adalah analisa yang digunakan untuk melihat hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen secara bersamaan dengan menggunakan analisa statistic chi - square (X2), dengan derajat kemaknaan (α) 0,05, dan tingkat signifikan 95%. Untuk melihat resiko relatif kejadian plebitis di gunakan Relative Risk (RR) dengan Rumus :

a
a + b
RR=
c
c + d

Dengan hasil hipotesis sebagai berikut :
a. Ha : diterima apabila p < 0,05.
b. Ha : ditolak apabila p > 0,05.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto.1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta. Rineka Cipta.
Budiarto, Eko, 2003. Metodologi Penelitian Kedokteran, Jakarta, EGC
Bauhizem. M, 1995. Ilmu Keperawatan, Jakarta, EGC.
Depkes RI, 2002. Menuju Sehat 2010, Jakarta.
, 2005. Intrumen Evaluasi Penerapan Standar Asuhan Keperawatan di Rumah Sakit. Jakarta
Darmawan Iyan, 2008. Penyebab dan Cara Mengatasi Plebitis. Diakses dari http://www.Iyan@Otsuka.com.id pada tanggal 20 September 2009.
Hastono, 2004. Biostastistik, Jakarta, EGC.
Hidayat. A.A, 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia Aplikasi Konsep Dan Proses Keperawatan. Jakarta. Salemba Medika.
Jarumiati, 2006. Hubungan Lama Pemasangan Kateter Intravena Dengan Kejadian Plebitis Pada Pasien Dewasa Diruang Rawat Inap Bangsal Menur Dan Bakung RSUD, Wonosari. Diakses dari http://www.stikessmart@ymail.com pada tanggal 15 Desember 2009.
Klikharry. 2006. Infeksi-Nosokomial. Diakses dari http://www.wordpress.com pada tanggal 15 desember 2009
Notoatmodjo, 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta. Rineka Cipta.
Perry dan potter, 1999. Keterampilan dan prosedur dasar, Jakarta, EGC.
Potter, P.A. 2004 Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses dan Praktek edisi 4, alih
bahasa Renata Komalasari, Jakarta, EGC
Pujasari Hening, 2002. Angka Kejadian Phlebitis Dan Tingkat Keparahannya Di Ruang Penyakit Dalam RSCM, Jakarta. Diakses dari http://pujasari. Pada tanggal 20 September 2009.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar