Saturday, 7 August 2010

hepatitis

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional. Tujuan pembangunan Indonesia sehat adalah meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang optimal ditandai oleh penduduknya yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang optimal. Derajat kesehatan yang optimal akan dilihat dari unsure kualitas hidup serta unsur-unsur mortalitas (angka kematian) yang mempengaruhinya, yaitu morbiditas (angka kesakitan) serta status gizi. Indikasi morbiditas, salah satunya adalah Hepatitis (Dinkes Propinsi Bengkulu, 2002).
Penyakit Hepatitis diumpamakan seperti pohon yang terus berkembang dari tahun ketahun. Hepatitis adalah penyakit yang dapat merusak dan dapat berlangsung lama dan menjadi berat. (health). Hepatitis B adalah suatu penyakit hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis B, suatu anggota family Hevadnavirus yang dapat menyebabkan peradangan hati akut menahun yang pada sebagian kecil kasus dapat berlanjut sirosa hati atau kanker hati. (Filbert Anthony, 2006).
Imunisasi hepatitis B sedini mungkin setelah lahir, mengingat sekitar 33 % ibu melahirkan di negara berkembang adalah pengidap HBsAg ( Hepatitis B serum Antigen ) positif dengan perkiraan transmisi maternal 40 % ( Ikatan Dokter Anak Indonesia, 1999). Pemberian imunisasi hepatitis B kepada bayi sedini mungkin menjadi prioritas program imunisasi hepatitis B. hal ini akan memberikan perlindungan segera bagi bayi tersebut dari infeksi yang sudah terjadi (melalui penularan perinatal). (Bambang. H, 2002).
Imunisasi hepatitis B cukup efektif untuk mencegah penyakit hepatitis B dan juga untuk mencegah kanker hati. Vaksin ini memberikan daya lindung yang sangat tinggi (> 96 %) tehadap penyakit hepatitis B, sebagaimana telah terbukti pada berbagai percobaan klinis dari jutaan pemakainya. Bila jadwal vaksin telah dijalani selengkapnya, maka daya lindungnya akan bertahan lebih kurang selama 5 tahun, setelah ini dapat diberikan tambahan imunisasi untuk memperpanjang daya lindungnya.
Persentase cakupan imunisasi Hepatitis B1 di Indonesia yang diberikan pada bayi dengan usia kurang dari 7 hari pada tahun 2000 sebesar 3 % dan mengalami peningkatan pada tahun 2002 menjadi 10 %, sedangkan cakupan imunisasi Hepatitis B yang diberikan pada bayi dengan usia lebih dari 7 hari pada tahun 2000 sebesar 90% mengalami penurunan pada tahun 2002 menjadi 50 %. Cakupan imunisasi Hepatitis B1 secara keseluruhan mengalami penurunan dari tahun 2000 sebesar 93 % menjadi 60 % pada tahun 2002.
Jumlah bayi di Bengkulu pada tahun 2009 adalah 8.251 bayi, dengan hasil Cakupan imunisasi Hepatitis B1 yang diberikan pada bayi dengan usia 0-7 hari masih sangat rendah yaitu hanya 3.443 bayi dari 8.251 bayi keseluruhan ( 29,7 % ) (Dinas Kesehatan Kota Bengkulu, 2009).
Faktor – faktor yang mempengaruhi cakupan imunisasi : 1) Perilaku, 2) Sikap, 3) pengetahuan (Penelitian Muhammad Ali, 2003). Pengetahuan merupakan suatu hasil yang terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan sasuatu objek tertentu melalui indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan, dan perabaan. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui proses melihat, mendengar selain itu melalui pengalaman dan proses belajar dalam pendidikan formal dan non formal (Notoatmodjo, 2003). Sehingga pengetahuan tentang imunisasi hepatitis B1 dapat mempengaruhi terhadap cakupan imunisasi hepatitis B1.
Berdasarkan latar belakang di atas penulis merasa tertarik untuk meneliti tentang Hubungan tingkat pengetahuan ibu terhadap ketepatan pemberian imunisasi hepatitis B1 pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Lingkar Timur Tahun 2010.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas rendahnya cakupan imunisasi hepatitis B1 maka penulis merumuskan masalah bagaimana ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu terhadap pemberian imunisasi hepatitis B1 pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Lingkar Timur Tahun 2010.
1.3 Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan pengetahuan Ibu terhadap pemberian imunisasi Hepatitis B1 pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Lingkar Timur Tahun 2010.
2. Tujuan Khusus
a. Diperolehnya gambaran pengetahuan ibu tentang imunisasi Hepatitis B1 pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Lingkar Timur Tahun 2010.
b. Diperolehnya gambaran pemberian imunisasi Hepatitis B1 pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Lingkar Timur Tahun 2010.
c. Diperolehnya hubungan pengetahuan ibu dengan ketepatan pemberian imunisasi hepatitis B1 pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Lingkar Timur Tahun 2010.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Memenuhi syarat untuk menyelesaikan Jurusan D III Keperawatan Bengkulu tahun 2010, selanjutnya penulis ini dapat menjadi media penulis dalam mengaplikasikan berbagai ilmu pengetahuan yang telah penulis dapatkan di bangku kuliah dalam bentuk karya tulis ilmiah yang berfungsi mengasah kemampuan penulis.
2. Bagi Akademik
Diharapkan dapat menjadi bahan bacaan dan dapat memotivasi untuk melakukan penelitian yang lebih baik dan memberikan sumbangan pengetahuan yang bermanfaat, bahan evaluasi terhadap kegiatan perkuliahan yang telah dilaksanakan sehingga akan bermanfaat untuk pengembangan pendidikan selanjutnya dan dapat dijadikan referensi penelitian lebih lanjut dalam bidang yang sama.
3. Bagi puskesmas
Memberikan informasi masalah Hepatitis B1 sehingga dapat memperketat pengawasan kesehatan terhadap bayi usia 0 – 7 hari.

Hepatitis B

Hepatitis B
Hepatitis B adalah penyakit yang dapat merusak dan dapat berlangsung lama dan menjadi berat. (health, 2006)
Hepatitis B adalah suatu penyakit hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis B, suatu anggota family Hevadnavirus yang dapat menyebabkan peradangan hati akut menahun yang pada sebagian kecil kasus dapat berlanjut sirosa hati atau kanker hati. (Filbert Anthony, 2006).
Hepatitis B disebabkan oleh virus hepatitis B (VHB). Virus ini pertama kali ditemukan oleh Blumberg pada tahun 1965 dan dikenal dengan nama antigen Australia. Virus termasuk DNA virus. Virus hepatits B berupa partikel 2 lapis berukuran 42 nm yang disebut “Partikel Dane”. Lapisan luar terdiri atas antigen HbsAg yang membungkus partikel inti (core). Pada inti terdapat Hepatitis B core antigen (HbcAg) dan Hepatitis B e antigen (HbeAg) antigen permukaan (HbsAg) terdiri atas lipo protein. Virus Hepatitis B mempunyai masa inkubasi 45-80 hari, rata-rata 80-90 hari.
2.1.2 Cara Penularan
Penularan infeksi virus hepatitis B melalui berbagai cara, yaitu :
1) Parenteral
Dimana terjadi penembusan kulit atau mukosa misalnya melalui tusuk jarum atau benda yang sudah tercemar virus hepatitis B dan pembuatan tattoo.

2) Non Parenteral
Karena persentuhan yang erat dengan benda yang tercemar virus hepatitis B.
Secara epidemologi penularan penyakit infeksi virus Heptitis B dibagi 2 cara penting, yaitu :
1) Penularan Vertikal
Yaitu penularan infeksi virus hepatitis B dari ibu yang HbsAg positif kepada anak yang dilahirkan yang terjadi selama masa perinatal. Resiko infeksi pada bayi mencapai 50-60 % dan bervariasi antar Negara satu dan yang lain berkaitan dengan kelompok etnik.
2) Penularan Horizontal
Yaitu penularan infeksi virus hepatitis B dari seorang pengidap virus hepatitis B kepada orang lain di sekitarnya, misalnya melalui hubungan seksual.
2.1.3 Gejala
Umumnya tidak ada gejala dan tanda-tanda selama bertahun-tahun atau seumur hidup. Infeksi sering kali tidak disertai gejala apapun, akan tetapi pada hepatitis B akut memiliki gambaran ikterus yang jelas. Hepatitis B akut memiliki gambaran gejala klinis yang terjadi atas 3 fase, yaitu:
1) Fase Praikterik (prodromal)
Gejala non spesifik, permulaan penyakit tidak jelas, demam tinggi, anoreksia, mual, nyeri di daerah hati disertai perubahan warna air kemih menjadi gelap. Pemeriksaan laboratorium mu,ai tampak kelainan hati ( kadar bilirubin serum, SGOT dan SPGT, Fosfatose Alkali meningkat).

