Thursday, 11 June 2015

GAMBARAN KARAKTERISTIK PEKERJA RESIKO KETULIAN PADA PABRIK KELAPA SAWIT UNIT USAHA REJOSARI PTP VII DI KECAMATAN NATAR LAMPUNG SELATAN TAHUN 2010



POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES TANJUNGKARANG
JURUSAN KEPERAWATAN

Karya Tulis Ilmiah,   Maret 2011
Paidi

GAMBARAN KARAKTERISTIK PEKERJA TERHADAP RESIKO  KETULIAN PADA PABRIK KELAPA SAWIT UNIT USAHA REJOSARI PTPN VII DI KECAMATAN NATAR LAMPUNG SELATAN TAHUN 2010

xiv + 53 Halaman, 7 Tabel, 1 Gambar, 7 Lampiran

ABSTRAK

Hasil survey yang dilakukan oleh Hendarmin (2005) Manufacturing Plant Pertamina dan dua pabrik es di Jakarta mendapatkan hasil terdapat gangguan pendengaran pada 50% jumlah karyawan disertai peningkatan ambang dengar sementara sebesar 5-10 dB pada karyawan yang telah bekerja terus-menerus selama 5-10 tahun. Bising industri sudah lama merupakan masalah yang sampai sekarang belum bisa ditanggulangi secara baik sehingga dapat menjadi ancaman serius bagi pendengaran para pekerja, karena dapat menyebabkan kehilangan pendengaran yang sifatnya permanen. Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya gambaran karakteristik pekerja terhadap resiko ketulian pada pabrik kelapa sawit unit usaha Rejosari PTPN VII di Kecamatan Natar Lampung Selatan.

Metode penelitian menggunakan desain diskriptif yaitu teknik pengambilan sampel menggunakan Cluster Random sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah para pekerja yang beresiko mengalami gangguan pendengaran yang berjumlah 34 orang.

Hasil penelitian tentang gambaran karakteristik  pekerja terhadap resiko  ketulian pada pabrik kelapa sawit unit usaha Rejosari PTPN VII di kecamatan Natar Lampung Selatan yang meliputi: pekerja yang terpapar dengan intensitas kebisingan lebih dari 85 dB dan sudah mulai mengalami gangguan pendengaran yakni (41,1%), pekerja dengan masa kerja lebih dari 10 tahun dan sudah mulai mengalami gangguan pendengaran yakni (53%), pekerja yang memiliki umur 41-60 tahun dan sudah mulai mengalami gangguan pendengaran yakni (67,6%), pekerja yang memiliki pendidikan SMA/STM dan sudah mulai mengalami gangguan pendengaran yakni (32,4%), dan pekerja yang sudah mulai mengalami gangguan pendengaran dan pekerja yang memakai APP maupun tidak memakai APP, yakni (38,2%) dan (35,2%).

Peneliti menyarankan khusunya bagi PTPN VII dapat Meningkatkan Upaya K3 (Keselamatan Kesehatan Kerja) dan memfasilitasi setiap karyawan dengan alat pelindung pendengaran (APP), diupayakan bagi pekerja yang masa kerja lebih dari 10 tahun agar di pertimbangkan untuk di mutasi ke tempat yang tidak beresiko ketulian, diupayakan bagi pekerja yang usia kurang dari 40 tahun untuk di berikan pelatihan sebagai regenerasi, dan diberikan reward dan panismen terhadap pekerja yang patuh dan lalai memakai APP.


Daftar Bacaan 10 (2001-2011)

Wednesday, 3 June 2015

HUBUNGAN TEHNIK PEMASANGAN INFUS DAN CARA PEMBERIAN OBAT DENGAN KEJADIAN PLEBITIS

ABSTRAK

Enam puluh persen pasien yang di rawat di Rumah Sakit menggunakan infuse dan rata-rata pasien diberikan obat melalui intravena lewat selang infus. Survey awal di RSUD.M Yunus Bengkulu.dari tanggal 26–29 november dari 25 pasien yang telah dipasang infus terdapat 13 pasien (52%) yang sudah menampakan adanya tanda-tanda plebitis seperti peradangan disekitar tusukan jarum infus, kemerahan dan nyeri di sepanjang vena. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah ada hubungan tehnik pemasangan infus dan cara pemberian obat dengan kejadian phlebitis di ruang melati RSUD.M.Yunus Bengkulu tahun 2010.
Jenis dalam penelitian ini adalah deskriktif analitik  dengan menggunakan desain kohort. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang di pasang infus di melati C2, RSUD. Dr, M. Yunus Bengkulu. Dengan jumlah sampel 62 responden dianalisa dengan univariat menggunakan tabel distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji chi scuare.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, lebih dari separuh (54,8%) tehnik pemasangan  infus tidak baik,  lebih dari separuh (56,5%) cara pemberian obat tidak baik, hampir separuh (46,8%) responden yang dipasang infus mengalami phlebitis, ada hubungan yang bermakna antara tehnik pemasangan infus dengan kejadian plebitis, (p=0,019) dan Tidak ada hubungan yang bermakna antara cara pemberian obat dengan kejadian plebitis, (p=1,000).
Kepada pihak RS diharapkan dapat merevisi dan mensosialisasikan kembali  protaf yang telah ada kepada seluruh perawat seperti menempel didinding atau dengan cara memberikan pelatihan kembali tentang  standar prosedur pemasangan infus dan prosedur pemberian obat kepada perawat, dengan menggunakan standar yang baru demi mengurangi angka kejadian phlebitis.

