Wednesday, 3 June 2015

gambaran pengetahuan dan sikap tentang penyakit menular seks pada mahasiswa perawat stikes dehasen Bengkulu



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar balakang
Remaja merupakan generasi harapan bangsa, untuk itu perlu disiapkan sumber daya manusia berkualitas untuk mewujudkan bangsa yang berkualitas di masa yang akan datang. Penduduk dunia saat ini berjumlah 6,3 milyar jiwa, dari jumlah itu, penduduk remaja mencapai lebih dari 1 milyar. Jumlah remaja di Indonesia mencapai 62 juta yang sedang memasuki prilaku reproduksi dan seksual yang dapat membahayakan atau justru mengancam kehidupan seperti : akan tertularnya penyakit menulas seks (PMS), HIV/AIDS, dan gonorrhea, chlamydia, syphilis, trichomoniasis, chancroid, herpes genitalis (Santoso,2005).
PMS dapat berdampak terhadap penyebaran penyakit menular seks (PMS) yang akan menular melalui pasangan dan bahkan keturunannya. Penyebarannya melalui seks bebas dengan bergonta-ganti pasangan. Hubungan seks satu kali saja dapat menularkan penyakit bila dilakukan dengan orang yang tertular salah satu penyakit kelamin. yaitu virus HIV/AIDS, Gonore, Herpes Genetalia, Sefilis, maupun penyakit menular seks lainnya (PMS), kemudian timbul rasa ketagihan, hancurnya masa depan remaja tersebut, remaja wanita yang terlanjur hamil akan mengalami kesulitan selama kehamilan karena jiwa dan fisiknya belum siap (Ratna Mahdiana 2010). Menurut Admin (2008). Bahwa setiap tahun terdapat 1 dari 18 gadis remaja Amerika Serikat hamil sebelum nikah dan 1 dari 5 pasien AIDS tertular HIV pada usia remaja.
(WHO, 2003) Peningkatan insidens infeksi menular seksual dan penyebarannya di seluruh dunia tidak dapat diperkirakan secara tepat. Di beberapa negara disebutkan bahwa pelaksanaan program penyuluhan yang intensif akan menurunkan insidens infeksi menular seksual atau paling tidak insidensnya relatif tetap. Namun demikian, di sebagian besar negara insidens infeksi menular seksual relatif masih tinggi (Hakim, 2003). Angka penyebarannya sulit ditelusuri sumbernya, sebab tidak pernah dilakukan registrasi terhadap penderita yang ditemukan. Jumlah penderita yang terdata hanya sebagian kecil dari penderita sesungguhnya (Lestari, 2008).
Di Indonesia, infeksi menular seksual yang paling banyak ditemukan adalah syphilis dan gonorrhea. Prevalensi infeksi menular seksual di Indonesia sangat tinggi ditemukan di kota Bandung, yakni dengan prevalensi infeksi gonorrhea sebanyak 37,4%, chlamydia 34,5%, dan syphilis 25,2%; Di kota Surabaya prevalensi infeksi chlamydia 33,7%, syphilis 28,8% dan gonorrhea 19,8%; Sedang di Jakarta prevalensi infeksi gonorrhea 29,8%, syphilis 25,2% dan chlamydia 22,7%. Di Medan, kejadian syphilis terus meningkat setiap tahun. Peningkatan penyakit ini terbukti sejak tahun 2003 meningkat 15,4% sedangkan pada tahun 2004 terus menunjukkan peningkatan menjadi 18,9%, sementara pada tahun 2005 meningkat menjadi 22,1%.
Setiap orang bisa tertular penyakit menular seksual. Kecenderungan kian meningkatnya penyebaran penyakit ini disebabkan perilaku seksual yang bergonta-ganti pasangan, dan adanya hubungan seksual pranikah dan diluar nikah yang cukup tinggi. Kebanyakan penderita penyakit menular seksual adalah remaja usia 15-29 tahun, tetapi ada juga bayi yang tertular karena tertular dari ibunya (Lestari, 2008). Tingginya kasus penyakit infeksi menular seksual, khususnya pada kelompok usia remaja, salah satu penyebabnya adalah akibat pergaulan bebas. Sekarang ini di kalangan remaja pergaulan bebas semakin meningkat terutama di kota-kota besar.
Pengetahuan tentang PMS dapat di tingkatkan dengan pemberian pendidikan kesehatan reproduksi dan PMS yang dimulai pada usia remaja. Pendidikan tentang PMS di kalangan remaja bukan hanya memberikan pengetahuan tentang organ reproduksi, tetapi juga mengenai bahaya akibat pergaulan bebas, seperti penyakit menular seksual (PMS) dan kehamilan yang belum diharapkan atau kehamilan berisiko tinggi,(BKKBN, 2005). Adapun terjadinya penularan PMS yaitu : Berhubungan seks yang tidak aman dengan penderita PMS (tanpa menggunakan pelindung/kondom), Ganti-ganti pasangan seks, Pelacuran, Melakukan hubungan seks secara anal, karena hubungan ini mudah menimbulkan luka. Adapun dampak dari seseorang PMS yaitu akan tertularnya penyakit menulas seks (PMS), HIV/AIDS, dan gonorrhea, chlamydia, syphilis, trichomoniasis, chancroid, herpes genitalis. Begitujuga sebaliknya dengan pengetahuan dan sikap yang baik remaja dapat  terhindar dari dampak dari PMS.
 (Luthfie 2008) menunjukkan dari 2181 mitra sebanyak 13% melakukan seksual aktif, enam terkena penyakit menular seksual, tiga HIV, dan empat narkoba. Survey itu menjaring 190 remaja siswa SMA/ SMK di Bandung. Mereka menyatakan berbagai alasan yang mendorong mereka melakukan hubungan seks diluar nikah. Sebanyak 26% beralasan melakukan hubungan intim untuk menyalurkan dorongan seks, 17% sebagai ungkapan cinta, 17% untuk kesenangan, 13% dipaksa pacar, 10% agar dianggap modern, 8% uji keperawanan/ perjaka, 5% imbalan, dan 3% mengatasi stress. Sarwono (2006) dalam penelitiannya terhadap remaja di Jakarta memperoleh data bahwa sebagian besar remaja (53,6%) tertarik pada masalah hubungan seks sebelum perkawinan. Denga pengetahuan dan sikap remaja yang baik, remaja dapat terhindar dari dampaknya PMS. Yang dapat mengancam masa depan remaja tersebut.
Kasus HIV/AIDS di Kota Bengkulu  pada tahun 2005 berjumlah 5 orang, tahun 2006 terjadi peningkatan sebanyak 48 orang, pada tahun 2007 terjadi penurunan 25 orang dikarenakan ada penderita yang pindah kedaerah lain dan meninggal, tahun 2008 terjadi peningkatan sebanyak 49 orang, tahun 2009 terjadi peningkatan yang sangat drastis sebanyak 136 orang dan pada tahun 2010 dari bulan januari sampai maret sebanyak 19 orang (KPA provinsi Bengkulu, 2010).
                 Berdasarkan survey awal yang dilakukan peneliti terhadap 10 orang mahasiswa pada empat perguruan tinggi yang berorientasikan kesehatan yakni Stikes Trimandiri Sakti, Akkes Sapta Bakti, Stikes Bakti Husada dan Stikes Dehasen, dari keempat sekolah tinggi tersebut hanya informan dari Stikes Dehasen mengaku kurangnya pengetahuan, sikap tentang PMS.
                 Stikes Dehasen memilki program studi (prodi) sebanyak 3 prodi yaitu prodi D III keperawatan, prodi kesehatan masyarakat dan prodi S1 keperawatan dengan jumlah mahasiswa 708 orang yang terbagi atas 219 orang untuk D3 keperawatan, 55 orang untuk kesehatan masyarakat dan 138 orang S1 keperawatan. Umur dari mahasiswa rata-rata 17-24 tahun yang dalam fase perkembangan manusia adalah fase remaja akhir. Dari data bagian kemahasiswaan Stikes Dehasen yang penulis dapatkan pada tahun 2006 terdapat 2 orang mahasiswa cuti untuk menikah dengan berbagai alasan diantaranya hamil di luar nikah dan 2 orang mahasiswa pindah, tahun 2007 sebanyak 8 orang, tahun 2008 sebanyak 8 orang dan 2009 sebanyak 15 orang. Dari hasil survey awal yang dilakukan peneliti di stikes dehasen bengkulu  terhadap 10 orang mahasiswa hanya 5 mahasiswa yang bisah menjawab dengan benar tentang defenisi cara penularan dan pencegahan tentang penyakit menular seks serta sikap terhadap (PMS). Maka peneliti ingin malakuka penelitian tentang. “Gambaran Pengetahuan dan Sikap Mahasiswa Perawat Stikes Dehasen Tentang Penyakit Menular Seks tahun 2011”






