Friday, 22 May 2015

PERBEDAAN DISTRIBUSI FREKUENSI UMUR PASIEN MALARIA YANG BEROBAT DI PUSKESMAS GUNUNG AYU DAN YANG RAWAT INAP DI RSUD



BAB I

PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Sesuai dengan tujuan pembangunan nasional seperti yang di tetapkan dalam GBHN, maka tujuan umum pembangunan kesehatan untuk mengusahakan kesempatan yang lebih luas lagi bagi setiap penduduk untuk memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dengan mengusahakan kesehatan yang lebih luas dan lebih merata serta dengan adanya peran aktif masyarakat.
Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit (protozoa) dari genus plasmodium, yang dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles. Malaria ditemukan hampir di seluruh bagian dunia, terutama di negara-negara yang beriklim tropis dan sub tropis. Penduduk yang berisiko terkena malaria berjumlah sekitar 2,3 miliar atau 41 % dari jumlah penduduk dunia. Setiap tahun, kasusnya berjumlah sekitar 300-500 juta kasus dan mengakibatkan 1,5 –2,7 juta kematian, terutama di negara-negara benua Afrika (Arlan, 2002).
Gejala klinis yang sering timbul mempunyai variasi sesuai dengan jenis plasmodium yang menyerang. Namun hampir semuanya akan ditemukan demam yang didahului dengan menggigil, pusing, sakit pada otot-otot, splenomegali, dan anemia. Masa inkubasi plasmodium vivax dan plasmodium ovale 10 hari, dan plasmodium malariae selama 28 hari (Soeparman, 1987).
Di Indonesia penyakit malaria ditemukan tersebar di seluruh kepulauan. Derajat endemisitas malaria di Indonesia berbeda antara satau daerah dengan daerah lain. Sebagian wilayah di Jawa, Bali telah bebas dari penularan. Namun pada bulan Juli sampai Agustus 2002 sejumlah daerah di Jawa Tengah dan Jogjakarta dilaporkan terserang penyakit ini. Di kabupaten Kebumen dilaporkan sekitar 3000 orang yang terserang, sedangkan 12 kecamatan di Kabupaten Purbalingga dinyatakan sebagai daerah endemis setelah selama 10-12 tahun tidak ada kasus malaria (Arlan, 2002).
Propinsi Bengkulu yang merupakan daerah pantai yang beriklim panas, banyak terdapat hutan, perkebunan, persawahan dan juga merupakan daerah endemis malaria. Kejadian malaria yang ditunjukkan dengan angka prevalence rate belum adanya penurunan yang cukup berarti. Apabila dilihat perkembangan tiap tahunnya penyakit malaria termasuk penyakit menular yang masih banyak di derita oleh masyarakat Bengkulu, dimana penderita malaria klinis 20.324 jiwa. Berdasarkan hasil pemeriksaan persediaan darah melalui kegiatan PCD (passive detection) terhadap 13.466 spesimen darah, ditemukan 2.267 (16.83%) positif malaria (DinKes, Provinsi Bengkulu, 2004).
Secara geografis Bengkulu adalah suatau Provinsi yang terletak di sepanjang pantai barat Sumatra lebih kurang 525 Km dan gugusan pulau Enggano yang berada lebih kurang 90 mil laut di lautan hindia sebelah selatan provinsi Bengkulu. Provinsi Bengkulu dengan luas wilayah 19.789 kilometer persegi dan secara geografis terletak di antara 20 161–30 311   Lintang selatan dan 1010 011–1030 411 Bujur timur, dengan suhu udara relatif sama dengan daerah-daerah kota pinggiran pantai lainnya di Indonesia. Suhu udara maksimum berkisar 32.9–340C sedangkan suhu udara minimum berkisar antara 22–23.30C, dan curah hujan sepanjang tahun 2003 sebesar 265 mm dengan jumlah hari hujan sebanyak 224 hari (DinKes Provinsi Bengkulu, 2000).
Dalam upaya penyelenggaraan pembangunan kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu telah melakukan langkah–langkah dan kebijakan di bidang pembangunan kesehatan dengan visi “Bengkulu Sehat 2010“ yang merupakan gambaran masyarakat Bengkulu di masa depan yang ingin di capai melalui pembangunan kesehatan yang di tandai dengan penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku hidup sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu  secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang optimal dan merata di seluruh wilayah Provinsi Bengkulu (Dinkes. Bengkulu, 2003).
Menurut hasil laporan Sistem Pencatatan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) di Kabupaten Bengkulu Selatan, diperoleh gambaran kejadian malaria berjumlah 1.443 kasus,  pada tahun 2005. Berdasarkan laporan hasil sistem Pencatatan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) di Puskesmas Gunung Ayu Manna Kabupaten Bengkulu Selatan pada tahun 2004 diperoleh data penyakit malaria yaitu 94 kasus dan pada tahun 2005 yaitu 75 kasus. Puskesmas Gunung Ayu terletak di Kota Manna Kabupaten Bengkulu Selatan. Survei awal penulis di Rumah Sakit Umum Daerah Manna Bengkulu Selatan menunjukkan angka kejadian malaria masih sangat tinggi yaitu sebanyak 172 orang pasien yang dirawat pada tahun 2004, sedangkan pada tahun  2005 pasien yang dirawat sebanyak 198 orang pasien.
Secara umum, setiap orang dapat terinfeksi malaria, tetapi ada beberapa orang yang meiliki kekebalan terhadap parasit malaria baik yang bersifat bawaan/alamiah. Orang yang paling beresiko terinfeksi malaria adalah bayi dan anak balita, wanita hamil, serta penduduk non imun yang mengunjungi daerah endemis malaria seperti para pengungsi, transmigran, dan wisatawan. Penyakit malaria ditularkan melalui dua cara yaitu alamiah dan non alamiah. 
Berdasarkan latar belakang diatas penulis tertarik meneliti “perbedaan distribusi frekuensi umur pasien malaria  di Puskesmas Gunung Ayu dan yang rawat inap di RSUD Manna tahun 2004 dan tahun 2005”
1.2  Perumusan Masalah
Berdasarkan ruang lingkup yang telah diuraikan oleh penulis diatas maka dapat dirumuskan masalah penelitian : Apakah ada perbedaan distribusi frekuensi umur pasien malaria  di Puskesmas Gunung Ayu dan yang rawat inap di RSUD Manna tahun 2004 dan tahun 2005
1.3  Tujuan Penelitian
1.3.1        Tujuan Umum
Mempelajari perbedaan distribusi frekuensi umur pasien malaria  di Puskesmas Gunung Ayu dan yang rawat inap di RSUD Manna tahun 2004 dan tahun 2005


1.3.2        Tujuan Khusus
Ingin mengetahui perbedaan distribusi frekuensi umur pasien malaria  di Puskesmas Gunung Ayu dan yang rawat inap di RSUD Manna menurut golongan umur yaitu; bayi, masa pra sekolah, masa sekolah, remaja, dewasa, dan lanjut usia tahun 2004 dan tahun 2005
1.4  Manfaat Penelitian
1.4.1        Manfaat Bagi Pendidikan
Hasil dari penelitian ini dapat memberikan informasi dan meningkatkan pengetahuan mahasiswa-mahasiwi STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu
1.4.2        Manfaat Bagi Tempat Penelitian
1)      Rumah Sakit Umum Daerah Manna
Hasil  dapat dijadikan masukan bagi program pemberantasan penyakit malaria dan dapat diambil suatau kebijakan untuk masa yang akan datang.
2)      Puskesmas Gunung Ayu
Hasil  dapat dijadikan masukan bagi program pemberantasan penyakit menular (P2M) malaria dan dapat diambil suatu kebijakan untuk masa yang akan datang.
1.4.3        Manfaat Bagi Masyarakat
Hasil  penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan masyarakat  terutama keluarga yang menderita malaria.


1.4.4        Manfaat Bagi Penulis
Hasil penelitian ini merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi penulis yang telah dapat menerapkan ilmu yang di dapat selama pendidikan di STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu.



















BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1    Malaria
2.1.1    Pengertian Malaria
Malaria adalah penyakit yang dapat bersifat akut maupun kronik, disebabkan oleh protozoa genus Plasmodium di tandai dengan demam, anemia dan splenomegali (Arif Mansjoer, 2001). Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh protozoa genus plasmodium dengan gejala-gejala demam proksimal dan periodic anemia serta splenomegali yang di tularkan melalui vector nyamuk anopeles (Purnawan Junaidi, 1992).
Harisson (1991), Mengatakan bahwa malaria adalah penyakit protozoa yang di tularkan kemanusia melalui gigitan nyamuk anopeles, yang ditandai dengan kekakuan, splenomegali, anemia serta perjalanan yang kambuh menahun. Jadi dapat disimpulkan bahwa malaria adalah penyakit tropis yang disebabkan oleh salah satau genus plasmodium dan ditularkan lewat karier nyamuk genus anopheles yang terinfeksi.
2.1.2        Etiologi
Organisme penyebab penyakit malaria adalah  sporozoa dari genus plasmodium, malaria biasanya didapat dari gigitan nyamuk anopheles betina yang sebelumnya terinfeksi. Ada empat species yang diketahui menginfeksi manusia yaitu : Plasmodium falciparum yang menyebabkan penyakit malaria tropika, Plasmodium Vivax yang menyebabkan malaria tertiana,Plasmodium Malariae yang menyebabkan malaria quartana, dan Plasmodium ovale yang menyebabkan malaria ovale (Rusepno Hassan,1985).
2.1.3        Patologi
Pada manusia terdapat empat spesies malaria yang dapat menginfeksi, yaitu :           
1.      Plasmodium Palsifarum
Menurut Mursito (2002),penyakit malaria ini termasuk jenis malaria ganas dengan masa inkubasi 9-14 hari, serangan plasmodium palsifarum ini di awali dengan rasa nyeri kepala, pegal linu, dan nyeri pinggang yang di lanjutkan dengan rasa mual serta muntah dan diare. Suhu badan tidak terlalu tinggi, jika tidak segera di obati maka serangan akan semakin berat, bahkan dapat menyerang limpa dan hati. Jika hati sudah terkena maka akan timbul gejala penyakit kuning, yang mana penderita merasa gelisah dan kadang-kadang menggigau yang di sertai dengan keluarnya keringat dingin.
Penyakit ini juga dapat menyerang ginjal yang di tandai dengan warna air seni menjadi keruh dan menghitam. Akibat yang paling buruk adalah apabila penyakit ini sudah menyerang otak sehingga menyebabkan gumpalan darah pada pembuluh darah sehingga dapat menyebabkan kelumpuhan, menurunnya kesadaran, dan akhirnya penderita tersebut meninggal.
2.      Plasmodium Vivak
Mempunyai Frekuensi tertinggi di antara spesies yang lain, masa inkubasinya 12-17 hari bahkan lebih. Serangan pertama di mulai dengan sakit kepala, sakit punggung, mual dan malaise umum (sindrom prodomal). 2-4 hari pertama demam tidak terataur, setelah intermiten dengan perbedaan yang nyata pada pagi dan sore hari, suhu meningkat kemudian turun menjadi normal. Suhu badan dapat mencapai 40,60C atau lebih. Gejala lain akan timbul seperti mual muntah, herper pada bibir, pusing, mengantuk ini hanya bersifat sementara (Ganda Husada, 1998).
3.      Plasmodium Quartana
Masa inkubasi plasmodium ini berlangsung 18 hari kadang-kadang sampai 30-40 hari. Serangan pertama demam mirip dengan plasmodium vivak, serangannya lebih terataur dan terjadi pada sore hari (Ganda Husada, 1998).
4.      Plasmodium Ovale
Plasmodium ini banyak di jumpai di Indonesia bagian timur, terutama di Papua. Gejalanya mirip dengan plasmodium vivak. Malaria yang di sebabkan parasit jenis ini relatif jarang kambuh dan dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan (Mursito, 2002).
 Parasit plasmodium malaria menyebabkan Sel Darah Merah (erytrosit) saling lengket sehingga mengganggu mekanisme tubuh. Keempat jenis plasmodium ini dikenal sangat mematikan tetapi plasmodium falciparum yang dikenal paling ganas, sebab hanya dalam waktu sekitar 4 jam sesudah nyamuk menggigit manusia, parasit dari ludah nyamuk segera menyebar ke sel darah merah dan langsung ke nyawa si penderita.
2.1.4        Siklus Hidup Parasit Malaria
Siklus hidup parasit malaria terdiri dari:
a.       Siklus secara aseksual dalam tubuh manusia
sporozoid masuk ke dalam darah melalui gigitan nyamuk. Setelah itu setengah jam masuk kedalam hati membentuk siklus preeritrosit (tropozoit - schizont - merozoid). Merozoit masuk kembali kedalam hati meneruskan siklus ekso-eritrosit, sedangkan sebagian lain masuk kedalam darah membentuk siklus eritrositer (merozoi t-tropozoit muda - tropozoit tua – shizont – pecah - merozoit yang memasuki eritrosit baru). Sebagian merozoit melalui gametogeni membentuk mikro dan makrogametosit. (Nadesul, 1996)
b.      Secara seksual dalam tubuh nyamuk
Dalam lambung nyamuk, makro dan mikrogametosit berkembang menjadi makro dan mikrogamet zigot (ookinet) - menembus dinding lambung – ookista - sporozoit, sporozoit dilepaskan dan masuk kedalam kelenjar ludah nyamuk. (Nadesul, 1996)
2.1.5        Patofisiologi
Malaria di sebabkan oleh plasmodium, yang mana plasmodium masuk ke dalam darah (eritrosit) sehingga menyebabkan reaksi antigen/anti body dan terjadi penghancuran atau pemecahan eritrosit yang berlebihan. Reaksi antigen/anti body menimbulkan reaksi inflamasi, dengan adanya reaksi inflamasi sehingga menyebabkan yang pertama demam tinggi yang dapat menimbulkan defisit volume cairan, yang ke dua funciolaesa yang dapat menimbulkan gangguan mobilisasi, yang ke tiga nyeri kepala yang dapat menimbulkan nyeri, yang ke empat mual, muntah yang dapat menimbulkan perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan.
Terjadi penghancuran dan pemecahan eruitrosit yang berlebihan sehingga menimbulkan pertama hepatosplenomegali, ke dua anemia yang dapat menimbulkan resiko cidera, ke tiga hiperbilirubinemia yang dapat menimbulkan ikterus.
2.1.6        Gejala Klinis
Dibeberapa daerah endemis sering diketahui bahwa seseorang terserang malaria dengan gejala yang sangat khas, seperti rasa ngilu pada tulang, pada malaria berat sering muncul gejala warna air seni menjadi merah tua karena terdapat hemoglobin (Depkes RI, 1993).
Gejala klinis utama tersebut sering diikuti oleh gejala klinis lainnya antara lain :
a.   Demam
a. Bedan lemas, pucat dan berkeringat
b.      Nafsu makan menurun
c.       Mual-mual kadang diikuti dengan muntah
d.      Sakit kepala yang berat dan terus menerus
e.       Pembesaran limpa pada penderita kronis
f.       Kejang-kejang dan penurunan kesadaran sampai koma pada penderita malaria berat
g.      Diare dan anemia merupakan gejala yang sering muncul pada anak-anak
Gejala klasik malaria merupakan suatau paroksisme yang terdiri atas tiga stadium (Stadium dingin atau cold stage, stadium demam atau hot stage dan stadium berkeringat atau sweating stage). Ketiga stadium ini akan berlangsung secara berurutan pada penderita yang berasal dari daerah non endemis. Pada penduduk di daerah endemis malaria, ketiga stadium gejala klinis diatas tidak berurutan dan bahkan tidak semua stadium ditemukan pada penderita.
1)      Stadium Dingin
Stadium ini dimulai dengan badan menggigil dan perasaan sangat dingin, menggigil dan penderita biasanya menutupi tubuhnya dengan segala macam pakaian dan selimut yang tersedia. Nadi cepat tetapi lemah, bibir dan jari jemarinya pucat kebiru-biruan dan sianotik. Kulit kering dan pucat, penderita mungkin muntah dan pada anak-anak sering terjadi kejang. Stadium ini berlangsung antara 15 menit sampai 1 jam.


2)      Stadium Demam
Setelah merasa kedinginan pada stadium ini penderita merasa kepanasan. Muka merah, kulit kering dan terasa sangat panas seperti terbakar, sakit kepala hebat dan mual serta muntah sering terjadi. Nadi menjadi kuat kembali, biasanya merasa sangat haus dan suhu badan dapat meningkat sampai 41 derajat Celsius atau lebih. Stadium ini berlangsung antara 2 sampai 4 jam.
3)      Stadium Berkeringat
Pada stadium ini penderita berkeringat banyak sekali sampai-sampai alas tempat tidurnya basah. Suhu badan menurun dengan cepat, kadang-kadang sampai dibawah normal. Penderita biasanya dapat tidur nyenyak, pada saat bangun tidur badan terasa lemah, tetapi tidak ada gejala lain. Stadium ini berlangsung antara 2 sampai 4 jam. Gejala-gejala yang disebutkan diatas tidak selalu sama setiap penderita, tergantung pada spesies parasit dan umur penderita. Gejala klinis yang berat terjadi pada malaria tropika, dan pada orang dewasa sering kali tidak ditemukan. (Rampengan, 1997).
Gejala klinis malaria pada umumnya  dikenali berdasarkan gejala-gejalanya, dengan gejala yang sering terlihat adalah:
1.      Demam
Demam periodic yang berkaitan dengan pecahnya skizon matang (sporulasi). Pada malaria tertiana (P.vivax dan P.ovale), pematangan skizon 48 jam maka periodisitas demamnya setiap hari ke 3, sedangkan malaria kuartana (P. malariae) pematangannya tiap 72 jam dan periodisitas demamnya tiap hari ke 4, Tiap serangan di tandai dengan beberapa serangan periodic. Demam khas malaria terdiri dari 3 stadium, yaitu mengigil (15 menit - 1 jam), puncak demam (2-6 jam), dan berkeringat (2-4 jam). Demam akan mereda secara bertahap karena tubuh dapat beradaptasi terhadap parasit dalam tubuh dan ada respon imun.(Arif Mansjoer, 2001)
2.      Spelenomegali
Spelenomegali merupakan gejala khas malaria kronik. Limpa mengalami kongesti, menghitam, dan menjadi keras karena timbunan pigmen eritrosit parasit dan jaringan ikat yang bertambah.
3.      Anemia
Derajat anemia tergantung pada spesies penyebab, yang paling berat adalah anemia karena P. Falciparum. Anemia disebabkan oleh:
a.       Penghancuran eritrosit yang berlebihan.
b.      Eritrosit normal tidak dapat hidup lama (reduced survival time).
c.       Gangguan pembentukan eritrosit karena depresi eritropoesis dalam sumsum tulang.
4.      Ikterus
Ikterus disebabkan karenanhemolisis dan gangguan hepar/hati (Arif mansjoer, 2001).