2) Fase Ikterik
Gejala demam dan gastrointestinal tambah hebat disertai hepatomegali dan splenomegali , timbulnya ikterus makin hebat dengan puncak pada minggu kedua. Setelah timbul ikterus, gejala menurun dan pemeriksaan laboratorium tes fungsi hati abnormal.
3) Fase Penyembuhan
Fase ini ditandai dengan menurunnya kadar enzim aminotransferase, pembesaran hati masih ada dan terasa nyeri, pemeriksaan laboratorium menjadi normal.
2.1.4. Pencegahan
Pencegahan merupakan upaya terpenting karena paling efektif terhadap infeksi virus Hepatitis B (VHB).
Secara umum pencegahan mencakup sterilisasi instrument kesehatan, alat dialysis individual, membuang jarum disposable ke tempat khusus, dan pemakaian sarung tangan oleh tenaga medis, penyuluhan perihal sex yang aman, penggunaan jarum sunting disposable, mencegah kontak mikrolesi (pemakaian sikat gigi, sisir) menutup luka.
Selain itu idealnya skrining ibu hamil (trisemester ke-1 dan ke-3) terutama resiko tinggi dan skrining populasis resiko tinggi (lahir di daerah hiperendemis dan belum pernah imunisasi, homo-heteroseksual, pasangan sex ganda, tenaga medis, pasien dialysis, keluarga pasien VHB, kontak seksual dengan pasien VHB). Sedangkan secara khusus imunisasi universal bayi baru lahir telah berhasil menurunkan prevelens VHB. (Boerhan Hidayat, Purnawati, S. Pujianto, 2005)

2.1.5. Vaksin Hepatitis B
Vaksin hepatits B sering disebut dengan unject. Unject ini sendiri adalah :
1) Alat suntik (spluit dan jarum) sekali dan tidak dipakai ulang dengan spesifikasi Uniject-HB sebagai berikut:
a. Isi kemasan 0,5 cc
b. Ukuran jarum 25 G x 5/8”
c. Dimensi; panjang kemasan 2,3 x 3,5 cm
d. Satu box karton (3 liter) isi 100 uniject
e. Satu coldbox carton (isi 40 liter) berisi 800 uniject-Hb 12 water pack.
2) Alat suntik yang tidak perlu diisi vaksin oleh petugas sebelum disuntikan, karena sudah terisi dari pabriknya, setiap uniject sudah dilengkapi dengan alat pemantau suhu VVM (Vaksin Vial Monitor).
3) Alat suntik yang tidak perlu distrerilkan oleh petugas sebelum disuntikan karena sudah strelil dari pabriknya.
4) Alat suntik yang dapat mencegah terjadinya penularan penyakit karena jarum suntik hanya dapat dipakai satu kali saja.
2.1.6. Jadwal Pemberian Imunisasi Hepatitis B
Jadwal pemberian imunisasi hepatitis B dapat dilihat dalam table berikut:
Tabel 2.1. Jadwal Pemberian Imunisasi Hepatitis B
Umur Vaksin Keterangan
Saat Lahir Hepatitis B-1 HB-1 harus diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir, dilanjutkan pada umur 1 dan 6 bulan. Apabila status HBsAg ibu positif, dalam watu 12 jam setelah lahir diberikan HBlg 0,5 ml bersamaan dengan vaksin HB-1. Apabila semua status HBsAg ibu tidak diketahui dan ternyata dalam perjalanan selanjutnya diketahui bahwa ibu HBsAg positif maka masih dapat diberikan HBlg 0,5 ml sebelum bayi berumur 7 hari.
1 Bulan Hepatitis B-2 HB-2 diberikan pada umur 1 bulan, interval HB-1 dan HB-2 adalah 1 bulan
6 Bulan Hepatitis B-3 HB-3 pada umur 6 bulan. Untuk mendapat respon imun yang optimal interval HB-2 dan HB-3 minimal 2 bulan, terbaik 5 bulan.
Pedoman Imunisasi di Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2005
2.1.7. Efek samping/ Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Hepatitis B
KIPI adalah suatu kejadian sakit yang terjadi setelah menerima imunisasi yang diduga disebabkan oleh imunisasi. Terjadi dalam masa 1 bulan setelah imunisasi (dapat sampai 3 bulan).
Pemantauan KIPI ditujukan pada setiap kelainan yang terjadi pada periode pasca imunisasi. Pemantauan suntikan yang aman ditujukan pada sasaran suntikan, petugas dan masyarakat serta lingkungan terkait.
Menurut WHO : 1999, klasifikasi KIPI adalah sebagai berikut :
1) Reaksi vaksin
Induksi vaksin yaitu intrinsic vaksin dengan individu. Potensiasi vaksin yaitu gejala yang timbuldipicu oleh vaksin. Kejadian disebabkan atau dipicu oleh vaksin walaupun diberikan secara benar. Disebabkan oleh sifat dasar vaksin.
2) Kesalahan Program
Kejadian disebabkan oleh kesalahan dalam persiapan, penanganan, ataupun pemberian vaksin.
3) Kebetulan
Kejadian terjadi setelah imunisasi tetapi tidak disebabkan oleh vaksin.
4) Reaksi Suntikan
Kejadian yang disebabkan oleh rasa takut/ gelisah atau sakit dari tindakan penyuntikan dan bukan dari vaksin.
5) Tidak Diketahui
Penyebab kejadian ini tidak dapat ditetapkan.
Gejala KIPI ringan (sering dijumpai) pada pemberian imunisasi hepatitis B, reaksi local pada anak adalah 5 % pada orang dewasa adalah 15 % demam >380C yaitu 1-6%, dan tidak dijumpai iritabel, malaise dan gejala sistemik.

2.2. Imunisasi
Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen. (IDAI, 2005)
Imunisasi adalah suatu tindakan untuk memberikan perlindungan kekebalan di dalam tubuh bayi dan anak guna melindungi dan mencegah penyakit-penyakit menular yang sangat berbahaya bagi bayi dan anak. (Sulianti, S. 2007). Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen yang serupa tidak terjadi penyakit (I.G.N. Ranuh, dkk., 2001:5).
Imunisasi adalah membentuk kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memberikan antigen atau vaksin pada bayi.(Elizabet,MD). Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukan vaksin kedalam tubuh agar tubuh membuat zat antibody untuk mencegah terhadap penyakit tertentu. (Aziz Alimut Hidayat.2008).
Imunisasi adalah suatu usaha yang dilakukan dan pemberian vaksin pada tubuh seseorang sehingga dapat menimbulkan kekebalan terhadap penyakit tertentu.(DEPKES RI.2009).
Terdapat dua macam Imunisasi, menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2005, yaitu :
a. Imunisasi Aktif
Merupakan pemberian imunisasi berupa pemberian kuman atau racun kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan untuk merangsang tubuh memproduksi antibody sendiri. Contohnya adalah imunisasi campak, polio, BCG, Hepatitis B, DPT.
b. Imunisasi Pasif
Penyuntikan sejumlah antibody, sehingga kadar antibiotic dalam tubuh meningkat, contohnya adalah pada bayi yang baru lahir dimana bayi tersebut menerima berbagai jenis antibody dari ibunya melelalui darah placenta selama masa kandungan, misalnya antibody terhadap campak.
Terdapat 2 macam imunisasi menurut Litbang, yaitu :
1. Imunisasi dasar ialah pemberian kekebalan I, II, III pada bayi.
2. Imunisasi ulang ialah pemberian kekebalan setelah imunisasi dasar.

2.2.1.Tujuan Imunisasi
Tujuan Imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang dan menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat (populasi) atau bahkan menghilangkan penyakit tertentu. (Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2005)
2.2.2. Manfaat Imunisasi
Manfaat dari Imunisasi adalah :
1) Untuk Anak
Mencegah penderita yang disebabkan oleh penyakit dan kemungkinan cacat atau kematian.
2) Untuk Keluarga
Menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit.
3) Untuk Negara
Memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan Negara.
2.2.3. Standar Ketetapan Imunisasi
Target universal Child Immunization (UCI) dalam cakupan imunisasi untuk BCG, DPT, Polio, Campak, dan Hepatitis B harus mencapai 80 %, baik tingkat nasional, propinsi dan kabupaten bahkan disetiap desa. (Satgas Imuniasai-IDAI, 2005)
2.3. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pacaindera manusia yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman rasa dan bau. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2003).
Pengetahuan pada manusia bertujuan untuk dapat menjawab masalah-masalah kehidupan manusia, pengetahuan diibaratkan sebagai suatu alat yang dihadapi. (Notoatmodjo, 1997)
2.3.1. Unsur- unsur Pengetahuan
Menurut Lengeveld dalam Ahmad (1994), ada tiga macam unsure pengetahuan yaitu :
a. Pengamatan (mencamkan) yaitu menggunakan indera lahir atau batin untuk menangkap objek.
b. Sasaran objek yaitu sesuatu objek yang menjadi bahan pengetahuan.
c. Kesadaran (jiwa) yaitu salah satu dari alam yang ada pada diri manusia.
2.3.2. Batas-batas pengetahuan
Menurut Gazalba (1992) ada tiga batasan pengetahuan yaitu :
a. Pengetahuan Indera : lapangannya segala sesuatu yang dapat disentuh oleh panca indera secara langsung, biasanya segala sesuatu yang dapat ditangkapnya oleh panca indera.
b. Pengetahuan Ilmu : lapangannya segala sesuatu yang dapat diteliti (riset/eksperimen) : Batasannya segala sesuatu yang tidak dapat dilakukan peneliti.
c. Pengetahuan Filsafat : lapangannya segala sesuatu yang dapat dipikirkan oleh budi (rasio) manusia yang alami (bersifat alami) dan nisbi (relatif) batasannya adalah batasan alam.
2.3.3. Faktor yang mempengaruhi pengetahuan
a. Faktor pendidikan dan pelatihan.
b. Faktor lingkungan.
c. Faktor intern.
d. Faktor pengalaman.
e. Faktor ekonomi.
2.3.4. Tingkat Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2003), ada enam tingkat pengetahuan :
1. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya. Tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah, termasuk di dalamnya adalah mengingat kembali terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari.
2. Memahami (comprehension)
Memahami adalah suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek tang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
3. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil. Aplikasi dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan rumus, hukum, metode, prinsip dalam konteks atau situasi yang lain.



4. Analisis (analysis).
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek kedalam komponen-komponen tetapi masih didalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lainnya.
5. Sintesis (synthesis)
Sintesis adalah kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
6. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi untuk penilaian terhadap suatu materi atau objek.
2.3.6. Hubungan tingkat Pengetahuan terhadap pemberian Imunisasi Hepatitis B1
Para ahli psikologi kognitif berpendapat bahwa kegiatan belajar merupakan proses yang bersifat internal yang berhubungan dengan banyak factor eksternal sehingga akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Faktor internal itu antara lain pendidikan, ekonomi, social budaya, pengalaman, media massa dan lain-lain (Notoadmojo, 2000).
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behaviour). Pengetahuan yang rendah kemungkinan dapat mengurangi rasa percaya dalam hal wawasan dan kemampuan dalam mengambil keputusan baginya. Semakin baik pengetahuan seseorang maka akan membuat seseorang semakin baik berperilaku (Purwanto, 1999). Teori ini dapat digunakan untuk melihat bagaimana ibu akan dapat berupaya mengatasi, mencegah dan melakukan suatu tindakan untuk penyakit Hepatitis dengan pengetahuan yang lebih luas dan kompleks.