Kata kunci : phlebitis, tehnik pemasangan infus, cara pemberian obat

FILE LENGKAPNYA DOWNLOAD DI SINI
COVER            : http://adf.ly/10052769/coverdk
BAB1                : http://adf.ly/10052769/bab1
BAB2                : http://adf.ly/10052769/bab2
BAB3                : http://adf.ly/10052769/bab3
BAB4                : http://adf.ly/10052769/bab4
BAB5                : http://adf.ly/10052769/bab5
DAPUS             : http://adf.ly/10052769/dapusdk

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG PENCEGAHAN DENGAN KEJADIAN MALARIA



BAB I

PEDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Malaria ditemukan hampir diseluruh bagian dunia, terutama di negara-negara yang beriklim tropis dan subtropis, seperti beberapa bagian benua afrika dan Asia Tenggara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), memperkirakan saat ini diseluruh dunia sekitar 300 juta sampai 600 juta kasus klinis malaria dijumpai setiap tahun (WHO, 2000) dan penyakit menular melalui faktor nyamuk Anopheles tersebut mampu membunuh anak setiap 20 detiknya dan menjadi penyakit paling mematikan (Muthar, 2003).
Prevalensi malaria di Indonesia adalah 50 per 1000 penduduk (2004) dan ditargetkan turun hingga 5 per 100 penduduk tahun 2010 (Indonesia Sehat 2010). Malaria merupakan penyakit yang terdapat di negara tropis. Setiap 30 detik seorang anak meninggal dunia akibat malaria. Di Indonesia terdapat 310 kabupaten dan kota yang merupakan daerah endemic malaria. Tingginya jumlah kasus malaria akibat lingkungan yang sangat mendukung terjadinya penularan. Seperti lingkungan yang banyak tergenang air kotor dan rumah yang tidak sehat. Kasus yang terakumulasi akibat rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan yang ada. Pada tahun 2006 dan 2007 malaria dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Peningkatan kasus malaria di delapan propinsi, delapan kabupaten yang mencapai 20.331 penduduk, 12 desa dengan kesakitan sejumlah 1.015 dan kemtian 23 orang. Case fatalitty rate sebesar 2,19% (Ferdinand, 2007).
Dari profil kesehatan propinsi Bengkulu tahun 2008 menyatakan bahwa angka kesakitan malaria diukur dengan menggunakan malaria klinis dalam bentuk Annual Malaria Insiden (AMI), artinya indikator ini menyatakan kesakitan berdasarkan gejala klinis bukan berdasarkan pada pemeriksaan laboratorium. Jumlah penderita klinis di propinsi Bengkulu pada tahun 2006 berjumlah 33.413 penderita dan yang positif sebanyak 3.178. Penderita diobati sebanyak 32.062 dan pada tahun 2007 meningkat menjadi 33.450 penderita, dan yang positif sebanyak 7.033. Penderita diobati sebanyak 16.725 penderita.
Tabel 1.1 Jumlah penderita Malaria di Kecamatan dan Puskesmas Kota Bengkulu tahun 2008
NO
Kecamatan
Puskesmas
JumLah Balita
1
2
3
4
1
Gading Cempaka
Jembatan Kecil
Jalan Gedang
Lingkar Barat
Lingkar Timur
272
46
32
11
2
Ratu Agung
Kuala Lempuing
Nusa Indah
Sawah Lebar
8
28
146
3
Ratu Samban
Anggut Atas
221
4
Teluk Segara
Pasar Ikan
Kampung Bali
506
94
5
Sungai Serut
Sukamerindu
21
6
Muara Bangkahulu
Ratu Agung
Beringin Raya
44
19
7
Selebar
Basuki Rahmad
Betungan
228
32
8
Kampung Melayu
Kandang
Padang Serai
43
16

Jumlah
1.767
Sumber : Dinas Kesehatan Kota Bengkulu (2008)