B.     Masalah
Dari latar belakang masalah tersebut diatas, penulis merumuskan permasalahan penelitian yaitu. “Belum diketahuinya pengetahuan dan sikap mahasiswa perawat stikes dehasen tentang PMS. ”

C.     Tujuan Penelitian
1.       Tujuan umum
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap tentang penyakit menular seks pada mahasiswa perawat stikes dehasen Bengkulu.
2.                  Tujuan khusus
a.     Mengetahuai distribusi, frekuensi pengetahuan seks pada mahasiswa Stikes Dehasen tentang PMS.
b.     Mengetahuai distribusi, frekuensi sikap mahasiswa Stikes Dehasen tentang PMS.






D.     Manfat penelitian
1.               Untuk akademis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah, yang bermanfaat bagi akademis yang berhubungan dengan penyakit menular seks.
2.               Untuk mahasiswa
Diharapkan dapat dijadikan bahan pertimbangan kebijakan untuk meningkatkan pemberian komunikasi, informasi dan edukasi tentang hubungan seksual pranikah
3.               Untuk peneliti lain
   Dapat menambah wawasan dan pengetahuan serta di harapkan dapat digunakan sebagai data dasar untuk penelitian serupa yang akan di kembangkan lebih lanjut.

FILE LENGKAPNYA DONLOAD DI SINI http://adf.ly/1IFnb8









Monday, 1 June 2015

CARA DOWLOAD

1. Klik link dowloadnya/ tulisan yang berwarna hijau
2. Setelah itu kita akan dibawa ke situs "Adf.ly"
3. Tunggu 5 Detik
Langkah Pertama Download di Adf.ly | ApKLoVeRz
4. Kemudian klik tombom "Lewati" atau "Skip Ad"
Langkah Kedua Download di Adf.ly | ApKLoVeRz
5. Setelah itu anda kan dibawa ketempat file berada. jika file berada di mediafire langsung aja klik pada tulisan donload dan jika di 4shared anda clik pada bagian free dowload tunggu beberapa detik kemudian akan muncul tulisan dowload, kemudian clik aja.
6. Selesai

GAMBARAN EFEK SAMPING KB (KELUARGA BERENCANA) SUNTIK



BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang
Gerakan Keluarga Berencana (KB) telah berhasil menurunkan jumlah anak pada tiap keluarga dari tiga menjadi dua orang anak, khususnya dinegara maju. Pencapaian peserta KB pada pasangan usia subur (PUS) sekitar 56% ditingkat dunia dapat merupakan dugaan transisi pertumbuhan penduduk. Dikemukakan bahwa sekitar 120-150 juta penduduk dunia tidak ingin mempunyai anak lagi tetapi tanpa perlindungan alat kontrasepsi. Kini dinegara maju diperkirakan rata-rata keluarga mempunyai dua orang anak, sedangkan dinegara berkembang sekitar tiga orang anak (Manuaba, 2002).
1
 