Hepatitis B

Hepatitis B
Hepatitis B adalah penyakit yang dapat merusak dan dapat berlangsung lama dan menjadi berat. (health, 2006)
Hepatitis B adalah suatu penyakit hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis B, suatu anggota family Hevadnavirus yang dapat menyebabkan peradangan hati akut menahun yang pada sebagian kecil kasus dapat berlanjut sirosa hati atau kanker hati. (Filbert Anthony, 2006).
Hepatitis B disebabkan oleh virus hepatitis B (VHB). Virus ini pertama kali ditemukan oleh Blumberg pada tahun 1965 dan dikenal dengan nama antigen Australia. Virus termasuk DNA virus. Virus hepatits B berupa partikel 2 lapis berukuran 42 nm yang disebut “Partikel Dane”. Lapisan luar terdiri atas antigen HbsAg yang membungkus partikel inti (core). Pada inti terdapat Hepatitis B core antigen (HbcAg) dan Hepatitis B e antigen (HbeAg) antigen permukaan (HbsAg) terdiri atas lipo protein. Virus Hepatitis B mempunyai masa inkubasi 45-80 hari, rata-rata 80-90 hari.
2.1.2 Cara Penularan
Penularan infeksi virus hepatitis B melalui berbagai cara, yaitu :
1) Parenteral
Dimana terjadi penembusan kulit atau mukosa misalnya melalui tusuk jarum atau benda yang sudah tercemar virus hepatitis B dan pembuatan tattoo.

2) Non Parenteral
Karena persentuhan yang erat dengan benda yang tercemar virus hepatitis B.
Secara epidemologi penularan penyakit infeksi virus Heptitis B dibagi 2 cara penting, yaitu :
1) Penularan Vertikal
Yaitu penularan infeksi virus hepatitis B dari ibu yang HbsAg positif kepada anak yang dilahirkan yang terjadi selama masa perinatal. Resiko infeksi pada bayi mencapai 50-60 % dan bervariasi antar Negara satu dan yang lain berkaitan dengan kelompok etnik.
2) Penularan Horizontal
Yaitu penularan infeksi virus hepatitis B dari seorang pengidap virus hepatitis B kepada orang lain di sekitarnya, misalnya melalui hubungan seksual.
2.1.3 Gejala
Umumnya tidak ada gejala dan tanda-tanda selama bertahun-tahun atau seumur hidup. Infeksi sering kali tidak disertai gejala apapun, akan tetapi pada hepatitis B akut memiliki gambaran ikterus yang jelas. Hepatitis B akut memiliki gambaran gejala klinis yang terjadi atas 3 fase, yaitu:
1) Fase Praikterik (prodromal)
Gejala non spesifik, permulaan penyakit tidak jelas, demam tinggi, anoreksia, mual, nyeri di daerah hati disertai perubahan warna air kemih menjadi gelap. Pemeriksaan laboratorium mu,ai tampak kelainan hati ( kadar bilirubin serum, SGOT dan SPGT, Fosfatose Alkali meningkat).

2) Fase Ikterik
Gejala demam dan gastrointestinal tambah hebat disertai hepatomegali dan splenomegali , timbulnya ikterus makin hebat dengan puncak pada minggu kedua. Setelah timbul ikterus, gejala menurun dan pemeriksaan laboratorium tes fungsi hati abnormal.
3) Fase Penyembuhan
Fase ini ditandai dengan menurunnya kadar enzim aminotransferase, pembesaran hati masih ada dan terasa nyeri, pemeriksaan laboratorium menjadi normal.
2.1.4. Pencegahan
Pencegahan merupakan upaya terpenting karena paling efektif terhadap infeksi virus Hepatitis B (VHB).
Secara umum pencegahan mencakup sterilisasi instrument kesehatan, alat dialysis individual, membuang jarum disposable ke tempat khusus, dan pemakaian sarung tangan oleh tenaga medis, penyuluhan perihal sex yang aman, penggunaan jarum sunting disposable, mencegah kontak mikrolesi (pemakaian sikat gigi, sisir) menutup luka.
Selain itu idealnya skrining ibu hamil (trisemester ke-1 dan ke-3) terutama resiko tinggi dan skrining populasis resiko tinggi (lahir di daerah hiperendemis dan belum pernah imunisasi, homo-heteroseksual, pasangan sex ganda, tenaga medis, pasien dialysis, keluarga pasien VHB, kontak seksual dengan pasien VHB). Sedangkan secara khusus imunisasi universal bayi baru lahir telah berhasil menurunkan prevelens VHB. (Boerhan Hidayat, Purnawati, S. Pujianto, 2005)

2.1.5. Vaksin Hepatitis B
Vaksin hepatits B sering disebut dengan unject. Unject ini sendiri adalah :
1) Alat suntik (spluit dan jarum) sekali dan tidak dipakai ulang dengan spesifikasi Uniject-HB sebagai berikut:
a. Isi kemasan 0,5 cc
b. Ukuran jarum 25 G x 5/8”
c. Dimensi; panjang kemasan 2,3 x 3,5 cm
d. Satu box karton (3 liter) isi 100 uniject
e. Satu coldbox carton (isi 40 liter) berisi 800 uniject-Hb 12 water pack.
2) Alat suntik yang tidak perlu diisi vaksin oleh petugas sebelum disuntikan, karena sudah terisi dari pabriknya, setiap uniject sudah dilengkapi dengan alat pemantau suhu VVM (Vaksin Vial Monitor).
3) Alat suntik yang tidak perlu distrerilkan oleh petugas sebelum disuntikan karena sudah strelil dari pabriknya.
4) Alat suntik yang dapat mencegah terjadinya penularan penyakit karena jarum suntik hanya dapat dipakai satu kali saja.
2.1.6. Jadwal Pemberian Imunisasi Hepatitis B
Jadwal pemberian imunisasi hepatitis B dapat dilihat dalam table berikut:
Tabel 2.1. Jadwal Pemberian Imunisasi Hepatitis B
Umur Vaksin Keterangan
Saat Lahir Hepatitis B-1 HB-1 harus diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir, dilanjutkan pada umur 1 dan 6 bulan. Apabila status HBsAg ibu positif, dalam watu 12 jam setelah lahir diberikan HBlg 0,5 ml bersamaan dengan vaksin HB-1. Apabila semua status HBsAg ibu tidak diketahui dan ternyata dalam perjalanan selanjutnya diketahui bahwa ibu HBsAg positif maka masih dapat diberikan HBlg 0,5 ml sebelum bayi berumur 7 hari.
1 Bulan Hepatitis B-2 HB-2 diberikan pada umur 1 bulan, interval HB-1 dan HB-2 adalah 1 bulan
6 Bulan Hepatitis B-3 HB-3 pada umur 6 bulan. Untuk mendapat respon imun yang optimal interval HB-2 dan HB-3 minimal 2 bulan, terbaik 5 bulan.
Pedoman Imunisasi di Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2005
2.1.7. Efek samping/ Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Hepatitis B
KIPI adalah suatu kejadian sakit yang terjadi setelah menerima imunisasi yang diduga disebabkan oleh imunisasi. Terjadi dalam masa 1 bulan setelah imunisasi (dapat sampai 3 bulan).
Pemantauan KIPI ditujukan pada setiap kelainan yang terjadi pada periode pasca imunisasi. Pemantauan suntikan yang aman ditujukan pada sasaran suntikan, petugas dan masyarakat serta lingkungan terkait.
Menurut WHO : 1999, klasifikasi KIPI adalah sebagai berikut :
1) Reaksi vaksin
Induksi vaksin yaitu intrinsic vaksin dengan individu. Potensiasi vaksin yaitu gejala yang timbuldipicu oleh vaksin. Kejadian disebabkan atau dipicu oleh vaksin walaupun diberikan secara benar. Disebabkan oleh sifat dasar vaksin.
2) Kesalahan Program
Kejadian disebabkan oleh kesalahan dalam persiapan, penanganan, ataupun pemberian vaksin.
3) Kebetulan
Kejadian terjadi setelah imunisasi tetapi tidak disebabkan oleh vaksin.
4) Reaksi Suntikan
Kejadian yang disebabkan oleh rasa takut/ gelisah atau sakit dari tindakan penyuntikan dan bukan dari vaksin.
5) Tidak Diketahui
Penyebab kejadian ini tidak dapat ditetapkan.
Gejala KIPI ringan (sering dijumpai) pada pemberian imunisasi hepatitis B, reaksi local pada anak adalah 5 % pada orang dewasa adalah 15 % demam >380C yaitu 1-6%, dan tidak dijumpai iritabel, malaise dan gejala sistemik.

2.2. Imunisasi
Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen. (IDAI, 2005)
Imunisasi adalah suatu tindakan untuk memberikan perlindungan kekebalan di dalam tubuh bayi dan anak guna melindungi dan mencegah penyakit-penyakit menular yang sangat berbahaya bagi bayi dan anak. (Sulianti, S. 2007). Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen yang serupa tidak terjadi penyakit (I.G.N. Ranuh, dkk., 2001:5).
Imunisasi adalah membentuk kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memberikan antigen atau vaksin pada bayi.(Elizabet,MD). Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukan vaksin kedalam tubuh agar tubuh membuat zat antibody untuk mencegah terhadap penyakit tertentu. (Aziz Alimut Hidayat.2008).
Imunisasi adalah suatu usaha yang dilakukan dan pemberian vaksin pada tubuh seseorang sehingga dapat menimbulkan kekebalan terhadap penyakit tertentu.(DEPKES RI.2009).
Terdapat dua macam Imunisasi, menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2005, yaitu :
a. Imunisasi Aktif
Merupakan pemberian imunisasi berupa pemberian kuman atau racun kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan untuk merangsang tubuh memproduksi antibody sendiri. Contohnya adalah imunisasi campak, polio, BCG, Hepatitis B, DPT.
b. Imunisasi Pasif
Penyuntikan sejumlah antibody, sehingga kadar antibiotic dalam tubuh meningkat, contohnya adalah pada bayi yang baru lahir dimana bayi tersebut menerima berbagai jenis antibody dari ibunya melelalui darah placenta selama masa kandungan, misalnya antibody terhadap campak.
Terdapat 2 macam imunisasi menurut Litbang, yaitu :
1. Imunisasi dasar ialah pemberian kekebalan I, II, III pada bayi.
2. Imunisasi ulang ialah pemberian kekebalan setelah imunisasi dasar.