2.1.7        Cara Penularan Malaria
Penyakit malaria  ditularkan melalui dua cara, yaitu alamiah dan non alamiah. Penularan secara alamiah adalah melalui gigitan nyamuk anopheles yang mengandung parasit malaria dan non alamiah jika bukan melalui gigitan nyamuk anopheles. Berikut beberapa penularan malaria secara non alamiah :
a.       Malaria bawaan (congenital)
Malaria congenital adalah malaria pada bayi yang baru dilahirkan karena ibunya menderita malaria. Penularannya terjadi karena adanya kelainan pada sawar plasenta (selaput yang melindungi plasenta) sehingga tidak adanya penghalang infeksi dari ibu kepada janinnya, selain melalui plasenta, penularan dari ibu ke bayi yang baru lahir melalui tali pusat. Gejala pada bayi yang baru lahir berupa demam, iritabilitas (mudah teransang sehingga sering menangis/ rewel). Pembesaran hati dan limpa, anemia, tidak mau makan/minum, serta kuning pada kulit dan selaput lendir. Keadaan ini harus dibedakan dengan infeksi congenital lainnya, seperti toxoplasmosis, rubella, sifilis congenital, dan anemia hemolitik. Pembuktian ini pasti dilakukan dengan deteksi parasit malaria pada darah bayi.(Arlan, 2002)
b.      Penularan mekanik (transfusion malaria)
Tranfusion malaria adalah infeksi malaria yang ditularkan melalui tranfusi darah dari donor yang terinfeksi malaria, pemakaian jarum suntik secara bersama-sama pada pencandu narkoba, atau melalui transplantasi organ. Penularan melalui jarum suntik banyak terjadi pada para pencandu obat bius yang menggunakan jarum yang tidak steril. Parasit malaria bisa hidup selama tujuh hari dalam darah donor, biasanya masa inkubasi tranfusion malaria lebih singkat dibandingkan infeksi malaria secara alamiah. (Arlan, 2002)
2.1.8        Komplikasi
Komplikasi tergantung pada sistem organ yang terkena akibat peredaran darah berkurang akibat sumbatan kapiler.
1.      Malaria cerebral ditandai dengan gangguan kesadaran sampai koma, delirium, kejang, terutama pada anak, hiperpireksia dan hemiplegia, bisa terjadi kematian paralise dan afaxia
2.      Gangguan hepar sehingga timbul ikterus, ini disebabkan oleh kerusakan parenkim hati dan juga karena hemolisis eritrosit.
3.      Gangguan pada traktus gastrointestinal, sehingga timbul diare hebat, sangat sering mengandung lendir dan darah disebabkan oleh perdarahan dan lepasnya mukosa usus.
4.      Timbulnya lobuler iskemia akut, akibat iskemia ginjal black water fever dimana urine menjadi merah tua atau hitam karena hemoglobinuria akibat hemolisis berlebihan.
5.      Gejala pada paru timbul batauk dengan sputum berdarah dan dapat terjadi insifiensi paru seperti shock lung syndrome.

2.1.9        Penatalaksanaan
2.1.9.1        Penatalaksanaan Medis
Ada 8 golongan obat-obatan anti malaria, yaitu  :
1)      Alkaloid sinkona, misalnya kina (kinina)
2)      4-amino kinolin, misalnya klorokin, amodiakin
3)      8-amino kinolin, misalnya primakin, pamakin
4)      9-akridin, misalnya mepakrin
5)      Biguanid, misalnya proquanil, paludrin
6)      Diamino pirimidin, misalnya pirimetamin
7)      Sulfonamid, misalnya suffadiazin
8)      Sulfon, misalnya DDS
Khasiatnya :
1.      Untuk siklus eritrositer : kinina, klorokin, mepakrin, dan amodiakin
2.      Untuk siklus eksoeritrositer : primakin, proquanil, primetamin
3.      Untuk gametosid : primakin
4.      Obat sporontosidal : primakin, proquanil, peirimetamin
Pengobatan pada anak-anak pada dasarnya sama dengan pengobatan pada dewasa. Umumnya  anak-anak lebih tahan terhadap kina, tetapi pemberian kloroquin IM perlu dilakukan secara hati-hati. Pada pasien dalam keadan koma dan muntah hebat pengobatan enteral segera diberikan, meskipun pemberian obat peroral jauh lebih aman bagi anak-anak. Obat yang dapat diberikan :
1.      Kina
Cara Pemakaian
a)      Infus : 5-10 mg / kg BB 20-30 IM garam fisiologis, diberikan selama 2-4 jam. Bila perlu diulang setelah 6-12 jam sampai maksimal 20 mg/kgBB/24 jam.
b)      Intramuskular : syarat pemberian sama dengan pada dewasa. Dosis tunggal maksimal : 15 mg/kgBB
2.      Kloroquin
Cara pemberian :
a)      IV : Dosis pertama 5 mg/kg BB dalam larutan isotonus 20 IM, di suntikkan selama 10-15 menit. Bila perlu dapat diulang setelah 6-8 jam. Suntikan sebaiknya diberikan separuh dosis dahulu dan sisanya diberikan selang 1-2 jam kemudian.
b)      Infus : 7 mg basa/kg BB diberikan secara terus menerus dalam 24 jam.
c)      IM : Dosis pertama maksimal 5 mg basa/kg BB dengan dosis total tidak lebih dari 10 mg/kg BB/24 jam. Sebaiknya dosis suntikkan dibagi dua dan masing-masing diberikan dengan perbedaan waktu 1-2 jam, tidak diberikan pada bayi dan anak kecil, karena dapat menimbulkan kejang-kejang epileptik yang fatal atau gangguan susunan saraf pusat yang menetap.
2.1.9.2        Penatalaksanaan Perawatan
Penyakit malaria dapat dicegah dengan melakukan pemotongan rantai penularan dengan cara :
1.      Diberikan pada mereka yang akan pergi ke daerah endemik malaria. Obat- obat diberikan mulai satau atau beberapa hari sebelum berangkat sampai kira-kira 28 hari setelah meninggalkan daerah tersebut. Dapat digunakan :
a.       Klorokin 2 tablet (300 mg base) tiap minggu
b.      Kinina 1 tablet (650 mg) tiap hari
c.       Mepakrin 1 tablet tiap hari
d.      Pirimetamin 2 tablet tiap minggu
2.      Mencegah gigitan vektor
a.       Membunuh nyamuk dengan insektisida
b.      Tidur dengan menggunakan kelambu
c.       Menghilangkan kesempatan nyamuk berkembang biak
3.      Kemoprofilaksis
Pemberian obat untuk tujuan profilaksis ini masih diteruskan sampai 1 bulan meninggalkan daerah endemis



Tabel 2.1.  Jenis dan Dosis obat Kemoprofilaksis
No
Obat
< 3 Tahun
3-6 Tahun
7-10 Tahun
>10 Tahun
1

2

3
Proaquanil (tiap hari)
Pirimetamin (tiap minggu)
Kloroquin basa
25-50 mg

6,5-12,5 mg

50-100 mg
50-75 mg

12,5-25 mg

100-250 mg
100 mg

12,5-25 mg

100-250 mg
100-250 mg

25 mg

300 mg

2.1.10    Pemberantasan Malaria di Indonesia
Di Indonesia sekarang ini dilakukan pemberantasan malaria, dengan tujuan Jawa dan Bali menurunkan endemisitas 0,1 – 0,2 % per tahun dan diluar Jawa dan Bali menurunkan endemisitas ke tingkat yang serendah-rendahnya  (Depkes RI, 1999). Dipakai metode sebagai berikut
1)      Program pengobatan
Di Jawa dan Bali, terhadap kasus-kasus yang secara klinik diduga malaria dilakukan :
a.       Buat sediaan darah tepi untuk mencari parasit malaria
b.      Berikan pengobatan persangkaan (presumtif) dengan kloroqin atau amodiakin dosis tungal 600 mg base per-os.
c.       Bila darah malaria positif, berikan pengobatan sempurna (radikal).
d.      Pemeriksaan orang-orang serumah dan sekitarnya terhadap gejala-gejala malaria.