Program Keluarga Berencana Nasional yang kini telah diubah visinya menjadi “Keluarga Berkualitas Tahun 2015” dimana keluarga yang berkualitas adalah keluarga yang sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan kedepan, bertanggung jawab, harmonis dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Misinya sangat menekankan pentingnya upaya menghormati hak-hak reproduksi, sebagai upaya integral dalam meningkatkan kualitas keluarga dan meningkatkan kesehatan reproduksi. Pada tanggal 29 Juni 1994, Gerakan Pembangunan Keluarga Sejahtera diresmikan oleh Presiden Soeharto di Sidoarjo. Pembangunan keluarga sejahtera merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas dan ketahanan masing-masing keluarga dalam mengantisipasi setiap pegaruh negatif yang mengancam keutuhan keluarga sebagai unit terkecil yang paling utama dari masyarakat (Hartanto, 2004).
Mengenai kesehatan reproduksi bukan hanya membahas tentang organ-organ reproduksi tetapi ada beberapa aspek yang perlu diketahui, salah satunya kontrasepsi. Saat ini ada dua metode kontrasepsi, yaitu metode sederhana dan metode modern. Metode sederhana dilakukan dengan cara tanpa alat, dengan alat, dan kimiawi, sedangkan metode modern dilakukan dengan berbagai cara, seperti: Kontrasepsi Hormonal, Intra Uterine Devices (IUD, AKDR), dan Kontrasepsi Mantap (Hartanto, 2004).
Kontrasepsi suntik merupakan alat kontrasepsi yang populer di Indonesia. Kontrasepsi suntik adalah obat pencegah kehamilan yang cara pemakaiannya dengan menyuntikkan kepada wanita subur. Saat ini terdapat dua macam kontrasepsi suntikan, yaitu golongan progestin seperti Depo Provera, Depo Geston, Depo Progestin, Noristerat, dan golongan progestin dengan campuran estrogen propionate, seperti Cyclo Provera atau Cyclofem (Mansjoer dkk, 2005).
Pemilihan KB suntik perlu perhatian khusus, terutama bagi wanita usia di atas 35 tahun mengingat resiko yang timbul seperti serangan jantung, stroke dan masalah perubahan tekanan darah. Efek samping dari kontrasepsi suntik adalah terganggunya pola haid diantaranya adalah amenorhoe, menoragia dan muncul bercak (spotting), pertambahan berat badan, dan alergi (BKKBN, 2004).
Efek samping dengan gangguan haid yang paling sering terjadi pada wanita pengguna kontrasepsi suntik dirasakan mengganggu aktivitas mereka. Persentase wanita Indonesia usia 15-49 tahun yang menggunakan alat kontrasepsi tahun 2008 adalah: suntik (57,83%), pil (29,37%), implant (4,91%), IUD (Intra Uterin Dervices) (4,44%), kondom (2,40%), tubektomi (0,96%), vasektomi (0,10%) (BKKBN, 2008).
Kontrasepsi suntikan merupakan kontrasepsi yang mengandung progestin. DMPA merupakan turunan progesterone, yang merupakan suatu progestin yang mekanisme kerjanya bertujuan menghambat sekresi hormon pemicu folikel (FSH) dan LH serta lonjakan LH.
Kontrasepsi suntikan mempunyai efek samping utama yaitu gangguan pola haid, ini yang paling sering terjadi dan yang paling menggangu. Gangguan haid merupakan pola haid yang normal yang berubah menjadi amenore, perdarahan ireguler, perdarahan bercak, perubahan dalam frekuensi, lama dan jumlah darah yang hilang. Efek pada pola haid tergatung pada lama pemakaian. Perdarahan intermentrual dan perdarahan bercak berkurang dengan jalannya waktu, sedangkan kejadian amenore bertambah besar (Hartanto, 2004).
Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Bengkulu dari 17 puskesmas di 8 kecamatan yang ada di Kota Bengkulu, peserta KB baru yang menggunakan KB suntik pada tahun 2010, dimana angka terendah pengguna KB suntik berada di puskesmas Sukamerindu yang berjumlah 217 orang. Pada bulan Januari sampai Desember tahun 2011 peserta KB baru yang menggunakan KB suntik berjumlah 237 orang. Pada tahun 2011 pengguna KB baru yang lainnya di puskesmas Sukamerindu seperti KB Pil berjumlah 374 orang, IUD sebanyak 84 orang dan implan sebanyak 59 orang.
     Berdasarkan hasil survei awal dari wilayah kerja puskesmas Sukamerindu pada tanggal 7  November tahun 2011 yang dilakukan melalui wawancara langsung di dapat hasil pada 10 orang ibu menggunakan KB suntik 6 orang mengalami efek samping gangguan haid setelah menggunakan alat kontrasepsi suntik, 4 orang memakai KB suntik hanya mual dan muntah.
Dari latar belakang diatas maka peneliti bermaksud untuk mengadakan penelitian tentang “Gambaran Efek Samping KB (Keluarga Berencana) Suntik di Puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu tahun 2012”.

B.        Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka masalah pokok dari penelitian ini yaitu efek samping KB (Keluarga Berencana) suntik di Puskesmas Sukamerindu kota Bengkulu tahun 2012.

C.          Tujuan Penelitian
1.      Tujuan Umum 
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran efek samping KB (Keluarga Berencana) Suntik di Puskesmas Sukamerindu kota Bengkulu tahun 2012.
2.      Tujuan Khusus
a)        Untuk mengetahui distribusi frekuensi jenis pengguna KB (Keluarga Berencana) suntik di puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu Tahun 2012.
b)        Untuk mengetahui distribusi frekuensi kejadian amenorea di puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu Tahun 2012.
c)        Untuk mengetahui distribusi frekuensi kejadian polimenore di puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu Tahun 2012.
d)       Untuk mengetahui distribusi frekuensi kejadian spotting di puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu Tahun 2012.
e)        Untuk mengetahui distribusi frekuensi kejadian perdarahan hebat di puskesmas Sukamerindu Kota Bengkulu Tahun 2012.

D.          Manfaat Penelitian
1.        Manfaat Praktis
a)         Bagi petugas kesehatan
Memberikan informasi mengenai gambaran efek samping KB (Keluarga Berencana) suntik pada ibu di Puskesmas Sukamerindu kota Bengkulu tahun 2012.
b)         Bagi puskesmas Sukamerindu
Data yang diperoleh dapat digunakan sebagai masukan untuk menentukan program kerja puskesmas Sukamerindu.
2.        Manfaat Teoritis
a)         Menambah wacana kesehatan tentang gambaran efek samping KB (Keluarga Berencana) suntik pada ibu.
b)         Dapat menjadi masukan dan pengalaman tentang cara atau prosedur penelitian secara terencana atau sistematis serta mengetahui gambaran efek samping KB (Keluarga Berencana) Suntik di Puskesmas Sukamerindu kota Bengkulu tahun 2012.     
DONLOAD FILE LENGKAPNYA DISINI  http://adf.ly/10052769/d3meipi