2.2.1.Tujuan Imunisasi
Tujuan Imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang dan menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat (populasi) atau bahkan menghilangkan penyakit tertentu. (Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2005)
2.2.2. Manfaat Imunisasi
Manfaat dari Imunisasi adalah :
1) Untuk Anak
Mencegah penderita yang disebabkan oleh penyakit dan kemungkinan cacat atau kematian.
2) Untuk Keluarga
Menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit.
3) Untuk Negara
Memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan Negara.
2.2.3. Standar Ketetapan Imunisasi
Target universal Child Immunization (UCI) dalam cakupan imunisasi untuk BCG, DPT, Polio, Campak, dan Hepatitis B harus mencapai 80 %, baik tingkat nasional, propinsi dan kabupaten bahkan disetiap desa. (Satgas Imuniasai-IDAI, 2005)
2.3. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pacaindera manusia yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman rasa dan bau. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2003).
Pengetahuan pada manusia bertujuan untuk dapat menjawab masalah-masalah kehidupan manusia, pengetahuan diibaratkan sebagai suatu alat yang dihadapi. (Notoatmodjo, 1997)
2.3.1. Unsur- unsur Pengetahuan
Menurut Lengeveld dalam Ahmad (1994), ada tiga macam unsure pengetahuan yaitu :
a. Pengamatan (mencamkan) yaitu menggunakan indera lahir atau batin untuk menangkap objek.
b. Sasaran objek yaitu sesuatu objek yang menjadi bahan pengetahuan.
c. Kesadaran (jiwa) yaitu salah satu dari alam yang ada pada diri manusia.
2.3.2. Batas-batas pengetahuan
Menurut Gazalba (1992) ada tiga batasan pengetahuan yaitu :
a. Pengetahuan Indera : lapangannya segala sesuatu yang dapat disentuh oleh panca indera secara langsung, biasanya segala sesuatu yang dapat ditangkapnya oleh panca indera.
b. Pengetahuan Ilmu : lapangannya segala sesuatu yang dapat diteliti (riset/eksperimen) : Batasannya segala sesuatu yang tidak dapat dilakukan peneliti.
c. Pengetahuan Filsafat : lapangannya segala sesuatu yang dapat dipikirkan oleh budi (rasio) manusia yang alami (bersifat alami) dan nisbi (relatif) batasannya adalah batasan alam.
2.3.3. Faktor yang mempengaruhi pengetahuan
a. Faktor pendidikan dan pelatihan.
b. Faktor lingkungan.
c. Faktor intern.
d. Faktor pengalaman.
e. Faktor ekonomi.
2.3.4. Tingkat Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2003), ada enam tingkat pengetahuan :
1. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang dipelajari sebelumnya. Tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah, termasuk di dalamnya adalah mengingat kembali terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari.
2. Memahami (comprehension)
Memahami adalah suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek tang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
3. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil. Aplikasi dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan rumus, hukum, metode, prinsip dalam konteks atau situasi yang lain.



4. Analisis (analysis).
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek kedalam komponen-komponen tetapi masih didalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lainnya.
5. Sintesis (synthesis)
Sintesis adalah kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
6. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi untuk penilaian terhadap suatu materi atau objek.
2.3.6. Hubungan tingkat Pengetahuan terhadap pemberian Imunisasi Hepatitis B1
Para ahli psikologi kognitif berpendapat bahwa kegiatan belajar merupakan proses yang bersifat internal yang berhubungan dengan banyak factor eksternal sehingga akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Faktor internal itu antara lain pendidikan, ekonomi, social budaya, pengalaman, media massa dan lain-lain (Notoadmojo, 2000).
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behaviour). Pengetahuan yang rendah kemungkinan dapat mengurangi rasa percaya dalam hal wawasan dan kemampuan dalam mengambil keputusan baginya. Semakin baik pengetahuan seseorang maka akan membuat seseorang semakin baik berperilaku (Purwanto, 1999). Teori ini dapat digunakan untuk melihat bagaimana ibu akan dapat berupaya mengatasi, mencegah dan melakukan suatu tindakan untuk penyakit Hepatitis dengan pengetahuan yang lebih luas dan kompleks.

Friday, 18 June 2010

tehnik menjemur bayi

Bayi baru lahir, umumnya memiliki kecenderungan kuning karena organ hatinya belum berfungsi sempurna dalam mengolah bilirubin. Ini yang dinamakan kuning fisiologis. Nah, sinar matahari pagi memiliki spektrum sinar biru yang bermanfaat mengurangi kadar bilirubin dalam darah. Kegunaan sinar matahari pagi Berikutnya adalah menghangatkan tubuh bayi sekaligus membantu mengeluarkan lendir dari tenggorokannya. Alhasil, suara ngrok-ngrok napas bayi, terutama yang berbakat alergi, dapat dikurangi. Apalagi kalau sambil dijemur dalam posisi telentang, dada bayi--dari bagian bawah menuju ke leher--ditepuk-tepuk dengan lembut. Jangan lupa, sinar matahari pagi juga merangsang pembentukan vitamin D dalam tubuh. Vitamin ini diketahui berfungsi sebagai pembuka kalsium agar mudah terserap ke dalam aliran darah, sampai akhirnya menyatu di dalam tulang. Paparan yang dibutuhkan tak perlu lama, cukup sekitar 15 menit pada pagi hari.
1. Pilih waktu yang tepat
Waktu yang paling tepat untuk menjemur bayi adalah pagi hari antara pukul 07.00-08.00 selama kurang lebih 15 menit. Jangan terlalu lama karena kulit bayi masih sensitif dan Jangan menjemur si kecil lebih dari pukul 08.00. Paparan sinar mentari menjelang siang hari mengandung sinar ultraviolet A dan B yang dapat merusak membran kulit sehingga menyebabkan kulit merah dan terbakar serta merusak mekanisme regenerasi sel.
2. Tidak menggunakan baju
Menjemur bayi dalam keadaan dada telanjang (hanya menggunakan celana/popok saja) dan bolak balikkan tubuhnya. Dengan begitu tak hanya bagian dada saja yang disinari matahari, namun juga bagian punggungnya. O, iya, perhatikan mata. Usahakan mata si kecil membelakangi pancaran sinar matahari untuk menghindari risiko rusaknya lensa dan retina matanya.
3. Pilih lokasi yang tidak terlalu terbuka
Lokasi menjemur tidak harus di udara terbuka dengan paparan sinar matahari langsung. Tempat yang agak terlindung namun dapat diterobos sinar mentari, juga sudah memenuhi syarat kok. Bila cuaca sedang berangin, jemurlah si kecil di dalam ruangan (berkaca). Asal kacanya bening, bayi masih dapat menikmati pancaran sinar matahari yang cukup menghangatkan.
4. Waspadai bila bayi sensitive
Bayi fotosensitif sebaiknya tidak terpapar sinar matahari karena kulitnya sangat sensitif. Menjemurnya hanya akan menimbulkan bercak-bercak meral pada kulit.
5. Bayi prematur hendaknya jangan dijemur
Bayi prematur pun disarankan untuk tidak dijemur, apalagi pada minggu-minggu pertama kelahirannya. Pada waktu itu bayi yang dilahirkan kurang bulan ini masih membutuhkan suhu yang stabil. Sementara saat dijemur, is mesti mampu menyesuaikan tubuhnya dengan suhu luar. Ini dapat membahayakan keselamatannya.
6. Jangan tinggalkan bayi sendirian ketika dijemur
Hindari meninggalkan bayi sendirian ketika dijemur. Manfaatkan momen ini untuk melakukan beberapa kegiatan yang bermanfaat. Umpama, melakukan pijat bayi. Gunakan baby oil kala memijat. Minyak ini juga dapat sekaligus melindungi kulit dari kekeringan ketika dijemur. Kalaupun pijat bayi tidak memungkinkan, ajaklah si kecil berbicara (Jangan lupa untuk melakukan kontak mata dengannya). Memang sih is belum mengerti obrolannya dengan Anda namun sebaaknya komunikasi seperti ini akan membuat hubungan antara Anda dan si kecil makin lekat. O, ya sambil ngobrol, beri is belaian lembut. Meski gerakan ini begitu sederhana namun manfaatnya amat besar yakni dapat membentuk rasa aman pada bayi yang akan berpengaruh pada rasa percaya dirinya kelak.
7. Hati-hati hipertemi
Bila paparan sinar mentari begitu terik, kurangi waktu menjemurnya. Jika kelamaan bayi dikhawatirkan mengalami hipertermi (peningkatan suhu tubuh). Suhu ideal bayi antara 36,5°-37,5° C. Kondisi hipertermi berisiko menyebabkan gangguan pada fungsi metabolisme tubuh bayi, otak dan juga fungsi organ lainnya.