Di luar Jawa dan Bali, terhadap kasus-kasus yang secara klinik di duga malaria dilakukan :
a.       Berikan pengobatan supresif dengan kloroqin atau amodiakin 600 mg basa, jika gejala menetap pengobatan boleh diulangi
b.      Pengobatan sempurna diberikan bila ada fasilitas laboratorium dan diagnosis malaria dibenarkan, serta tingkat endemisitas rendah (prevalensi kurang dari 5%).
2)      Program penyemprotan
Di Jawa dan Bali, penyemprotan dilakukan terhadap daerah-daerah “fokus aktif” dengan unit desa. Daerah fokus aktif yaitu bila ada penularan di daerah tersebut, hal ini diketahui dengan adanya kasus autochton dan nyamuk anopheles dangan plasmodium di dalamnya.
Di luar Jawa dan Bali, daerah fokus aktif disemprot dengan prioritas:
a.       Tingkat endemisitasnya tinggi
b.      Penduduk yang padat
c.       Produktivitas tinggi
Yaitu terutama daerah-daerah pembangunan dan transmigrasi.
3)      Tindakan anti larva (minyak tanah, “Paris green”)
4)      Laboratorium untuk menyokong program pengobatan.
2.1.11    Pencegahan
1.   Menghindari gigitan nyamuk malaria
Sebaiknya mereka yang tinggal di daerah endemis malaria memasang kawat kasa di jendela dan ventilasi rumah, serta menggunakan kelambu saat tidur. Masyarakat juga dapat memakai minyak anti nyamuk saat tidur malam hari untuk mencegah gigitan nyamuk malaria.
2.      Membunuh jentik dan nyamuk malaria dewasa
Untuk membunuh jentik dan nyamuk malaria dewasa, dapat dilakukan beberapa tindakan berikut ini :
a.       Penyemprotan rumah
Sebaiknya, penyemprotan rumah-rumah di daerah endemis malaria dengan insektisida dilaksanakan dua kali dalam setahun dengan interval waktu 6 bulan.
b.      Larvaciding
Larvaciding merupakan kegiatan penyemprotan rawa-rawa yang potensial sebagai tempat perindukan nyamuk malaria.
c.       Biological control
Biological control adalah kegiatan penebaran ikan kepala timah dan ikan Guppy/wadercetul ke genangan-genangan air yang mengalir dan persawahan. Ikan tersebut berfungsi sebagai pemangsa jentik nyamuk malaria.
3.      Mengurangi tempat perindukan nyamuk malaria
Tempat perindukan nyamuk malaria bermacam-macam, tergantung species nyamuknya. Ada nyamuk malaria yang hidup di kawasan pantai, rawa-rawa, empang, sawah, tambak ikan, atau hidup di air bersih pegunungan.
4.      Pemberian obat pencegahan malaria
Pemberian obat pencegahan (Propilaksis) malaria bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi, serta timbulnya gejala-gejala penyakit malaria.
5.      Pemberian vaksin malaria
Pemberian vaksin malaria merupakan tindakan yang diharapkan dapat membantu mencegah infeksi malaria sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan angka kematian akibat infeksi malaria.
2.1.12    Epidemologi Penyakit Malaria
Penyebaran penyakit malaria pada dasarnya sangat tergantung dengan adanya hubungan interaksi  antara tiga faktor dasar epidemiologi, yaitu agent (Penyebab malaria), host (Manusia dan nyamuk) dan environment (lingkungan). Parasit malaria atau plasmodium merupakan penyebab malaria. Untuk kelangsungan hidupnya parasit malaria tersebut melalui dua siklus yang terdiri dari siklus aseksual dalam tubuh manusia (host intermediare) dan siklus seksual dalam tubuh nyamuk Anopeles (host definitive), Untuk perkembangbiakan nyamuk anopeles sebagai vector penular penyakit  malaria diperlukan  kondisi lingkungan/habitat  yang sesuai dengan kebutuhan hidup nyamuk. Lingkungan dapat ditinjau sebagai lingkungan fisik, lingkungan kimiawi, lingkungan biologi dan lingkungan sosial budaya.
2.1.12.1    Agent (penyebab malaria)
Penyebab malaria adalah genus plasmodia, dan order cocididae. Sampai saat ini di Indonesia dikenal 4 macam spesies parasit malaria, yakni :
1)      Plasmodiom Falcifarum
Terdapat di rawa-rawa penyebab malaria tropika yang sering menyebabkan malaria yang berat atau malaria menyerang saraf otak.
2)      Plasmodium Vivak
Penyebab malaria tertiana menyebabkan penurunan trombosit.
3)      Plasmodium Malariae
Penyebab malaria quartana
4)      Plasmodium Ovale
Jenis ini jarang sekali di jumpai, umumnya banyak di Afrika dan Fasifik barat.
2.1.12.2    Host
Manusia disebut sebagai human reservoir atau sebagai sumber penular apabila didalam darahnya banyak mengandung plasmodium (gametosit). Penularan malaria terjadi apabila vector (nyamuk anopheles) menggigit manusia yang dalam darahnya banyak mengandung gametosit. Di dalam tubuh nyamuk gametosit akan berkembang menjadi gamet jantan dan betina lalu melebur menjadi zygote. Zygote kemudian membentuk ookinet lalu ookista. Ookista pecah menghasilkan sprozoit kemudian menetap di kelenjar ludah nyamuk. Selanjutnya bila nyamuk menggigit manusia maka sporozoit akan masuk ke dalam darah manusia dan berkembang menjadi gametosit.
1)      Manusia (Host Intermediate)
Faktor-faktor pada manusia yang berpengaruh terhadap kejadian malaria, antara lain adalah:
a.       Ras atau suku bangsa
Penduduk Afrika yang kadar haemooglobin S (hb S)nya cukup tinggi ternyata lebih tahan terhadap infeksi P. falciparum. Penyelidikan terakhir menunjukan bahwa hb. S dapat menghambat perkembangbiakan P. Falciparum baik sewaktu invansi sel darah merah maupun sewaktu pertumbuhannya. Hb S terdapat pada penderita dengan kelainan darah yang merupakan penyakit turunan /herediter yang di sebut sickle cell anemia, yaitu suatau kelainan yang berupa perubahan bentuk sel darah merah karena penurunan tekanan oksigen udara.


b.      Kurangnya suatau enzim tertentu
Kurangnya enzim gflukosa 6 fosfat dehidrogenase (G6PD) dapat memberikan perlindungan terhadap infeksi P. Falciparum yang berat. Kekurangngan enzim G6PD ini merupakan penyakit keturunan dengan manifestasi utama pada pria.
c.       Kekebalan pada penyakit malaria dapat didefinisikan sebagai adanya kemampuan tubuh manusia untuk menghancurkan plasmodium yang masuk atau membatasi perkembiakannya/ jumlahnya.
Ada dua macam kekebalan :
1.      Kekebalan alamiah (nataural immunity), adalah kekebalan yang timbul tanpa memerlukan infeksi lebih dahulu.
2.      Kekebalan di dapat (agguaired immunity), terdiri dari kekebalan aktif (active immunity) yang merupakan penguatan dari mekanisme pertahanan tubuh sebagai akibat infeksi sebelumnya atau dari vaksinasi, serta kekebalan pasif atau kekebalan bawaan (congenital immunity) yakni pemindahan anti bodi atau zat-zat yang berfungsi aktif dari ibu kepada janinnya atau melalui pemberian serum dari seseorang yang kebal penyakit.
d.      Umur dan jenis kelamin
Perbedaan angka kesakitan malaria pada laki-laki dan wanita atau pada berbagai golongan umur sebenarnya disebabkan oleh faktor lain seperti pekerjaan, pendidikan, perumahan, migrasi penduduk, kekebalan dan lain- lain.
2).  Nyamuk Anopheles (host definitive)
Hanya nyamuk  anopheles betina yang menghisap darah, karena darah di perlukan untuk pertumbuhan telurnya.
Perilaku nyamuk yang diamati:
a.       Tempat perindukan yang di sukai
b.      Tempat hinggap atau istirahat (eksofilik atau endofilik)
c.       Tempat menggigit (eksofagik atau endofagik)
d.      Obyek yang digigit (antrofofilik atau zoofilik)
e.       Waktu (jam) puncak gigitan
f.       Umur nyamuk (longevity)
2.1.12.3    Environment (Lingkungan)
Faktor lingkungan mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap kejadian malaria di suatau daerah, Keadaan lingkungan yang mempengaruhi penyakit malaria, yaitu :
1.      Lingkungan fisik
Suhu, kelembaban udara, hujan , angin, sinar matahari dan arus air
2.   Lingkungan kimiawi
dari lingkungan ini baru diketahui pengaruhnya adalah kadar garam dari tempat perindukan
3.   Lingkungan biologi          
Tumbuhan bakau, lumut, ganggang dan berbagai jenis tumbuhan lain yang dapat mempengaruhi kehidupan larva nyamuk.
4.   Lingkungan sosial dan budaya
Kebiasaan buruk berada di luar rumah sampai larut malam vektornya lebih bersifat eksofilik, eksofilik akan memperbesar jumlah gigitan nyamuk (Depkes. RI. 1993)
2.1.13    Diagnosis
Diagnosis didasarkan pada gejala serta tanda klinis seperti tersebut diatas ditambah dengan hasil pemeriksaan preparat darah malaria baik berupa tetes tebal maupun hapusan darah tepi (Rampengan, 1997). Pemeriksaan darah tepi, pembuatan preparat darah tebal dan tipis dilakukan untuk melihat keberadaan parasit dalam darah tepi seperti trofozoit yang berbentuk cincin.
2.2        Umur
2.2.1        Pengertian
Menurut Purwadarmita (1984) Umur adalah lama waktu hidup sejak dilahirkan sampai meninggal dunia