Dari tabel diatas kasus tertinggi Malaria adalah Puskesmas Pasar Ikan Kota Bengkulu dengan jumlah 506 orang. Berdasarkan survey awal yang peneliti lakukan di Puskesmas Pasar Ikan jumlah balita dari bulan januari sampai dengan Desember 2009 berjumlah 1.893 orang balita. Kasus Malaria di Kota Bengkulu dari tahun ke tahun menunjukkan penurunan sedikit, hal ini dapat dilihat dari data sebagai berikut :  Jumlah penderita klinis di propinsi Bengkulu pada tahun 2006 berjumlah 33.413 penderita dan yang positif sebanyak 3.178. Penderita diobati sebanyak 32.062 dan pada tahun 2007 meningkat menjadi 33.450 penderita, dan yang positif sebanyak 7.033. Penderita diobati sebanyak 16.725 penderita.
Dilihat dari hal tersebut, maka upaya pencegahan penyakit malaria ini sangat diperlukan. Upaya pencegahan kejadian kesakitan akan penularan malaria saat ini telah ibagikan 2,5 juta kelambu berinsektisida kepada ibu hamil, anak balita dan penduduk miskin di 45 kabupaten endemis yang sangat membutuhkan (Ferdinand, 2007). Adapun upaya pencegahan penyakit malaria diantaranya adalah menghindari gigitan nymuk malaria, membunuh jentik dan nyamuk malaria dewasa, mengurangi tempat perindukan nyamuk malaria, pemberian obat pencegahan malaria, dan pemberian vaksin malaria (Prabowo, 2007). Sedangkan menurut Haswani (2004), dalam hal pemberantasan malaria dapat dilakukan secara kimiawi dengan menggunakan larvasida, dan secara hayati menggunakan agent biologis seperti predator.
Menjaga lingkungan sekitar rumah menjadi prioritas utama agar kasus ini tidak terjadi lagi. Kebersihan lingkungan rumah merupakan tanggung jawab keluarga khususnya ibu. Dalam kehidupan sehari-hari peran ibu lebih dominan karena lebih sering berinteraksi dengan anggota keluarga dan lingkungan rumah. Peran dan pengetahuan ibu diperlukan untuk menciptakan lingkungan rumah yang bersih dan sehat. Dengan terciptanya lingkungan rumah yang bersih dan sehat akan memutuskan mata rantai kehidupan nyamuk Anopheles, sehingga terbebas dan terhindar dari penyakit malaria (Satari, 2004).
Pengetahuan adalah hasil tahu yang terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui  panca indra yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba, di mana sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2007).
 Upaya penanggulangan malaria bukan saja merupakan tugas dari tenaga kesehatan, tetapi seluruh masyarakat. Ibu yang mempunyai peranan utama dalam penanggulangan malaria pada balita karena ibulah yang paling dekat dengan anak. Jika anak sudah jelas menderita penyakit malaria, perhatian orang tua sangat diperlukan untuk membantu proses penyembuhan pada anak. Keberhasilan seorang ibu mencegah dan mengobati anaknya dari penyakit malaria tergantung dari pengetahuan yang dimiliki ibu (Notoatodjo, 1993).
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk mengambil judul “Hubungan Tingkat  Pengetahuan Ibu Tentang Pencegahan Dengan Kejadian Malaria Di Puskesmas Pasar Ikan Kota Bengkulu Tahun 2009”.




1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penulis merumuskan masalah penelitian yaitu adakah hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang pencegahan dengan kejadian malaria di Puskesmas Pasar Ikan Kota Bengkulu.

1.3  Tujuan Penelitian

1.3.1.  Tujuan Umum
Untuk mengetahui Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Pencegahan dengan Kejadian Malaria di Puskesmas Pasar Ikan Kota Bengkulu.
1.3.2 . Tujuan Khusus
1.3.2.1. Mengetahui gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Pencegahan di Puskesmas Pasar Ikan Kota Bengkulu.
1.3.2.2.  Mengetahui gambaran Kejadian Malaria di Puskesmas Pasar Ikan Kota Bengkulu.
1.3.2.3. Untuk mengetahui Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Pencegahan Dengan Kejadian Malaria di Puskesmas Pasar Ikan Kota Bengkulu.

1.4  Manfaat Penelitian

1.4.1.   Tempat Penelitian (Puskesmas Pasar Ikan Kota Bengkulu)

Hasil penelitian ini dapat dijadikan informasi dan masukan mengenai   Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Pencegahan dengan Kejadian Malaria di Puskesmas Pasar Ikan Kota Bengkulu.
1.4.2.   Bagi Institusi Pendidikan

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan dalam mempelajari Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Pencegahan  dengan Kejadian Malaria di Puskesmas Pasar Ikan Kota Bengkulu.
1.4.3.      Bagi Peneliti Lain

Informasi yang didapat dari peneliti ini berguna sebagai bahan literatur atau referensi bagi peneliti lain yang berminat dalam penelitian tentang Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Pencegahan dengan Kejadian Malaria di Puskesmas Pasar Ikan Kota Bengkulu.
DOWNLOAD FILE LENGKAPNYA DISINI