plebitis

plebitis
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Rumah sakit merupakan suatu tempat dimana orang yang sakit dirawat dan ditempatkan dalam ruangan yang berdekatan atau antara satu tempat tidur dengan tempat tidur lainnya. Di tempat ini pasien mendapatkan terapi dan perawatan untuk dapat sembuh, dimana enam puluh persen pasien yang di rawat di Rumah Sakit menggunakan infus. Penggunaan infus terjadi disemua lingkungan keperawatan Kesehatan seperti perawatan akut, perawatan emergensi, perawatan ambulatory dan perawatan kesehatan dirumah, (Schffer, At.All, 1996).
Infus adalah salah satu cara atau bagian dari pengobatan untuk memasukkan obat atau vitamin kedalam tubuh pasien. Infeksi dapat menjadi komplikasi utama dari terpi intra vena ( IV ) terletak pada system infus atau tempat menusukkan vena (darmawan, 2008). Plebitis merupakan inflamasi vena yang disebabkan baik dari iritasi kimia maupun mekanik yang sering disebabkan oleh komplikasi dari terapi intravena. Plebitis dikarakteristikan dengan adanya dua atau lebih tanda nyeri, kemerahan, bengkak, indurasi, dan teraba mengeras di bagian vena yang terpasang kateter intravena, (La rocca, 1998). Plebitis dapat menyebabkan thrombus yang selanjutnya menjadi tromboplebitis, perjalanan penyakit ini biasanya jinak, tapi walaupun demikian jika thrombus terlepas kemudian diangkut dalam aliran darah dan masuk kejantung maka dapat menimbulkan gumpalan darah seperti katup bola yang bisa menyumbat atrioventrikular secara mendadak dan menimbulkan kematian, (Sylvia, 1995).
Jumlah kejadian plebitis menurut Distribusi Penyakit Sistem Sirkulasi Darah Pasien Rawat Inap, Indonesia Tahun 2006 berjumlah 744 orang (17,11%), (Depkes, RI, 2006)
Kejadian plebitis di ruang rawat penyakit dalam di RSCM Jakarta. Sebanyak 109 pasien yang mendapat cairan intravena. Ditemukan 11 kasus flebitis, dengan rata-rata kejadian 2 hari setelah pemasangan, area pemasangan di vena metacarpal, dan jenis cairan yang digunakan adalah kombinasi antara Ringer Laktat dan Dekstrosa 5%, (Pujasari, 2002).
Angka kejadian plebitis di RSU Mokopido Tolitoli pada tahun 2006 mencapai 42,4%, (Fitria, 2007). Penelitian lain yang dilakukan di RS DR. Sarjito Yogyakarta ditemukan 27,19% kasus plebitis pasca pemasangan infuse, (Baticola, 2002). Penelitian Widianto (2002) menemukan kasus plebitis sebanyak 18,8% di RSUD Purwokerto. Dan di instalasi rawat inap RSUD Dr. Soeradji Tirtonegoro klaten tahun 2002 diemukan kejadian plebitis sebanyak 26,5% kasus, (Saryati, 2002).
Secara sederhana plebitis berarti peradangan vena. Flebitis berat hampir selalu diikuti bekuan darah, atau trombus pada vena yang sakit. Banyak faktor telah dianggap terlibat dalam patogenesis flebitis, antara lain: faktor-faktor kimia seperti obat atau cairan yang iritan, faktor-faktor mekanis seperti bahan, ukuran kateter, lokasi dan lama kanulasi serta agen infeksius. Faktor pasien yang dapat mempengaruhi angka flebitis mencakup, usia, jenis kelamin dan kondisi dasar (yakni. diabetes melitus, infeksi, luka bakar). Suatu penyebab yang sering luput perhatian adalah adanya mikropartikel dalam larutan infus dan ini bisa dieliminasi dengan penggunaan filter. (Darmawan,2008).
Teknik sterilisasi di Rumah sakit sangat berpengaruh dengan tingkat kejadian phlebitis misalnya kurang sterilnya pada saat melakukan tindakan keperawatan pada pasien yang sedang dirawat, misalnya pada saat pemasangan infus. Apabila ada saat
melakukan pemasangan infuse alat-alat yang akan digunakan tidak menggunakan teknik sterilisasi akan mengakibatkan phlebitis seperti pembengkakan, kemerahan, nyeri disepanjang vena. Hal ini sangat merugikan bagi pasien karena infus yang seharusnya dilepas setelah 72 jam kini harus dilepas sebelum waktunya karena disebabkan oleh alat-alat bantu yang digunakan untuk memasang infus tidak menggunakan teknik sterilisasi, (Klikharry, 2006). Hasil penelitian Pasaribu, (2006), di Rumah Sakit Haji Medan menyimpulkan bahwa yang paling dominan menimbulkan kejadian phlebitis adalah sikap perawat yang kurang baik pada saat melaksanakan pemasangan infus (OR=2.771).
Pemberian obat melalui wadah cairan intravena merupakan cara memberikan obat dengan menambahkan atau memasukan obat ke dalam wadah cairan intravena yang bertujuan untuk meminimalkan efek samping dan mempertahankan kadar terapeutik dalam darah, (Mulh, 2006). Dalam penyuntikan obat atau pemberian infus IV, dan pengambilan sampel darah) merupakan jalan masuk kuman yang potensial kedalam tubuh, pH dan osmololaritas cairan infuse yang ekstrim selalu diikuti resiko phlebitis tinggi, (darmawan, 2008). Infeksi phlebitis dapat terjadi melalui cairan intravena dan jarum suntik yang digunakan atau di pakai berulang-ulang dan banyaknya suntikan yang tidak penting misalnya penyuntikan antibiotika, (Simonsen, 1999). Menurut Binvko, 2003. Semakin jauh jarak pemassangan terapi intravena maka risiko untuk terjadi plebitis akan semakin meningkat. Faktor lain yang akan meningkatkan risiko terjadinya phlebitis adalah cairan dengan osmolalitas tinggi dan pemakaian balutan konvensional.
Berdasarkan data yang di peroleh di sub bagian rekam medik RSUD.M.Yunus Bengkulu angka kejadian phlebitis pada tahun 2008 berjumlah 116 dan pada tahun 2009 orang terkena phlebitis berjumlah 122 orang terdiri dari ruang melati berjumlah 49 orang, seruni berjumlah 31 orang, kemuning berjumlah 9 orang, VIP berjumlah 8 orang, ICU berjumlah 5 orang, ICCU berjumlah 2 orang, IGD berjumlah 12 orang, mawar berjumlah 6 orang dan jumlah terbesar angka kejadian phlebitis terdapat di ruangan melati.
Berdasarkan survey awal dari tanggal 26–29 november yang penulis lakukan diruangan melati RSUD.M Yunus Bengkulu.ditemukan dari 25 pasien yang telah dipasang infus terdapat 13 pasien (52%) yang sudah menampakan adanya tanda-tanda plebitis seperti peradangan disekitar tusukan jarum infus, kemerahan dan nyeri di sepanjang vena.
Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik dan berkeinginan untuk melakukan peneliti dengan judul hubungan tehnik pemasangan infuse dan cara pemberian obat dengan kejadian phlebitis di RSUD M. Yunus Bengkulu.

B. Rumusan masalah
Berdasarkan uraian di atas masalah penelitian adalah tingginya angka kejadian plebitis di ruang melati RSUD.M.Yunus Bengkulu, sedangkan rumusan masalah adalah “Bagaimanakah hubungan tehnik pemasangan infus dan cara pemberian obat dengan kejadian phlebitis di RSUD.M.Yunus Bengkulu,”

C. Tujuan
1.Tujuan Umum
Untuk mengetahui adakah hubungan tehnik pemasangan infuse dan cara pemberian obat dengan kejadian phlebitis.
2.Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran tehnik pemasangan infuse pada pasien dengan pemasangan infus di RSUD.M.Yunus Bengkulu.
b. Untuk mengetahui gambaran cara pemberian obat pada pasien dengan pemasan gan infus di RSUD.M.Yunus Bengkulu.
c. Untuk mengetahui gambaran kejadian phlebitis di RSUD.M.Yunus Bengkulu.
d. Untuk mengetahui hubungan antara tehnik pemasangan infuse dengan kejadian plebitis pada pasien pemasangan infuse di RSUD.M.Yunus Bengkulu.
e. Untuk mengetahui hubungan antara cara pemberian obat dengan kejadian plebitis pada pasien pemasangan infus di RSUD.M.Yunus Bengkulu.