2.2.2        Klasifikasi Umur
Menurut Prof. Dr. Sumiati Ahmad Muhammad merupakan guru besar Universitas Gajah Mada pada Fakultas Kedokteran  membagi periodisasi perkembangan manusia sebagai berikut :
0-28 hari             : Bayi
1-6 tahun            : Masa pra sekolah
6-10 tahun          : Masa sekolah
10-20 tahun        : Masa remaja
20-40 tahun        : Masa dewasa
40-65                  : Masa setengah umur (pra senium)
65 tahun ke atas : Masa lanjut usia (senium)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Gagal Ginjal Kronik
1. Pengertian
Gagal ginjal kronik adalah ganguan fungsi renal yang progresif dan irevesibel dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit yang menyebabkan uremia, ( Brunner dan Suddarth, 2001 )
Gagal ginjal kronis adalah kerusakan ginjal progresif yang berakibat fatal dan ditandai dengan uremia (urea dan limbah nitrogen lainnya yang beredar dalam darah serta komplikasinya jika tidak dilakukan dialysis atau tranplantasi gijal), (Nursalam dan fransisca,2008).
Gagal ginjal kronik adalah penurunan fungsi ginjal yang progresif dan irevesibel, dimana ketidak mampuan renal berfungsi dengan adekuat untuk keperluan tubuh (harus dibantu dengan dialisis atau transplantasi), (Masnjoer, 2001)
Gagal ginjal kronik adalah ketidak mampuan ginjal mengejakan fungsinya. Statusnya dalah total atau hampir tidak mampu membuang produk sisa metabolisme dan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit (termasuk keseimbangan asam dan basa), serta tidak mampu mengendalikan tekanan darah, (Long, 1996). Gagal giinjal kronik merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat (biasanya berlangsung beberapa tahun), (Wilson, 2005).
2. Etiologi
Menurut Brunner dan Suddarth, 2001. Gagal ginjal kronik dapat disebabkan oleh beberapa factor antara lain:
a) Infeksi (peradangan)
Gagal ginjal kronoik yang disebabkan oleh infeksi seperti :
1) Plienofitis
Merupakan infeksi saluran kemih yang bagian atas, infeksi ini menyebabkan refluk (gerakan balik) dari urine yang terinfeksi kedalam ureter dan masuk ke ginjal (refluk internal) yang akan mengakibatkan cidera ginjal yang progresif.
2) Glomerulonefitis
Merupakan penyakit peradangan glomerulus bilateral sehingga tidak dapat melakukan proses filtrasi sempurna akibatnya akan dimanifestasikan dengan hematuri/proteinuria, lesi pertama biasanya pada glomerulus dan ahirnya menyebar pada seluruh pada nefron.
b) Nefrosklerosis Maligna (Hipertensi)
Hipertensi yang berlangsung lama dapat menyebabkan perubahan-perubahan pada stuktur arteriole yang berupa fibriosis dan sklerosis dinding vasculer akibatnya terjadi penyempitan lumen pembuluh darah intra renal dan ginjal kekurangan darah lama-lama ginjal atropi dari keadaan ini nefron tidak dapat berfungsi dengan baik.
c) Gangguan Jaringan Penyambung
Penyakit Jaringan Penyambungambung yang dapat menyebabkan gagal ginjal kronik seperti SLE yang mengakibatkan terperangakapnya reaksi antigen dan anti body disirkulisasi pada ginjal poliatritis nodosa yang mengakibatkan radang dari nekrosis pada arteri renalis dan skleroderma yang mengakibatkan sklerosis pada ginjal. Ketiga ppenyakit ini akan membuat nefron tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik.
d) Penyakit Metabolik
Penyakit-panyakit metabolic yang menyebabkan gagal ginjal kronik antaralain DM, gout, hiperparatiroid, dan amilohidosis. Kelebihan zat-zat pada penyakit tersebut akan menyebabkan endapan pada ginjal yang bias menimbulkan kerusakan-kerusakan pada ginjal.
e) Gangguan Kongiunetal dan Heriditer (penyakit ginjal poli gistik)
Suatu keadaan ginjal bawaan dimana terdapat rongga kista yang akan menekan ginjal sehingga lama-lama akan terjadi penghancuran parenkim ginjal dan akan terjadi pembesaran ginjal karena kista seperti buah anggur terisi cairan darah.
f) Nefropati Obstruktif.
Obtruksi saluran kemih bagian atas karena kalkuli, neoplasma, dan obstruksi saluran kemih bagian bawah karena hipertropi prostat dapat mengakibatkan refluk keginjal ( hidronefprosis) selain itu urine refluk ke ginjal juga mengandung kuman, kedua hal ini akan membuat kerusakan pada ginjal.
g) Obat-Obatan
Penyalah gunaan analgesic nefropati timbal bisa menjadi toksik. Obat-obatan bisa masuk ke ginjal melalui aliran darah, insufiensi ginjal yang mengakibatkan konsentrasi cairan dalam tubulus akibatnya tubuh akan lelah/lemah jika ini terjadi dalam waktu yang cukup lama.


















3. Patofisiologi
Ganguan Hipertensi Infeksi perradangan Gangguan Penyykit Obstruksi Obat dan
Metabolic (pielonefitis dan kongerital jaringan traktus racun
Glomerunefritis) Heredital penyambung urinarius


Terjadi kerusakan
Nefron 70-80%
Menurunnya fungsi ginjal
Penurunan GFR

GFR turun 50%-75 Penurunan GFR 20-35% Penurunan GFR 5%-25%

Tidak ada Sisa Kerusakan Nefron Nefron Banya Rusak
Metabolik (Nefron (beratnya beban)
Sehat mengkompensasi Jaringan Parut
Nefron rusak ) Akumulasi Sisa Metabolik
Atrofi Ginjal
Penurunan Komponen Penurunan Respon Diuretik
Konsentrasi urine
Oliguria Gagal Ginjal akut
Nocturia dan poliuria
Oedema
Penurunan fungsi ganjal
Insufiensi Ginjal
Bagan II.I. Patofisiologi Gagal Ginjal Kronik (Brunner dan Suddrat, 2001)
4. Stadium gagal ginjal kronik
Perjalanan umum gagal ginjal kronik menurut Suharyanto dan Madjid, (2009) dapat dibagi menjadi 3 (tiga) stadium, yaitu:
a) Stadium I, dinamakan penurunan cadangan ginjal.
Selama setadium ini kreatinin serum dan kadar BUN normal, dan penderita asimtomatik. Ganguan fungsi ginjal hanya dapat diketahui dengan tes pemekatan kemih dan tes GFR yang diteliti.
b) Stadum II, dinamakan insufiensi ginjal.
1) Pada setadium ini, dimana lebih 75% jaringan yang berfungsi telah rusak.
2) GFR besarnya 25% dari normal
3) Kadar BUN dan kreatinin serum mulai meningkat dari normal.
4) Gejala-gejala nokturia atau sering berkemih dimalam hari sampai 700 ml dan poliuria (akibat dari kegagalan pemekatan) mulai timbul.
c) Stadium III, dinamakan stadium ahir atau uremia.
1) Sekitar 90% dari masa nefron telah hancur atau rusak, atau sekitar 200.000 nefron saja yang masih utuh.
2) Nilai GFR hanya 10% dari keadaan normal.
3) Kreatinin serum dann BUN akan meningkat dengan mencolok.
4) Gejala-gejala yang timbul karena ginjal tidak sanggup lagi mempertahankan homeotastis cairan elektrolit dalam tubuh, yaitu oliguri karena kegagalan glomerulus, sindrom uremik.

5. Manifestasi Klinis.
Gagal ginjal karonik merupakan sebutan bagi kondisi gagal ginjal yang ditandai dengan keadaan klinis yang menunjukkan penurunan progresif fungsi ginjal secara perlahan tetapi pasti yang dapat mencapai 60% dari kondisi normal, menuju ketidak mampuan ginjal. Gejala utama dari gagal ginjal kronik berupa, keluhan rasa sakit didaerah pinggang yang dapat disertai dengan rasa mual, muntah, gatal-gatal pada kulit, lemas, lesu, cepat lelah, nafsu makan menurun, frekuwensi dalam buang air kecil dan jumlah urine berubah, libido menurun beserta menstrulasi yang tidak teratur. (Lubis. A, 2006)
Manifestasi klinis gagal ginjal kronik menurut Wilson, (2005) antara lain sebagai berikut:
a. Biokimia
Asidosis, Metabolik (HCO3 serum 18-20 mEq/L), Azotemia (penuruna GFR, meyebabkan peningkatan BUN dan kreatinin) Hiperkalemia, Retensi atau pembuangan Na Hipermagnesia, Hiperurisemia.
b. Saluran Cerna
Anoreksia, mual muntah, menyebabkan penurunan berat badan, Nafas bau amoniak, Rasa kecap logam, mulut kering, Stomatitis, Parotitis, Gastritis, Entritis, Pendarahan saluran cerna, Diare.


c. Genitourinaria
Poliuria, berlanjut menuju oliguri, lalu anuria, Nokturia, pembalikan irama diurnal, Berat Jenis kemih tetap sebesar 1,010, Proteinuria, Silinder, Hilangnya Libido, Amenore, Impotensi dan Sterilitas.
d. Metabolisme
Protein–intoleransi, Sintensis abnormal karbohidrat Hiperglikemia, kebutuhan insulin menurun, Lemak - peningkatan kadar trigliserida, Mudah lelah.
e. Neuromuskuler
Mudah lelah, Otot mengecil dan lemah, SSP : penurunan ketajamann mental, konsentrasi buruk, apatis, letargi/gelisah, insomnia kekacauan mental, Koma, Otot berkedut, Asteriksis, Kejang. Neuropati Perifer : konduksi saraf lambat, perubahan sensorik pada ekstremitas – parestesi, perubahan motorik – food drop yang berlanjut menjadi menjadi paraplegia.
f. Kardiovaskuler
Hipertensi, Retinparti dan Ensefalopati hipentensif, Beban sirkulasi berlebihan, Edema, Gagal jantung kongestif, Perikarditis dan Disritmia.
g. Ganguan Kalsium dan Rangka
Hiperposfatemia, Hipokalsemia, Hiperparatiroidtisme sekunder. Osteodistrofi, Fraktur patologik (demineralisasi tulang), Deposit garam kalsium pada jaringan lunak (sekitar sendi, pembuluh darah, jantung dan paru). Konjungtifitis (uremia mata merah).
h. Pernapasan
Pernapasan Kussmaul, Dispnea, Edema paru, Pneumonitis.
i. Kulit
Pucat, Pigmentasi, Perubahan Kulit dan Kuku (kuku mudah patah, tipis, bergerigi, ada garis-garis merah-biruyang berkaitan dengan kehilangan protein), Pruritus, Kristal uremik, Kulit kering, dan Memar.
j. Hematologi
Anemia menyebabkan kelelahan, Hemolisis, Kecendrungan pendarahan, Menurunya resistennsi terhadap infeksi (infeksi saluran kemih, pneumonia, septicemia).
6. Komplikasi
Menurut Smeltzer (2000), komplikasi potensial gagal ginjal kronik yang memerlukan pendekatan kolaboratif dalam perawatan, mencakup :
a. Hiperkalemia
Akibat penurunan ekskresi, asidosis metabolik, katabolisme dan masukan diet berlebih.
b. Perikarditis
Efusi perikardial , dan tamponade jantung akibat retensi produk sampah uremik dan dialisis yang tidak adekuat.


c. Hipertensi
Akibat retensi cairan dan natrium serta mal fungsi sistem renin, angiotensin, aldosteron.
d. Anemia
Akibat penurunan eritropoetin, penurunan rentang usia sel darah merah, perdarahan gastro intestinal.
e. Penyakit tulang serta kalsifikasi metastatik akibat retensi fosfat.
f. Asidosis
Keadaan pada saat darah terlalu banyak mengandung asam (atau terlalu sedikit mengandung basa) dan sering menyebabkan menurunnya pH darah.
g. Hiperurisemia
Terjadi akibat meningkatnya produksi ataupun menurunnya pembuangan asam urat, atau kombinasi dari keduanya.
7. Penatalasanaan Gagal Ginjal Kronik..
a. Pemeriksaan Penunjang.
Menurut Doenges (2000) pemeriksaan penunjang pada pasien GGK adalah :
1) Laboratorium.
a) Volume urine, Biasanya kurang dari 400 ml/ 24 jam (fase oliguria) terjadi dalam (24 jam – 48) jam setelah ginjal rusak.
b) Warna Urine, Kotor, sedimen kecoklatan menunjukan adanya darah.
c) Berat jenis urine Kurang dari l,020 menunjukan penyakit ginjal contohnya glomerulonefritis, pielonefritis dengan kehilangan kemampuan memekatkan menetap pada l, 0l0 menunjukkan kerusakan ginjal berat.
d) pH Lebih besar dari 7 ditemukan pada ISK, nekrosis tubular ginjal dan rasio urine/ serum saring (1 : 1).
e) Kliren kreatinin Peningkatan kreatinin serum menunjukan kerusakan ginjal.
f) Natrium Biasanya menurun tetapi dapat lebih dari 40 mEq/ ltr bila ginjal tidak mampu mengabsorpsi natrium.
g) Bikarbonat Meningkat bila ada asidosis metabolik.
h) Protein Proteinuria derajat tinggi (+3 – +4 ) sangat menunjukkan kerusakan glomerulus bila Sel darah merah dan warna Sel darah merah tambahan juga ada. Protein derajat rendah (+1 – +2) dan dapat menunjukan infeksi atau nefritis intertisial.
i) Warna tambahan Biasanya tanda penyakit ginjal atau infeksi tambahan warna merah diduga nefritis glomerulus.
j) Hemoglobin, Menurun pada anemia.
k) Sel darah merah, Sering menurun mengikuti peningkatan kerapuhan / penurunan hidup.
l) Kreatinin, Biasanya meningkat pada proporsi rasio (l0:1).
m) Osmolalitas, Lebih besar dari 28,5 m Osm/ kg, sering sama dengan urine
n) Kalium, Meningkat sehubungan dengan retensi urine dengan perpindahan seluler (asidosis) atau pengeluaran jaringan (hemolisis sel darah merah).
o) Natrium, Biasanya meningkat, tetapi dapat bervariasi.
p) pH, Kalium & bikarbonat, Menurun.
q) Klorida fosfat & Magnesium, Meningkat.
r) Protein, Penurunan pada kadar serum dapat menunjukan kehilangan protein melalui urine, perpindahan cairan penurunan pemasukan dan penurunan sintesis karena kekurangan asam amino esensial.
2) Radiologi
1) Pemeriksaan EKG, Untuk melihat adanya hipertropi ventrikel kiri, tanda perikarditis, aritmia,dan gangguan elektrolit (hiperkalemi, hipokalsemia)
b) Pemeriksaan USG, Menilai besar dan bentuk ginjal, tebal korteks ginjal, ureter proksimal dan kandung kemih.
c) Pemeriksaan Radiologi, Renogram, Intravenous Pyelography, Retrograde Pyelography, Renal Aretriografi dan Venografi, CT Scan, MRI, Renal Biopsi, pemeriksaan rontgen dada, pemeriksaan rontgen tulang, foto polos abdomen
b. Tindakan Konservatif
1) Perawatan diet protein, kalium, natrium, dan cairan.
Tindakan ini dilakukan penderita yang mengalami azotemia yang bertujuan untuk merendahkan atau menghambat gangguan ginjal.
a) Pengontrolan Keseimbangan cairan Masuk dengan keluar dalam 24 jam (Balance Intake Output)
b) Pembatasan jumlah protein (Diit rendah protein).
c) Pembatasan pemberian natrium / garam, bertujuan untuk menurunkan tekanan darah, oedema atau bendungan paru.
d) Pembatasan pemberian kalium
Untuk mencegah / mengurangi aritmia / henti jantung dengan cara mengurangi konsumsi buah-buahan dan sayuran yang mengandung tinggi kalium.
e) Pemberian Tranfusi, pencegahan pendarahan dan pemberian vitamin untuk mengurangi anemia.
f) Mengurangi asupan asam urat dalam tubuh.
Dengan cara diit rendah asam urat, misalnya menghindari konsumsi jeron dan lain-lain atau dengan pemberian kolkisin pada gout.
g) Diit Tinggi kalsium.
Dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung kalsium, misalnya susu tinggi kalsium, Selain itu usaha diit untuk menurunkan kadar fosfat juga meningkatkan kadar kalsium.
h) Pengobatan Segera Terhadap infeksi
Untuk mencegah infeksi sampai / masuk ke ginjal karena penderita gagal ginjal kronik terjadi penurunan imunitas
c. Terapi yang diberikan pada klien gagal ginjal kronis.
Terapi yang diberikan pada klien gagal ginjal kronis menurut Djibril, (2008). Atara lain adalah:
1) Klien diberikan tensivask 1x1 yang berfungsi untuk menurunkan hipertensi klien
2) Klien kekurangan kalsium, pemeriksaan Lab menunjukan kalsium klien hanya 6,8 mmol/dl. Normalnya adalah 8.1-10.4 mmol/dl. Oleh karena itu klien diberikan terapi CaCO3 (Calsium Carbonat) 3x1 yang berfungsi untuk meningkatkan kalsium dalam tubuh.
3) Klien diberikan Infus D5 lini mikro, artinya klien diberikan cairan infus asal netes menggunakan mikro drip. Pada klien gagal ginjal kronis pemasukan cairan harus dibatasi, karena ginjalnya telah rusak maka kehilangan keseimbangan untuk mengatur cairan dan elektrolit dalam tubuh. Oleh karena itu cairan yang masuk asal netes, karena untuk meminimalkan kerja ginjal yang rusak.
4) Klien mengalami konjungtiva anemis, karena ginjal telah rusak maka produksi eritripoetinya berkurang dan sel darah merah juga kurang. Oleh karena itu klien diberikan terapi asam folat untuk pematangan sel darah merah.
5) Klien mengalami sesak. untuk mengurangi rasa sesak, maka klien diberikan terapi oksigen 2-3 L.
6) Rencana diberikan tranfusi PRC 2 lbu jika hiperkaleminya tertangani. Jika klien diberikan tranfusi saat kaliumnya tinggi, maka tranfusinya tidak akan efektif. Darah yang masuk kemungkinan besar akan rusak, karena kalium dapat melisiskan darah.
7) Klien diberiakan RI(Regional Insulin) 10 IU (internasional Unit) dalam Dex 40% 2 Fl. (Flakon) Bolus. Glukosa, Insulin atau klsium glukonat dapat digunakan sebagai tindakan darurat sementara untuk menangani hiperkalemia. Glukosa dan insulin mendorong kalium kedalam sel sehingga kadar serum kalium menurun sementara sampai kalium diambil melalui proses dialisa.
d. Pencegahan dan Pengobatan Komplikasi
Pencegahan dan pengobatan komplikasi menurut Suharyanto dan Madjid, 2009 antara lain sebagai berikut
1) Pencegahan Komplikasi
Pengaturan diet protein, kalium, natrium dan cairan
a) pembatasan protein.
Pembatasan protein tidak hanya mengurangi kadar BUN, tetapi juga mengurangi asupan kalium pada fosfat, serta mengurangi produksi ion hydrogen yang berasal dari protein.pembatasan asupan protein telah terbukti menormalkan kembali kelainan ini dan memperlambat terjadinya gagal ginjal. Jumlah kebutuhan protein biasanya dilonggarkan sampai 60-80 g/hari, apabilla penderita mendapatkan pengobatan dialisis teratur.
b) Diet rendah kalium
Hiperkalemia biasanya merupakan masalah pada gagal ginjal lanjut.Asupan kalium dikurangi.Diet yang di anjurkan adalah 40-80 mEq/hari.pengunaan makanan dan obat-obatan yang tinggi kadar kaliumnya dapat menyebabkan hiperkalemia.