D. Manfaat Penelitian
1. Untuk RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai hubungan tehnik pemasangan infuse dan cara pemberian obat dengan kejadian phlebitis dan sehingga bahan penelitian dapat menurunkan angka terjadinya phlebitis di RSUD.M.Yunus Bengkulu.
2. Untuk Akademis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah yang dapat bermanfaat dalam materi pembelajaran dan sebagai sumber pustaka yang berhubungan dengan plebitis
3. Untuk Peneliti Lain
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai data dasar untuk penelitian serupa yang berhubungan dengan plebitis dan diharapkan akan dikembangkan lebih lanjut.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar Therapi IntraVena (infuse)
1. Pengertian
Therapi Intra vena adalah salah satu cara atau bagian dari pengobatan
Untuk memasukan obat atau vitamin kedalam tubuh pasien, (Darmawan,2008).
2. Tujuan Utama Terapi Intravena
a. Mengembalikan dan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh
b. Memberikan obat-obatan dan kemoterapi
c. Transfusi darah dan produk darah
d. Memberikan nutrisi parenteral dan suplemen nutrisi
3. Keuntungan dan Kerugian Terapi Intravena
a. Keuntungan:
1) Efek terapeutik segera dapat tercapai karena penghantaran obat ke tempat target berlangsung cepat.
2) Absorbsi total memungkinkan dosis obat lebih tepat dan terapi lebih dapat diandalkan
3) Kecepatan pemberian dapat dikontrol sehingga efek terapeutik dapat dipertahankan maupun dimodifikasi
4) Rasa sakit dan iritasi obat-obat tertentu jika diberikan intramuskular atau subkutan dapat dihindari
5) Sesuai untuk obat yang tidak dapat diabsorbsi dengan rute lain karena molekul yang besar, iritasi atau ketidakstabilan dalam traktus gastrointestinalis
b. Kerugian
1) Tidak bisa dilakukan “drug Recall” dan mengubah aksi obat tersebut sehingga resiko toksisitas dan sensitivitas tinggi
2) Kontrol pemberian yang tidak baik bisa menyebabkan “speeed Shock”
3) Komplikasi tambahan dapat timbul, yaitu:
a) Kontaminasi mikroba melalui titik akses ke sirkulasi dalam periode tertentu
b) Iritasi Vaskular, misalnya phlebitis kimia
c) Inkompabilitas obat dan interaksi dari berbagai obat tambahan
4. Prosedur Pemasangan Therapi Intravena
Prosedur pemasangan therapy intravena menurut Depkes RI (2005)
a. Kriteria persiapan
1) Cuci tangan
2) Standar infus
3) Caiaran yang akan diberikan
4) Infus set
5) Kapas
6) Alkohol 70%
7) Kasa steril
8) Gunting
9) Plester
10) Pengalas
11) Bengkok satu buah.
b. Kriteria pelaksanaan
1) cuci tangan
2) pasien diberi penjelasan
3) posisi pasien supine (terlentang)
4) siapkan area yang akan dipasang
5) memeriksa ulang cairan yang akan diberikan
6) keluarkan udara dari selang infus
7) menentukan vena yang akan ditusuk
8) pasang pengalas
9) desinfeksi area yang akan ditusuk dengan diameter 5-10 cm
10) menusuk jarum infuse / albocath pada vena yang telah ditentukan
11) melakukan fiksasi
12) menutup bagian yang akan ditusuk dengan kasa steril
13) menghitung jumlah cairan sesuai dengan kebutuhan
14) memperhatikanreaksi pasien
15) catat waktu pemasangan, jenis cairan dan jumlah tetesan
16) pasen dirapikan
17) alat-alat dibereskan
18) cuci tangan
5. Ukuran Jarum Therapi Intrvena (Infuse)
Menurut Potter (1999) ukuran jarum infuse yang biasa digunakan adalah :
1) Ukuran 16
Guna: Dewasa, Bedah Mayor, Trauma, Apabila sejumlah besar cairan perlu diinfuskan
Pertimbangan Perawat: Sakit pada insersi, Butuh vena besar
2) Ukuran 18
Guna: Anak dan dewasa, Untuk darah, komponen darah, dan infus kental lainnya
Pertimbangan Perawat: Sakit pada insersi, Butuh vena besar
3) Ukuran 20
Guna: Anak dan dewasa, Sesuai untuk kebanyakan cairan infus, darah, komponen darah, dan infus kental lainnya
Pertimbangan Perawat: umum dipakai
4) Ukuran 22
Guna: Bayi, anak, dan dewasa (terutama usia lanjut), Cocok untuk sebagian besar cairan infus
Pertimbangan Perawat: Lebih mudah untuk insersi ke vena yang kecil, tipis dan rapuh, Kecepatan tetesan harus dipertahankan lambat, Sulit insersi melalui kulit yang keras
5) Ukuran 24, 26
Guna: Nenonatus, bayi, anak dewasa (terutama usia lanjut), Sesuai untuk sebagian besar cairan infus, tetapi kecepatan tetesan lebih lambat
Pertimbangan Perawat: Untuk vena yang sangat kecil, Sulit insersi melalui kulit keras
6. Hal-hal yang perlu diperhatikan ( kewaspadaan)
a. Ganti lokasi tusukan setiap 48-72 jam dan gunakan set infus baru
b. Ganti kasa steril penutup luka setiap 24-48 jam dan evaluasi tanda infeksi
c. Observasi tanda / reaksi alergi terhadap infus atau komplikasi lain
d. Jika infus tidak diperlukan lagi, buka fiksasi pada lokasi penusukan
e. Kencangkan klem infus sehingga tidak mengalir
f. Tekan lokasi penusukan menggunakan kasa steril, lalu cabut jarum infus perlahan, periksa ujung kateter terhadap adanya embolus
g. Bersihkan lokasi penusukan dengan anti septik. Bekas-bekas plester dibersihkan memakai kapas alkohol atau bensin (jika perlu).
h. Gunakan alat alat-alat yang steril saat pemasangan, dan gunakan tehnik sterilisasi dalam pemasangan infus.
i. Hindarkan memasang infus pada daerah-daerah yang infeksi, vena yang telah rusak, vena pada daerah fleksi dan vena yang tidak stabil.
j. Mengatur ketepatan aliran dan regulasi infus adalah tanggung jawab perawat. Masalah yang dapat muncul apabila perawat tidak memperhatikan regulasi infus adalah hipervolemia dan hipovolemia. Untuk mengatur tetesan infus, perawat harus mengetahui volume cairan yang akan dimasukkan dan waktu yang dibutuhkan untuk menghabiskan cairan infus. Penghitungan cairan yang sering digunakan adalah penghitungan millimeter perjam (ml/h) dan penghitungan tetes permenit. Perhitungan Tetesan Infus dapat dibagi menjadi 2 yaitu makro dan mikro.
1. Tetesan Makro : 1cc = 15 tetes
Rumus :
Jumlah cairan yang dimasukkan (cc)
Tetesan/menit =
Lamanya infus (jam) x 4

2. Tetesan Mikro : 1cc = 60 tetes
Rumus :
Jumlah cairan yang dimasukkan (cc)
Tetesan/menit =
Lamanya infus (jam)

7. Komplikasi
a. Hematoma
Yakni darah mengempul dalam jaringan tubuh akibat pecahnya pembuluh darah arteri vena atau kapiler, terjadi akibat penekanan yang kurang tepat saat memasukan jarum atau tusukan berulang pada pembuluh darah.
b.Infiltrasi
Yakni masuknya cairan therapy intravena kedalam jaringan sekitar (bukan pembuluh darah), terjadi akibat ujung jarum therapi intravena melawan darah.
c. Tromboplebitis
Tromboflebitis menggambarkan adanya bekuan ditambah peradangan dalam vena yang disebabkan mikropartikel yang terbentuk bila partikel obat tidak larut sempurna selama pencampuran, cairan yang mempunyai pH dan omolaritas tinggi, mikrobakterial yang disebabka pemasangan dan alat alat yang tidak steril dan pemilihan jenis infus juga merupakan penyebab tromboplebitis. Karakteristik tromboflebitis adalah adanya nyeri yang terlokalisasi, kemerahan, rasa hangat, dan pembengkakan di sekitar area insersi atau sepanjang vena, imobilisasi ekstremitas karena adanya rasa tidak nyaman dan pembengkakan, kecepatan aliran yang tersendat, demam, malaise, dan leukositosis.
d. Emboli udara
Yakni masuknya udara kedalam sirkulasim darah,terjadi akibat masuknya udara yang ada dalam cairan therapi intravena kedalam pembuluh darah.(sehat grup,2007)