c) Diet rendah natrium.
Diet Na yang di anjurkan adalah 40-90mEq/hari(1-2gNa).Asupan natrium yang terlalu longgar dapat menyebabkan retensi cairan, oedema, perifer, oedema paru, hipertensi dan gagal ginjal kongestif.
d) Pengaturan cairan
Cairan yang diminum penderita gagal ginjal tahap lanjut harus diawasi dengan seksama.parameter yang tepat untuk diikuti selain data asupan dan pengeluaran cairanyang di catat dengan tepat adalah pengukuran Berat harian.Asupan yang bebas dapat menyebabkan beban sirkulasi menjadi berlebihan,dan, edema.sedangkan asupan yang terlalu rendah mengakibatkan dehidrasi,hipotensi dan gangguan fungsi ginjal.
Aturan yang dipakai untuk menentukan banyaknya asupan cairan adalah

Misalnya jika jumlah urin yang dikeluarkan dalam waktu 24 jam adalah 400ml,maka asupan cairan total dalam sehari adalah 400+500 ml =900 ml.
2) Pengobatan komplikasi gagal gijal kronik
a) Hipertensi
1) Hipertensi dapat dikontrol dengan pembatasan natrium dan cairan.
2) Pemberian obat antihipertensi, metildopa (aldomet) propranolol, klonidin (catapres.)
Apabila penderita sedang mengalami terapi hemodialisa, pemberian anti hipertensi dihentikan karena dapat mengakibatkan hipotensi dan syok yang diakibatkan oleh keluarnya cairan intravaskuler melalui ultrafiltrasi.
3) Pemberian diuratik, furasemid (lasik)
b) Hiperkalemia,
Hiperkalemia merupakan komplikasi yang sangat serius, karena bila K+ serum mencapai sekitar 7 an mEq/L, dapat mengakibatkan aritmia dan juga henti jantung .
Hiperkalemia dapat diobati dengan pemberian glukosa dan insulin intravena,yang akan memasukan K+ kedalam sel ,atau dengan pemberian Kalsium Glukonat 10%.
c) Anemia
Anemia pada gagal ginjal kronik diakibatkan penurunan sekresi erittroporitin oleh ginjal.pengobatanya adalah pemberian hormone eritropoitin.yaitu rekombinan eritropoitin (r-EPO), selain dengan pemberian vitamin dan asam Folat,besi dan tranfusi darah.
d) Asidosis
Asdosis ginjal biasanya tidak diobati kecuali HCO3 plasm turun di bawah angka 15 mEq/L.Bila asidosis berat akan dikoreksi deng an pemberian NaHCO3 (natrium bikarbonat parentral) koreksi PH darah yang berlebihan dapat menimbulkan tetani, maka harus dimonitor dengan seksama.
e) Pengobatan Hiperurisemia
Obat pilihan untuk mengobati hiperuresemia pada penyakit ginjal adalah dengan pemberian alupurinol. obat ini mengurangi kadar asam urat dengan menghambat biosintesis sebagian asam urat total yang dihasilkan tubuh.
e. Dialisis.
1) Hemodialisis
Hemodialisis adalah proses pembersihan darah oleh akumulasi sampah buangan. Hemodialisis digunakan bagi pasien dengan tahap ahir gagal ginjal atau pasien yang berpenyakit akut yang membutuhkan haemodialisis, (Nursalam dan fansisca. 2008)
Hemodialisa merupakan suatu tindakan terapi dengan dialisa sebagai pengganti fungsi ginjal untuk menurunkan kadar racun dalam di dalam darah. Pada proses ini zat-zat racun (toksik), air dan elektrolit yang tidak bisa dikeluarkan lagi oleh ginjal yang sakit, di bersihkan dari darah melalui proses haemodialisis, (Setiawan, 2008).
2) Manfaat Hemodialisa
a) Meningkatkan kualitas hidup bagi penderita gagal ginjal terminal.
b) Meningkatkan status fungsional penderita gagal ginjal terminal agar tetap dalam kondisi baik prima
3) Komplikasi Diadilisis
Menurut Suharyanto dan Madjid, (2008). Meskipun hemodialisis dapat memperpanjang usia tanpa batas yang jelas, tindakan ini tidak akan mengubah perjalanan alami peykit ginjalyang mendasari dan mengendalikan seluruh fungsi ginjal. Pasien akan teetap mengalami sejumlah permasalahan dan komplikasi. Salah satu penyebab kematian diantara pasien-pasien yang menjalani dialisis kronis adalah penyakit kardiovascular arteriosklerotik. Gangguan metabolisme lipid (hipertrigliseridemi) tampaknya semakin diperberat dengan tindakan haemodialisis.
Gagal jantung kongesif, penyakit jantung koroner serta nyeri angina pectoris., stroke dan insufiensi vaskuler perifer juga dapat terjadi serta membuat pasien tidak berdaya. Komplikasi dialsis dapat mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Hipotensi, dapat terjadi selama terapi dialiisis ketika cairan dikeluarkan.
b. Emboli udara, merupakan komplikasi yang jarang terjadi tetapi dapat terjadi jika udara memasuki system vaskuler.
c. Nyeri dada, dapat terjadi karena PCO2 menurun bersamaan dengan sikulasi darah diluar tubuh.
d. Pruritus, dapat terjadi selama dialisis ketika produk ahir metabolisme meninggalkan kulit.
e. Gangguan keseimbangan dialisis, terjadi karena perpindahan cairan selebral dan muncul berbagai serangan kejang. Komplikasi ini kemungkinan terjadi lebih besar jika terdapat gejala uremia yang berat.
f. Kram otot, terjadi ketika cairan dan elektrolit dengan cepat meninggalkan ruang ekstra sel.
g. Mual muntah, merupakan peristiwa yang sering terjadi.
f. Dialisis peritonial
Dialisis peritoneal adalah suatu tindakan untuk membuang metabolisme dalam dalam darah yang berlebihan akibat gangguan ginjal kronik (GGK) melalui dinding abdomen sebagai membran semi parmiabel secara difusi dan ultrafiltrasi osmosis. Cairan dialysis yang tinggi glukosa masuk kedalam rongga peritoneal dengan diding abdomen sebagai membrane semi permiabel akan terjadi perpindahan solute-solut yang berlebihan dalam darah kecairan dialisit tinggi glukosa maka cairn yang berlebihan dalam rongga peritoneal tertrik glukosa secara osmosis, akibat perbedaan tekanan cairan juga akan pindah secara ultrafiltrasi, maka kelebahhan solute dan cairan dalam tubuh akan di keluarkan bersama cairan dialist dari tubuh dengan bantuan gaya gravitasi, (Long, 1996)
g. Tranplantasi ginjal
Tranplantasi ginjal adalah suatu tindakan yang dilakukan pada pasien gagal ginjal kronik (GGK) dengan menanamkan ginjal sehat dari orang lain pada fosa illiaka anterior Krista illiaka untuk menggantikan ginjal yang rusak. Trnplantasi ginjal bertujuan agar pasien gangguan ginjal kronik (GGK) tidak tergantung lagi dengan obat atau tidakan dialysis, (Doenges, 2000)




B. Konsep Prilaku dan Keteraturan berobat
1) Pengertian Perilaku
Perilaku dalam pandangan biologis adalah merupakan suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan. Jadi perilaku manusia pada hakikatnya adalah suatu aktivitas pada manusia itu sendiri, (Notoatmodjo,2003)
Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain : berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar, (Notoatmodjo,2003).
Perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespons, maka teori Skinner ini disebut teori “S-O-R” atau Stimulus – Organisme – Respon, (Skinner,2003)
Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua (Notoatmodjo, 2003) :
a) Perilaku tertutup (convert behavior)
Perilaku tertutup adalah respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup (convert). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain.
b) Perilaku terbuka (overt behavior)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek, yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain.
2) Prilaku Kesahatan
Perilaku kesehatan menurut Notoatmodjo (2003), adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit atau penyakit, sistim pelayanan kesehatan, makanan, dan minuman, serta lingkungan. Dari batasan ini, perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok :
a) Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintanance).
Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit.
b) Perilaku pencarian atau penggunaan sistem atau fasilitas kesehatan, atau sering disebut perilaku pencairan pengobatan (health seeking behavior).
Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan.
c) Perilaku kesehatan lingkungan
Adalah apabila seseorang merespon lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial budaya, dan sebagainya.
3) Keteraturan Berobat
Keteraturan adalah suatu perilaku dari seseorang yang secara tetap dan periodic untuk melakukan aktivitasnya,perilaku itu sendiri di pandang dari segi biologis adalah suatu kegiatan organisme yang bersangkutan. Jadi perilaku manusia pada hakekatnya adalah aktivitas dari manusia itu sendiri. Baik yang dapat dicermati secara langsung maupun seseorang pada dasarnya adalah respon seseorang / organisme terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakitnya.Sistem pelayanan kesehatan dan pengobatan, (Notoadmojo, 1997).
Kepatuhan adalah suatu prilaku manusia yang taat terhadap aturan, perintah, prosedur dan disiplin (Ali, 1993). Nurbaiti (2004), mengemukakan kepatuhan dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, seperti usia, pendidikan, pengetahuan dan masa kerja. Sementara menurut Notoatmodjo (2003), faktor yang mempengaruhi kepatuhan adalah pendidikan, usia, dan motivasi.
Banyak faktor yang mempengaruhi keteraturan pasien Gagal Ginjal Kronik dalam menjalani perawatan hemodialisa. Faktor-faktor tersebut antara lain tingkat pengetahuan penderita, tingkat ekonomi, sikap pasien, usia, dukungan keluarga, jarak dengan pusat hemodialisa, nilai dan keyakinan tentang kesehatan, derajat penyakit, lama menjalani hemodialisa, motivasi dan faktor keterlibatan tenaga kesehatan. Kepatuhan pasien dalam menjalani hemodialisa dapat memperpanjang umur dan mendapatkan kesehatan yang lebih baik, (Fitriani, 2010)
Kepatuhan terapi pada penderita hemodialisa merupakan hal yang penting untuk diperhatikan, karena jika pasien tidak patuh akan terjadi penumpukan zat-zat berbahaya dari tubuh hasil metabolisme dalam darah. Sehingga penderita merasa sakit pada seluruh tubuh dan jika hal tersebut dibiarkan dapat menyebabkan kematian. Pada dasarnya penderita gagal ginjal baik akut maupun kronik sangat tergantung pada terapi hemodialisa yang fungsinya menggantikan sebagian fungsi ginjal, (Sunarni, 2009).
Hemodialisa harus dilakukan secara teratur tanpa boleh dilewatkan satu haripun. Biasanya hemodialisa dilakukan 2 – 3 kali dalam satu minggu yang membutuhkann waktu 3 – 6 jam setiap kali melakukan hemodialisa. Hemodialisa tidak bisa dihentikan kecuali jika menjalani pencangkokan ginjal, kegiatan hemodialisa akan berlangsung terus menerus selama hidupnya (Lubis, 2006). Apabila hemodialisa tidak dilakukan atau dilewatkan hanya 1 kali maka pasien akan mengalami penurunan kesehatan dan akan jatuh kembali ke GGK yang hebat sehingga dapat mengakibatkan kematian, (Rubin, 2005).