B. Cara Pemberian Obat
1. Pengertian
Pemberian obat yang aman dan akurat merupakan salah satu tugas terpenting pegrawat. Obat adalah alat utama terapi yang digunakan dokter untuk mengobati klien yang memiliki masalah kesehatan. ( Potter, 2005).
Pemberian obat melalui wadah cairan intravena merupakan cara pemberian obat dengan menambahkan atau memasukkan obat kedalam wadah cairan intra vena yang bertujuan untuk meminimalkan efek samping dan mempertahankan terapeutik dalam darah, (Hidayat, 2006)
2. Syarat pemberian obat
Menurut Potter dan Perry, (2006) ada 6 persyaratan atau hal yang perlu diperhatikan sebelum pemberian obat yaitu dengan prinsip 6 benar :
a. Tepat Obat
Sebelum mempersiapkan obat ketempatnya harus memperhatikan kebenaran obat sebanyak 3 kali yaitu ketika memindahkan obat dari tempat penyimpanan obat, saat obat diprogramkan, dan saat mengembalikan ketempat penyimpanan.
b. Tepat Dosis
Untuk menghindari kesalahan pemberian obat, maka penentuan dosis harusdiperhatikan dengan menggunakan alat standar seperti obat cair harus dilengkapi alat tetes, gelas ukur, spuit atau sendok khusus, alat untuk membelah tablet dan lain-lain sehingga perhitungan obat benar untuk diberikan kepada pasien.
c. Tepat pasien
Obat yang akan diberikan hendaknya benar pada pasien yang diprogramkan dengan cara mengidentifikasi kebenaran obat dengan mencocokkan nama, nomor register, alamat dan program pengobatan pada pasien.
d. Tepat cara pemberian obat
Dalam pemberian obat harus diperhatikan cara pemberian obat secara teliti dan hendaknya benar dalam cara pemberiannya, hal ini untuk menghindari kesalahan yang akan berakibat fatal. Cara pemberian obat harus benar apakah obat harus diberikan secara iv, sc, im, oral, sublingual, atau tropical.
e. Tepat waktu
Pemberian obat harus benar-benar sesuai dengan waktu yang di programkan , karena berhubungan dengan kerja obat yang dapat menimbulkan efek terapi dari obat.
f. Tepat pendokumentasian.
Setelah obat itu diberikan, harus didokumentasikan, dosis, rute, waktu dan oleh siapa obat itu diberikan. Bila pasien menolak meminum obatnya, atau obat itu tidak dapat diminum, harus dicatat alasannya dan dilaporkan.
3. Pengertian injeksi
Injeksi adalah sediaan streil berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lender injeksi. Injeksi dibuat dengan melarutkan, mengemulsikan atau mensuspensikan sejumlah obat ke dalam sejumlah pelarut dan disisipkan dalam wadah takaran tunggal atau ganda. (Informasi obat, 2009)
4. Persiapan pemberian obat melalui intravena (IV)
a. Persiapan alat
1) Spuit dan jarum steril dalam tempatnya
2) Obat-obatan yang diperlukan
3) Nirbekken / bengkok
4) Kapas alcohol dalam tempatnya
5) Perlak dan alasnya
b. Persiapan pasien
pasien diberi penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan
5. Prosedur kerja pemberian obat melaui iv
1) Cuci tangan
2) Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
3) Periksa identitas pasien dan ambil obat kemudian masukkan kedalam sepuit
4) Cari tempat penyuntikan obat pada bagian karet pada selang infuse.
5) Lakukan dis infeksi dengan kapas alcohol dan stop aliran infus
6) Lakukan penyuntikan dengan memasukkan jarum spuit hingga menembus bagian tengah dan masukan obat perlahan – lahan keselang intra vena
7) Setelah selesai tarik spuit
8) Periksa kecepatan infuse dan observasi kecepatan obat
9) Cuci tanggan
10) Catat obat yang telah dibetrikan dan dosisnya, (Depkes RI, 2005)
6. Obat – obatan yang bisa di berikan melalui IV.
Jenis obat – obatan yang bisa di berikan melalui antara lain seperti: Golongan anti biotic ( Ampicicilin, amoxcicilin, clorampenicol, dll) ,anti diuretic (furosemid, lasix dll) anti histamin atau setingkatnya,
(Adrenalin, dexamethasone ,dypenhydramin). Karena kadar puncak obat dalam darah perlu segera dicapai, sehingga diberikan melalui injeksi bolus (suntikan langsung ke pembuluh balik/vena). Peningkatan cepat konsentrasi obat dalam darah tercapai. Misalnya pada orang yang mengalami hipoglikemia berat dan mengancam nyawa, pada penderita diabetes mellitus. Alasan ini juga sering digunakan untuk pemberian antibiotika melalui infus/suntikan, namun perlu diingat bahwa banyak antibiotika memiliki bioavalaibilitas oral yang baik, dan mampu mencapai kadar adekuat dalam darah untuk membunuh bakteri.
Dalam pemberian antibiotik melalui IV perlu diperhatikan dalam pencampuran serbuk antibiotik tersebut, hal ini untuk menghindari terjadinya komplikasi seperti tromboplebitis karena kepekatan dan tidak tercampurnya obat secara baik. Biasanya untuk mencampur serbuk antibiotik / obat-oabat yang lain yang diberikan secara IV adala cairan aquades dengan perbandingan 4cc larutan aquades berbanding 1 vial antibiotik atau 6cc larutan aquades berbanding 1 vial serbuk antibiotic. (Informasi Obat,2009)
C. Konsep Plebitis
1. Pengertian
Phlebitis merupakan inflamasi vena yang disebabkan baik oleh iritasi kimia maupun mekanik yang sering disebabkan oleh komplikasi dari terapi intravena, Plebitis dikarateristikkan dengan adanya dua atau lebih tanda nyeri, kemerahan, kemerahan, bengkak, indurasi dan terba mengeras di bagian vena yang terpasang kateter intra vena (La Rocca, 1998 ). Plebitis dapat menyebabkan trombus yang selanjutnya menjadi thromboplebitis, perjalanan penyakit ini biasanya jinak, tapi walaupun demikian jika thrombus terlepas dan kemudian diangkut kealiran darah dan masuk jantung maka dapat menimbulkan seperti katup bola yang menyumbat atrioventikular secara mendadak dan menimbulkan kematian (Slyvia, 1995). Hal ini menjadiakan phlebitis sebagai salah satu pemasalahan yang penting untuk dibahas di samping plebitis juga sering ditemukan dalam proses keperawatan ( Jarumi Yati, 2009 ).
2. Penyebab Plebitis
a. Plebitis Kimia
1) pH dan osmolaritas cairan infus yang ekstrem selalu diikuti risiko flebitis tinggi. pH larutan dekstrosa berkisar antara 3 – 5, di mana keasaman diperlukan untuk mencegah karamelisasi dekstrosa selama proses sterilisasi autoklaf, jadi larutan yang mengandung glukosa, asam amino dan lipid yang digunakan dalam nutrisi parenteral bersifat lebih flebitogenik dibandingkan normal saline. Obat suntik yang bisa menyebabkan peradangan vena yang hebat, antara lain kalium klorida, vancomycin, amphotrecin B, cephalosporins, diazepam, midazolam dan banyak obat khemoterapi. Larutan infus dengan osmolaritas > 900 mOsm/L harus diberikan melalui vena sentral.
2) Mikropartikel yang terbentuk bila partikel obat tidak larut sempurna selama pencampuran juga merupakan faktor kontribusi terhadap flebitis. Jadi , kalau diberikan obat intravena masalah bisa diatasi dengan penggunaan filter 1 sampai 5 µm
3) Penempatan kanula pada vena proksimal (kubiti atau lengan bawah) sangat dianjurkan untuk larutan infus dengan osmolaritas > 500 mOsm/L Misalnya Dextrose 5%, NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-Lactate, Dextrose 5%+NaCl 0,9%, produk darah (darah), dan albumin. Hindarkan vena pada punggung tangan jika mungkin, terutama pada pasien usia lanjut, karena akan mengganggu kemandirian lansia.
4) Kateter yang terbuat dari silikon dan poliuretan kurang bersifat iritasi dibanding politetrafluoroetilen (teflon) karena permukaan lebih halus, lebih thermoplastik dan lentur. Risiko tertinggi untuk flebitis dimiliki kateter yang terbuat dari polivinil klorida atau polietilen.
b. Plebitis Mekanis
Flebitis mekanis dikaitkan dengan penempatan kanula. Kanula yang dimasukkan ada daerah lekukan sering menghasilkan flebitis mekanis. Ukuran kanula harus dipilih sesuai dengan ukuran vena dan difiksasi dengan baik.
c. Plebitis Bakterial
Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap flebitis bakteri meliputi:
1) Teknik pencucian tangan yang buruk
2) Kegagalan memeriksa peralatan yang rusak. Pembungkus yang bocor atau robek mengundang bakteri.
3) Teknik aseptik tidak baik
4) Teknik pemasangan kanula yang buruk
5) Kanula dipasang terlalu lama
6) Tempat suntik jarang diinspeksi visual
3. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala phlebitis adalah
a. Nyeri yang terlokalisasi.
b. Pembengkakan.
c. kulit kemerahan timbul dengan cepat di atas vena
d. pada saat diraba terasa hangat
e. panas tubuh cukup tinggi (medicaster,2009)
4. Pencegahan dan mengatasi phlebitis ( Darmawan,2009 )
a. Mencegah flebitis bacterial.
Pedoman ini menekankan kebersihan tangan, teknik aseptik, perawatan daerah infus serta antisepsis kulit. Walaupun lebih disukai sediaan chlorhexidine-2%, tinctura yodium , iodofor atau alkohol 70% juga bisa digunakan.
b. Selalu waspada dan jangan meremehkan teknik aseptik.
Stopcock sekalipun (yang digunakan untuk penyuntikan obat atau pemberian infus IV, dan pengambilan sampel darah) merupakan jalan masuk kuman yang potensial ke dalam tubuh. Pencemaran stopcock lazim dijumpai dan terjadi kira-kira 45 – 50% dalam serangkaian besar kajian.
c. Rotasi kanula
May dkk(2005) melaporkan di mana mengganti tempat (rotasi) kanula ke lengan kontralateral setiap hari pada 15 pasien menyebabkan bebas flebitis. Namun, dalam uji kontrol acak yang dipublikasi baru-baru ini oleh Webster dkk disimpulkan bahwa kateter bisa dibiarkan aman di tempatnya lebih dari 72 jam JIKA tidak ada kontraindikasi. The Centers for Disease Control and Prevention menganjurkan penggantian kateter setiap 72-96 jam untuk membatasi potensi infeksi, namun rekomendasi ini tidak didasarkan atas bukti yang cukup.
d. Aseptic dressing
Dianjurkan aseptic dressing untuk mencegah flebitis. Kasa setril diganti setiap 24 jam.


e. Laju pemberian
Para ahli umumnya sepakat bahwa makin lambat infus larutan hipertonik diberikan makin rendah risiko flebitis. Namun, ada paradigma berbeda untuk pemberian infus obat injeksi dengan osmolaritas tinggi. Osmolaritas boleh mencapai 1000 mOsm/L jika durasi hanya beberapa jam.Durasi sebaiknya kurang dari tiga jam untuk mengurangi waktu kontak campuran yang iritatif dengan dinding vena. Ini membutuhkan kecepatan pemberian tinggi (150 – 330 mL/jam). Vena perifer yang paling besar dan kateter yang sekecil dan sependek mungkin dianjurkan untuk mencapai laju infus yang diinginkan, dengan filter 0.45mm. Kanula harus diangkat bila terlihat tanda dini nyeri atau kemerahan. Infus relatif cepat ini lebih relevan dalam pemberian infus jaga sebagai jalan masuk obat, bukan terapi cairan maintenance atau nutrisi parenteral.
f. Titrable acidity
Titratable acidity dari suatu larutan infus tidak pernah dipertimbangkan dalam kejadian flebitis. Titratable acidity mengukur jumlah alkali yang dibutuhkan untuk menetralkan pH larutan infus. Potensi flebitis dari larutan infus tidak bisa ditaksir hanya berdasarkan pH atau titrable acidity sendiri. Bahkan pada pH 4.0, larutan glukosa 10% jarang menyebabkan perubahan karena titrable acidity nya sangat rendah (0.16 mEq/L).Dengan demikian makin rendah titrable acidity larutan infus makin rendah risiko flebitisnya.
g. Heparin dan hidrokortison
Heparin sodium, bila ditambahkan ke cairan infus sampai kadar akhir 1 unit/mL, mengurangi masalah dan menambah waktu pasang kateter. Risiko flebitis yang berhubungan dengan pemberian cairan tertentu (misal, kalium klorida, lidocaine, dan antimikrobial) juga dapat dikurangi dengan pemberian aditif IV tertentu, seperti hidrokortison. Pada uji klinis dengan pasien penyakit koroner, hidrokortison secara bermakna mengurangi kekerapan flebitis pada vena yg diinfus lidokain, kalium klorida atau antimikrobial . Pada dua uji acak lain, heparin sendiri atau dikombinasi dengan hidrokortison telah mengurangi kekerapan flebitis, tetapi penggunaan heparin pada larutan yang mengandung lipid dapat disertai dengan pembentukan endapan kalsium.
h. In-line filter
In-line filter dapat mengurangi kekerapan flebitis tetapi tidak ada data yang mendukung efektivitasnya dalam mencegah infeksi yang terkait dengan alat intravaskular dan sistem infus
5. Masalah Kejadian Plebitis
a. Akibat phlebitis bagi penderita
Dampak yang terjadi dari infeksi tindakan pemasangan infus (plebitis) bagi pasien merupakan masalah yang serius namun tidak sampai menyebabkan kematian, tetapi banyak dampak yang nyata yaitu tingginya biaya perawatan diakibatkan lamanya perawatan di rumah sakit.

b. Akibat phlebitis bagi masyarakat
Bertambah panjangnya masa rawat penderita , penderita pulang masih menjadi pembawa kuman selama beberapa bulan,daan dapat menularkan kuman pada keluarga maupun masyarakat sekitarnya.