C. Pendapatan Keluarga
Pendapatan menurut ilmu ekonomi merupakan nilai maksimum yang dapat dikonsumsi oleh seseorang dalam suatu periode dengan mengharapkan keadaan yang sama pada akhir periode seperti keadaan semula. Pengertian tersebut menitikberatkan pada total kuantitatif pengeluaran terhadap konsumsi selama satu periode. Dengan kata lain, pendapatan adalah jumlah harta kekayaan awal periode ditambah keseluruhan hasil yang diperoleh selama satu periode, bukan hanya yang dikonsumsi, (Rustam, 2002). Pendapatan Keluarga adalah jumlah rata-rata pendapatan per bulan dalam enam bulan terakhir yang diperoleh dari pekerjaan suami atau istri (dalam rupiah), (Budiadi dan Murti, 2006).
Pendapatan (income) adalah kegiatan yang bertujuan memasukkan uang/harta. Biasanya pendapatan dapat diperoleh dari dua aktivitas, yaitu Gaji dan Investasi. Gaji diperoleh dari status kita sebagai pegawai ,karyawan, professional/konsultan. Dalam sebuah keluarga gaji ini bisa diperoleh oleh suami dan istri yang bekerja. Hasil Investasi diperoleh dari aktivitas kita dalam mengembangkan uang/harta dalam berbagai cara, (Ziddu, 2009).
Tingkat ekonomi atau penghasilan yang rendah akan berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan maupun pencegahan. Seseorang kurang memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada mungkin karena tidak mempunyai cukup uang untuk membeli obat atau membayar transportasi, (Notoadmodjo,1997).
Tingkat ekonomi dapat mempengaruhi pemilihan metode terapi yang akan digunakan oleh klien gagal ginjal kronis. Biaya yang harus dikeluarkan oleh klien cukup besar meliputi obat,pemeriksaan laborat,transportsi,hemodialisis dan transplantasi.Aspek penting lain dari biaya adalah adanya komplikasi atau efek samping yang timbul akibat tindakan hemodialisis dan transplantasi, (Indonesian Nursre, 2008). Pendapatan Keluarga diukur dengan banyaknya akumulasi pendapatan semua anggota keluarga, setelah dikonpersi menjadi per bulan, jadi satuannya adalah rupiah per bulan (Rp/bulan). Sebagai patokan atau standar dalam menentukan rendah atau tidak pendapatan keluarga adalah dengan membandingkan dengan upah minimum provinsi (UMP) Bengkulu Menurut standar BPS tahun 2009 , upah minimum yang diterima Rp. 1.400.552.

D. Jarak Tempuh
Jarak adalah angka yang menunjukkan seberapa jauh suatu benda berubah posisi melalui suatu lintasan tertentu. Dalam fisika atau dalam pengertian sehari-hari, jarak dapat berupa estimasi jarak fisik dari dua buah posisi berdasarkan kriteria tertentu (misalnya jarak tempuh antara Jakarta-Bandung). (Wikipedia, 2008)
Jarak tempuh menurut Soedinar (1997). adalah jauh dekatnya antara suatu tempat ke tempat lain. Jarak yang jauh akan menghambat orang untuk mengkunjungi suatu tempat pengobatan dan jarak yang dekat akan mempengaruhi seseorang untuk datang ketempat pengobatan. Jarak adalah jarak antara rumah tempat tinggal dan tempat layanan kesehatan (dalam Km). Menurut Supriani, dalam Oktasari, (2007). Jarak Rumah dekat ( < 5 km ) dari tempat pengobatan akan lebih teratur / patuh dibandingkan dengan jarak ( > 5 km ) dari tempat pengobatan.
Jarak pusat haemodialisa dengan tempat tinggal pasien juga kemudahan terjangkau oleh transportasi umum juga berpengaruh terhadap kepatuhan seseorang dalam menjalani terapi haemodialisis. Mereka yang tinggal didaerah yang belum ada fasilitas haemodialisis tentu akan lebih sulit dan memerlukan biaya yang lebih besar untuk mencapai lokasi, (Indonesian Nurse, 2008)


E. Motivasi
Motivasi adalah dorongan, sebab atau alasan seseorang melakukan sesuatu. Dengan demikian motivasi berarti suatu kondisi yang mendorong atau menjadikan sebab seseorang melakukan suatu perbuatan/ kegiatan, yang berlangsung secara sadar. (Nawawi, 2001)
Motivasi adalah suatu dorongan dari dalam diri seseorang yang menyebabkan orang tersebut melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan. Motivasi tidak dapat diamati, yang dapat diamati adalah kegiatan atau mungkin alasan-alasan tindakan tersebut. (Notoatmojo, 2007)
Pembagian motivasi dapat dibagi berdasarkan pandangan dari para ahli, antara lain sebagai berikut.
1. Woodworth dan Marquis dalam notoatmojo (2007), membedakan motivasi yang berdasarkan kebutuhan manusia menjadi 3 macam:
a. Motivasi kebutuhan organis, seperti minum, makan, bernafas, seksual, bekerja, dan beristirahat.
b. Motivasi darurat, yang mencakup dorongan-dorongan menyelamatkan diri berusaha, dan dorongan untuk membalas.
c. Motivasi objektif, yang meliputi kebutuhan untuk melakukan eksplorasi, melakukan manipulasi, dan sebagainya.
2. Pembagian motivasi berdasarkan atas terbentuknya motivasi tersebut mencakup.
a. Motivasi-motivasi pembawaan, yang dibawa sejak lahir, tanpa dipelajari, misalnya dorongan untuk makan, minum, beristirahat, dorongan seksual, dan sebagainya.
b. Motivasi yang dipelajari, yaitu motivasi-motvasi yang timbul karena dipelajari, seperti dorongan untuk belajar sesuatu, dorongan untuk mengejar kedudukan, dan sebagainya.
3. Pembagian motivasi menurut penyebabnya
a. Motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi yang berfungsi karena adanya rangsangan dari luar, misalnya mahasiswa yang belajar karena ia tahu bahwa besok ia akan ujian.
b. Motivasi intrinsik, yaitu motivasi yang berfungsi tanpa rangsangan dari luar tetapi sudah dengan sendirinya terdorong untuk berbuat sesuatu.
Tanpa ada motivasi yang kuat dari diri pasien untuk melakukan terapi/pengobatan akan berpengaruh terhadap keteraturan pasien dalam menjalani program pengobatan terutama pada pasien yang mengalami penyakit akut, (Indonesian Nurse, 2008).
Motivasi sangat diperlukan pasien penderita gagal ginjal untuk mendorong perilaku mereka agar rutin dalam menjalani terapi hemodialisis dengan tujuan memperpanjang usia. Tanpa adanya motivasi, mustahil terapi hemodialisis dapat berjalan sesuai jadwal, (Wahyuni, 2010).

F. Kerangka Konsep
Faktor pendapatan keluarga berhubungan dengan keteraturan pasien gagal ginjal kronik menjalani program menjalani terapi haemodilisa. Faktor jarak tempuh berhubungan dengan keteraturan pasien gagal ginjal kronik menjalani program program terapi menjalani haemodialisa. Faktor motivasi berhubungan dengan keteraturan pasien gagal ginjal kronik menjalani program haemodialisa
Bagan 2.1. kerangka konsep penelitian
Varibel Independen Variabel Dependen



G. Hipotesis
Ha : Ada hubungan antara pendapatan keluarga dengan keteraturan pasien gagal ginjal kronik menjalani program hemodialisa di ruang Hemodialisa RSUD. Dr. M. Yunus Bengkulu
Ha : Ada hubungan antara jarak tempuh dengan keteraturan pasien gagal ginjal kronik menjalani program hemodialisa di ruang Hemodialisa RSUD. Dr. M. Yunus Bengkulu.
Ha : Ada hubungan antara motivasi pasien dengan keteraturan pasien gagal ginjal kronik menjalani program hemodialisa di ruang Hemodialisa RSUD. Dr. M. Yunus Bengkulu.