D. Hubungan antara pemasangan terapi intra vena dan pemberian obat dengan kejadian phlebitis.
Plebitis merupakan inflamasi vena yang disebabkan baik oleh iritasi kimia maupun mekanik yang sering disebabkan oleh komplikasi dari terapi intravena. Plebitis dikarakteristikkan dengan adanya dua atau lebih tanda nyeri, kemerahan, bengkak, indurasi dan teraba mengeras di bagian vena yang terpasang kateter intravena (La Rocca, 1998).
Dampak yang terjadi dari infeksi tindakan pemasangan infus (plebitis) merupakan masalah yang serius namun tidak sampai menyebabkan kematian, tetapi banyak dampak yang nyata yaitu tingginya biaya perawatan diakibatkan lamanya perawatan di rumah sakit. Terjadinya angka kejadian plebitis sangat dipengaruhi oleh ketepatan dalam pelaksanaan pemasangan infus. Penelitian Jarumiyati (2009), menunjukkan bahwa ada hubungan antara lama pemasangan kateter intravena dengan kejadian plebitis pada pasien dewasa rawat inap di bangsal menur dan bakung RSUD Wonosari, ini dibuktikan dengan nilai korelasinya 0,007. Begitu juga dengan penelitian Pasaribu, (2006), di Rumah Sakit Haji Medan menyimpulkan bahwa yang paling dominan menimbulkan kejadian phlebitis adalah sikap perawat yang kurang baik pada saat melaksanakan pemasangan infus (OR=2.771).
Selain itu cara pemberian obat melalui iv yang tidak baik atau tidak sesuai SOP juga sangat mempengaruhi angka kejadian plebitis. Hal ini dapat disebabkan oleh tehnik aseptik yang tidak baik saat menyuntikkan obat. Selain itu mikropartikel yang terbentuk bila partikel obat tidak larut sempurna selama pencampuran juga merupakan faktor kontribusi terhadap flebitis.

E. Kerangka Konsep
Berdasarkan uraian diatas yang telah kemukakan sebelumnya maka untuk mengembangkan kerangka pemikiran dalam penelitian ini dimana sebagai variabel dependen adalah kejadian phlebitis dan variabel independen adalah cara pemasangan therapy intravena dan cara penberian obat.di Gambarkan sebagai berikut

F. Hipotesis
Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah
Ha : Ada hubungan antara cara pemasangan therapy intravena dengan kejadian phlebitis di RSUD.M.yunus Bengkulu.
Ha : Ada hubungan antara cara penberian obat dengan kejadian phlebitis di RSUD.M.Yunus Bengkulu.
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian secara deskriktif analitik dengan menggunakan desain kohort yang merupakan rencana penelitian epidemiologis analitis noneksperimental yang didasarkan pada pengamatan sekelompok penduduk tertentu dalam satu jangka waktu tertentu, (Budiarto, Eko. 2003).
Bagan 3.1 Desain penelitian









B. Definisi Operasinal
Tabel 3.1 definisi operasonal
NO Variabel Definisi opersional Alat ukur Cara ukur Hasil ukur Skala ukur
1
a Independen
Cara pemasangan terapi intra vena.
Cara kerja perawat dalam pemasangan infuse.
Check list
Observasi 0. Tidak baik jika nilai <75%
1. Baik jika nilai >75%

Ordinal
b
Cara pemberian obat. Cara pemberian obat dengan cara menambahkan atau memasukkan kedalam wadah cairan intra vena. Check list Observasi 0. Tidak baik jika score < 75%
1. Baik jika score > 75%
Ordinal
2
Dependen
Phlebitis
Infeksi vena baik yang disebabkan oleh iritasi kimia maupun mekanik yang disebabkan oleh komplikasi dari terapi intra vena
Check list
Observasi
0. Phlebitis, jika ditemukan salah satu tanda klinis, seperti bengkak, nyeri, merah, di daerah tempat pemasangan infus, setelah pamasangan infus 1-3 hari.
1. Tidak phlebitis jika tidak ditemukan tanda klinis seperti bengkak, nyeri, merah, di daerah tempat pemasangan infus, setelah pamasangan infus 1-3 hari
Nominal

C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah sebagian dari keseluruhan subjek penelitian yang akan diteliti, (Notoatmojo, 2002). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang di pasang infus di ruang rawat inap melati C2, RSUD. Dr, M. Yunus Bengkulu.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi.(Notoatmojo, 2002). Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian pasien yang di pasang infus yang dihitung dengan rumus.
Z1-α . p . q
n =
(d)2

1,962.0,18.0,82
n=
0,0952

0,56
n=
0,009

n= 62 Responden


Keterangan:
n : Jumlah sampel
Z1-α : Nilai standar normal untuk ,
d : Penyimpangan / resisi = 0,095
q : 1-p
p : Proporsi = 18% di dapat dari angka kejadian plebitis di RSUD purwokerto

D. Tempat Penelitian
Tempat penelitian ini dilakukan di Ruang Melati C2, RSUD, Dr. M. Yunus, Bengkulu.


E. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukukan pada bulan November sampai bulan juli sedangkan pengumpulan data dilakukan pada bulan juni sampai bulan juli 2010

F. Etika Penelitian
Dalam melakukan penelitian, peneliti memandang perlu adanya rekomendasi dari pihak institusi dengan mengajukan permohonan izin kepada instansi tempat penelitian dalam hal ini diajukan kepada Kepala Rumah Sakit atupun Kepala Ruangan yang bersangkutan. Setelah mendapat persetujuan barulah dilakukannya penelitian dengan menekankan masalah etika penelitian meliputi :
1. Informed consent
Lembar persetujuan yang akan diberikan responden yang akan diteliti dan memenuhi kriteria inklusi dan disertai judul penelitian dan manfaat penelitian dan manfaat penalitian.
2. Anonymity (Tanpa Nama)
Untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak mencantumkan nama responden, tetapi lembar tersebut diberikan kode.
3. Confidential (Kerahasiaan)
Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti dan hanya kelompok data tertentu yang dilaporkan hasil penelitian.

G. Pengumpulan, Pengolahan, dan Analisis Data
1. Pengumpulan data
Dalam penelitian ini jenis data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh dengan cara mengobservasi untuk melihat cara pemasangan terapi intravena dan cara pemberian obat dan kejadian plebitis di Ruang Melati C2. RSUD.M.Yunus Bengkulu. Dan data sekunder untuk melihat data tentang kejadian plebitis di ruang Melati C2. RSUD.M.Yunus Bengkulu.



2. Pengolahan data.
Data yang dikumpulkan selanjutnya di olah dengan beberapa tahap yaitu:
a. Pengeditan Data (Editing).
Langkah ini dilakukan peneliti untuk memeriksa kembali kelengkapan data yang diperlukan untuk mencapai tujuan penenelitian dilakukan pengelompokan dan penyusunan data. Pemeriksaan terhadap kelengkapan dan kejelasan jawaban ceklist dan penyesuaian data yang diperoleh dengan kebutuhan penelitian hal ini dilakukan di lapangan sehingga apabila terdapat data yang meragukan ataupun salah maka akan dilakukan tinjauan ulang ke responden.
b. Pengkodean Data (Coding)
Data yang telah didapatkan akan diberi kode sesuai dengan sub variabel yang diteliti agar lebih mudah dalam pengecekan kembali jika terdapat kesalahan.
c. Memberikan Skore (Scoring )
Setelah dilakukan koding data, maka dilakukan pemberian skore pada masing-masing sub variabel dan setelah semua data telah diberi skore data tersebut dijumlahkan.
d. Memproses Data (processing)
Setelah data dikumpukan kemudian diproses dengan computer untuk dianalisis.
e. Pembersihan Data (Cleaning)
Pembersihan data dilakukan untuk mengoreksi jika ada kesalahan dalam memasukan data yaitu dengan melihat distribusi frekuensi dari variabel-variabel yang diteliti.
3. Analisa Data.
Dalam penelitian ini digunakan analisa data univariat dan analisa bivariat.
a. Analisa Univariat.
Analisa univariat adalah seluruh variabel yang akan digunakan dalam analisa ditampilkan dalam distribusi frekuensi, Analisa univariat untuk melihat distribusi frekuensi dari masing-masing variabel dependen dan independen dengan menggunakan rumus sebagai berikut:





Keterangan: P : Jumlah persentase yang dicari
F : Jumlah frekuensi untuk setiap kategori
N : Jumlah populasi
(Arikunto, 1998)
b. Analisa Bivariat.
Analisa bivariat adalah analisa yang digunakan untuk melihat hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen secara bersamaan dengan menggunakan analisa statistic chi - square (X2), dengan derajat kemaknaan (α) 0,05, dan tingkat signifikan 95%. Untuk melihat resiko relatif kejadian plebitis di gunakan Relative Risk (RR) dengan Rumus :

a
a + b
RR=
c
c + d

Dengan hasil hipotesis sebagai berikut :
a. Ha : diterima apabila p < 0,05.
b. Ha : ditolak apabila p > 0,05.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto.1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta. Rineka Cipta.
Budiarto, Eko, 2003. Metodologi Penelitian Kedokteran, Jakarta, EGC
Bauhizem. M, 1995. Ilmu Keperawatan, Jakarta, EGC.
Depkes RI, 2002. Menuju Sehat 2010, Jakarta.
, 2005. Intrumen Evaluasi Penerapan Standar Asuhan Keperawatan di Rumah Sakit. Jakarta
Darmawan Iyan, 2008. Penyebab dan Cara Mengatasi Plebitis. Diakses dari http://www.Iyan@Otsuka.com.id pada tanggal 20 September 2009.
Hastono, 2004. Biostastistik, Jakarta, EGC.
Hidayat. A.A, 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia Aplikasi Konsep Dan Proses Keperawatan. Jakarta. Salemba Medika.
Jarumiati, 2006. Hubungan Lama Pemasangan Kateter Intravena Dengan Kejadian Plebitis Pada Pasien Dewasa Diruang Rawat Inap Bangsal Menur Dan Bakung RSUD, Wonosari. Diakses dari http://www.stikessmart@ymail.com pada tanggal 15 Desember 2009.
Klikharry. 2006. Infeksi-Nosokomial. Diakses dari http://www.wordpress.com pada tanggal 15 desember 2009
Notoatmodjo, 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta. Rineka Cipta.
Perry dan potter, 1999. Keterampilan dan prosedur dasar, Jakarta, EGC.
Potter, P.A. 2004 Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses dan Praktek edisi 4, alih
bahasa Renata Komalasari, Jakarta, EGC
Pujasari Hening, 2002. Angka Kejadian Phlebitis Dan Tingkat Keparahannya Di Ruang Penyakit Dalam RSCM, Jakarta. Diakses dari http://pujasari. Pada tanggal 20 September 2009.